Tak Sekadar Reuni, Bani Syi’in Hidupkan Kembali Sejarah Keluarga di Pujer

oleh -362 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti Desa Randu Cangkring, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso, Minggu (6/9/2026). Sekitar 100 anggota keluarga besar Bani Syi’in berkumpul dalam sebuah reuni keluarga yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pertemuan lintas generasi tersebut menjadi lebih dari sekadar ajang temu kangen. Momen itu dimanfaatkan untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus mengenalkan sejarah keluarga kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar dan perjalanan para pendahulunya.

Sejak pagi, anggota keluarga yang datang dari berbagai daerah tampak saling bertegur sapa dan berbagi cerita. Kehangatan pertemuan mencerminkan kuatnya ikatan kekeluargaan yang terus dijaga meski terpisah oleh jarak dan kesibukan masing-masing.

Salah satu anggota keluarga Bani Syi’in, M. Nur Hudan, S.Sos., M.Si., yang juga merupakan pejabat di Fakultas Pertanian Universitas Jember, menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Selain menjadi wujud kecintaan kepada Rasulullah SAW, Maulid juga dapat menjadi sarana memperkuat hubungan sosial dan kekeluargaan.

Menurutnya, menggabungkan peringatan Maulid dengan reuni keluarga merupakan cara yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan kepada generasi penerus. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak dan kaum muda tidak hanya mengenal kerabat mereka, tetapi juga memahami perjalanan keluarga yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.

Dalam reuni tersebut, keluarga besar Bani Syi’in turut mengenang sosok Guru Fatma, yang dikenal sebagai salah satu guru ngaji pada masa awal perkembangan pendidikan Islam di wilayah Badean, Bondowoso, pada era Hindia Belanda. Sosok tersebut menjadi bagian penting dari sejarah keluarga yang hingga kini masih dikenang.

Jejak perjuangan Guru Fatma kemudian berlanjut melalui hubungan kekerabatan dengan sejumlah tokoh agama di Bondowoso. Salah satunya adalah KH. Syamsuri yang dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Bondowoso.

Baca Juga :  Bezzecchi Pole Position di Mandalika, Marc Marquez Gagal Tembus Barisan Depan

Bagi keluarga besar Bani Syi’in, mengenalkan sejarah keluarga bukan sekadar mengenang masa lalu. Lebih dari itu, upaya tersebut menjadi cara untuk menanamkan penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu sekaligus menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan.

Melalui kegiatan yang dikemas dalam suasana kekeluargaan dan nuansa religius tersebut, keluarga besar Bani Syi’in berharap silaturahmi tetap terjaga, sejarah keluarga terus dikenang, serta semangat kebersamaan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

“Yang ingin terus kita rawat bukan hanya pertemuannya, tetapi juga persaudaraan, sejarah keluarga, dan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan para pendahulu,” ujar M. Nur Hudan.

Reuni yang dipadukan dengan peringatan Maulid Nabi itu pun menjadi bukti bahwa keluarga besar dapat tetap terhubung, tidak hanya melalui ikatan darah, tetapi juga melalui penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai yang menyatukan mereka.