Tren Lawas Kembali Digemari, Fashion Berputar

oleh -331 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Tren fashion lawas seperti polkadot, Y2K, sepatu balet, atasan renda, rok balon, hingga gaya berlapis kembali diminati. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari siklus fashion yang membuat tren lama berpeluang kembali populer.

Ketua Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), Hany Mustikasari, M.Ds., menjelaskan bahwa tren fashion bergerak dalam siklus mulai dari kemunculan, popularitas, penurunan hingga terlupakan. “Pada siklus normal, tren biasanya kembali populer dalam rentang 15 hingga 30 tahun,” jelas Hany.

Menurutnya, kebangkitan tren lama dipengaruhi nostalgia generasi yang pernah mengalaminya serta rasa penasaran generasi muda. Kondisi tersebut kemudian dibaca industri fashion dengan menghadirkan kembali produk-produk bergaya masa lalu yang disesuaikan dengan selera masa kini.

Hany menilai fenomena ini juga menjadi peluang untuk mendorong fashion berkelanjutan. Salah satunya melalui praktik refashioned, yakni memodifikasi pakaian lama agar kembali relevan sehingga masa pakainya lebih panjang dan limbah fashion dapat ditekan. “Penggunaan kembali produk fashion dari masa lalu dengan beberapa penyesuaian atau penambahan aksesori dapat memperpanjang masa pakainya sekaligus mengurangi limbah fashion,” ujarnya.

Namun, tidak semua tren lama bisa langsung dihidupkan kembali. Hany menyebut desain harus sesuai estetika masa kini, sementara model, warna, bahan, hingga teknik produksi dapat disesuaikan dengan teknologi dan kebutuhan konsumen saat ini. “Karena beberapa tren masa lalu memiliki prosedur penggunaan dan perawatan yang cukup kompleks, harus dilakukan modifikasi agar memenuhi gaya hidup manusia yang cenderung lebih praktis,” tandas Hany.

Fenomena siklus fashion tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pendidikan fashion. Menurut Hany, pelaku industri tidak cukup hanya memiliki kemampuan desain, tetapi juga harus mampu membaca tren, mengembangkan bahan ramah lingkungan, memahami teknologi, serta menangkap kebutuhan pasar.(tok)

Baca Juga :  Dharma Seni Untuk Negeri V, Satu Dekade Sanggar Lidi