KILASJATIM.COM, Surabaya – Universitas Kristen Petra (UK Petra) bersama Karang Taruna Kelurahan Putat Jaya menghidupkan kembali seni tradisional di kawasan eks-lokalisasi Dolly melalui Pekan Budaya Ruwat Rawat. Malam puncak festival digelar di Pasar Burung eks-Lokalisasi Dolly.
Program yang didukung Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) tersebut memadukan ludruk dan karawitan dengan film dokumenter, video mapping, serta kreasi batik lokal.
Ketua tim PISN UK Petra, Dr. Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom., mengatakan program tersebut berangkat dari upaya menghidupkan kembali potensi seni Putat Jaya sekaligus menyiapkan generasi muda sebagai penerusnya. “Berawal dari kerinduan akan potensi seni Putat Jaya masa lalu, seperti seniman ludruk dan karawitan. Kami berinisiatif melakukan pembibitan generasi muda melalui pelatihan hingga festival seni agar potensi positif di Dolly ini tidak punah,” terang Aniendya.
Sebanyak 25 anak dan remaja dari Putat Jaya dan sekitarnya mengikuti pelatihan ludruk dan karawitan secara rutin sejak Mei 2026. Pelatihan dipimpin seniman senior Slamet Raharjo. “Penting bagi para anak muda mengenal budaya Jawi dan melestarikannya, sebelum diakui sebagai warisan budaya negara lain,” ujar Slamet.
Ketua Karang Taruna Kelurahan Putat Jaya, M. Hafidz, menilai program tersebut membuka ruang bagi anak muda untuk mengembangkan bakat seni yang selama ini belum tersalurkan. “Kami sangat mendukung kegiatan ini. Kami harus sabar mencari bibit lokal berbakat yang ternyata punya minat tetapi selama ini belum memiliki wadah penyaluran,” kata Hafidz.
Selain pertunjukan, program melibatkan kelompok usaha batik lokal Genarta untuk menyediakan busana karawitan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pelestarian budaya dengan pemberdayaan ekonomi warga.
Aniendya berharap kegiatan ini mampu mengubah stigma kawasan eks-Dolly melalui potensi budaya dan kreativitas masyarakat. “Harapan kami, publik lebih mengenal Dolly sebagai wilayah berpotensi positif dan kreatif. Karang Taruna adalah mitra strategis yang kami yakini mampu menerima tongkat estafet pelestarian budaya ini,” pungkas Aniendya.(tok)
