KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Sebanyak 470 pasien dugaan keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo telah dipulangkan. Mereka diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatan membaik, sementara 88 korban lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Total korban dugaan keracunan MBG tercatat mencapai 566 orang. Para korban berasal dari santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Putat, Tanggulangin, serta siswa dari 19 sekolah lain di sekitar lokasi.
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan sebagian besar kondisi korban sudah membaik. Sebanyak 470 orang telah dipulangkan atau menjalani rawat jalan.
Sementara itu, 88 korban masih membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Di tengah penanganan korban, Badan Gizi Nasional (BGN) masih menyelidiki penyebab kejadian tersebut. Operasional SPPG Kalitengah, Tanggulangin, yang memasok makanan MBG ke sekolah-sekolah tersebut juga telah dihentikan sementara sejak laporan dugaan keracunan diterima.
BGN Pusat telah menerjunkan tim investigasi untuk mencari penyebab gangguan kesehatan massal tersebut. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan masih berlangsung.
BGN Bantah Ada Belatung
Di tengah penyelidikan itu, BGN juga membantah kabar yang beredar di media sosial mengenai temuan belatung dalam menu MBG.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan tim BGN Jatim bersama Koordinator Wilayah Sidoarjo telah melakukan penelusuran awal di lapangan. Hasil pemeriksaan, kata dia, tidak menemukan belatung seperti yang disebut dalam kabar viral.
“Terkait yang viral di media sosial katanya ada belatung, itu tidak ada. Tidak benar,” kata Teguh dalam keterangannya yang dikutip, Kamis (3/9/2026).
Namun, bantahan mengenai belatung tersebut tidak serta-merta menjawab penyebab dugaan keracunan. BGN masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan sumber gangguan kesehatan yang dialami ratusan penerima MBG.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan penanganan korban menjadi perhatian utama. BGN memastikan biaya perawatan medis korban ditanggung, baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
“Hasilnya nanti akan kita umumkan apa yang menyebabkan terjadinya keracunan,” ujar Ketut.
SPPG Kalitengah sebelumnya melayani sekitar 2.800 porsi MBG per hari. Dapur tersebut mulai beroperasi pada April 2026 dan memasok makanan untuk dua sekolah di lingkungan pondok pesantren serta 19 sekolah swasta dan TK di sekitarnya.
Sambil menunggu hasil investigasi, petugas masih melakukan pemantauan terhadap kondisi para korban. Evaluasi operasional SPPG juga akan dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi. (cit)
