KILASJATIM.COM, Surabaya – Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Dr. dr. Bastiana Bermawi, Sp.PK., mengedukasi santri Pondok Pesantren KHA Wahid Hasyim, Bangil, Pasuruan, tentang pencegahan dan deteksi dini tuberkulosis (TB). Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk: Transformasi Literasi Kesehatan Berbasis Support Group dan Optimalisasi Skrining Anamnestik TB Paru tersebut menyasar santri yang hidup dalam lingkungan komunal dengan intensitas interaksi tinggi.
Edukasi dilakukan secara partisipatif melalui focus group discussion (FGD). Santri diajak memahami gejala, penularan, pencegahan, serta faktor risiko TB. Tim juga mengenalkan skrining awal berbasis anamnesis dengan menggali keluhan dan riwayat risiko sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Dr. dr. Bastiana Bermawi, Sp.PK., mengatakan santri perlu memiliki kemampuan dasar mengenali gejala dan faktor risiko TB agar dapat meningkatkan kewaspadaan kesehatan di lingkungan pesantren. “Santri dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar untuk mengenali gejala serta faktor risiko TB melalui anamnesis, sehingga dapat turut berperan dalam meningkatkan kewaspadaan kesehatan di lingkungan pesantren,” papar Bastiana.
Selain skrining, pendekatan support group diterapkan untuk mendorong santri saling berbagi informasi dan mengingatkan pentingnya perilaku hidup sehat. Model tersebut diharapkan membangun kesadaran kolektif dalam mencegah penularan TB.
Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi Unusa dalam mendukung pengendalian TB melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Lingkungan pesantren dinilai menjadi salah satu komunitas penting yang perlu mendapat penguatan literasi kesehatan dan deteksi dini secara berkelanjutan.(tok)
