KILASJATIM. COM, Surabaya – PT Esensi Solusi Buana (ESB) – penyedia ekosistem teknologi F&B terintegrasi terbesar di Indonesia peraih Forbes Asia 100 to Watch 2025 mencatat data Center per Agustus 2026, basis merchant F&B di Surabaya tumbuh 32% dalam setahun terakhir. Yang lebih menarik, transaksi dari merchant yang sudah eksis (same-store) juga naik hampir 10%, dengan 78% dari seluruh transaksi kini dilakukan secara non-tunai.
Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,87% yang tercatat melampaui angka pertumbuhan rata-rata Jawa Timur maupun nasional pada 2025, serta PDRB Kota Surabaya yang telah mencapai Rp830,54 triliun berdasarkan data BPS Kota Surabaya (27 Februari 2026), industri makanan dan minuman (F&B) di Kota Surabaya menunjukkan sinyal kematangan yang sejalan: yaitu transaksi digital menjadi standar baru dalam operasional bisnis kuliner.
Namun dibalik angka pertumbuhan tersebut, pelaku F&B di Surabaya menghadapi tantangan persaingan yang kian ketat akibat lonjakan jumlah pemain baru. Kondisi ini diperparah oleh tekanan biaya di berbagai lini, mulai dari kenaikan harga bahan baku akibat rantai pasok, biaya sewa tempat, tarif listrik, hingga kenaikan Upah Minimum Kota (UMK). Selain itu, tingginya angka turnover karyawan kerap memicu ketidakstabilan kualitas rasa dan layanan. Banyak pula bisnis yang lahir hanya mengandalkan tren viral sesaat tanpa fondasi operasional yang kuat.
Agung Haryadi, F&B Educator & Management Consultant, menilai kondisi pasar Surabaya saat ini sebagai bentuk seleksi alam yang wajar terjadi di kota metropolitan yang tumbuh cepat.
“Pasar F&B Surabaya sekarang ini keras. Nyaris tiap ruko kosong jadi kafe baru, tapi jumlah konsumennya tidak bertambah secepat itu. Yang bertahan hanya yang punya diferensiasi jelas dan efisien secara operasional, bukan yang sekadar viral sesaat. Justru di situasi seperti ini, pelaku usaha butuh alat bantu yang dapat memberikan rekomendasi konkret berbasis data, bukan hanya insting,” jelasnya.
Di tengah kompetisi tersebut, tekanan biaya operasional dari platform pengiriman daring menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pelaku F&B. Meski regulasi pemangkasan komisi aplikator ojek online menjadi maksimal 8% per 1 Juli 2026 (Perpres No. 27 Tahun 2026) memberikan sedikit kelonggaran, komisi platform ojol tetap jauh lebih tinggi dibandingkan ESB Order yang hanya mengenakan komisi 5% — dengan tiga moda layanan yang fleksibel: dine in, takeaway, dan delivery. Di tengah kondisi ekonomi yang menekan margin dari segala arah, selisih komisi ini bukan angka kecil karena dapat langsung berdampak pada profitabilitas setiap transaksi delivery yang masuk.
Gunawan, CEO & Co-Founder ESB mengatakan, data pertumbuhan transaksi yang dicatat memang positif, tapi melihat langsung tekanan operasional yang dihadapi pelaku F&B di lapangan. Ketika harga bahan baku naik dan margin semakin tipis, setiap persen biaya yang bisa dihemat jadi keputusan strategis.
“ESB menghadirkan ESB Order bukan hanya sebagai kanal pemesanan, tapi juga sebagai metode untuk meningkatkan belanja konsumen yang dampaknya langsung terasa di bottom line. Selain itu, data transaksinya juga bisa jadi dasar pengambilan keputusan bisnis, baik untuk hari ini maupun esok,” ujar Gunawan seraya menambahkan, pihaknha juga terus memperkuat ESB OLIN agar datanya bisa bicara soal berbagai cara meningkatkan penjualan dan efisiensi bisnis.
“Begitu juga dengan ESB Order yang dirancang sebagai wujud kepedulian ESB terhadap bisnis merchant, agar saat calon pelanggan mencari restoran di Google, mereka bisa langsung klik dan pesan tanpa hambatan, ” imbuhnya.
Berangkat dari realitas lapangan inilah, ESB menggelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Surabaya. Forum ini mempertemukan pebisnis kuliner lokal dengan para pakar untuk membedah strategi pertumbuhan, sekaligus mengenalkan solusi teknologi ESB yang relevan:
OLIN by ESB: Asisten kecerdasan buatan kuliner yang menyajikan custom data insights berbasis transaksi spesifik tiap merchant. Fitur ini membantu memetakan menu potensial untuk program promo secara presisi, sehingga pelaku F&B dapat membangun strategi pertumbuhan yang terukur dan berkelanjutan.
ESB Order: Solusi online ordering terintegrasi yang menjembatani tahap discovery langsung ke transaksi. Ketika calon konsumen menemukan restoran via pencarian online, mereka bisa langsung memesan tanpa jeda perpindahan aplikasi, mengonversi pencarian menjadi penjualan nyata.
Teofilus Hartono, Co-Founder & CEO Mr Suprek, membagikan pengalamannya dalam mempertahankan belasan gerai ayam geprek miliknya.
“Viral itu penting untuk membangkitkan curiosity. Namun, yang membuat pelanggan kembali dan bisnis bertahan adalah sistem yang kuat di belakangnya. Saat turnover karyawan tinggi, SOP tetap berjalan karena semua tercatat rapi di sistem ESB. Inilah kunci pertumbuhan kami,” tutupnya.
Tantangan operasional di lapangan ini diakui oleh Andre Setiawan, Owner Guri Ramen Surabaya & Malang.
“Sebelum pakai ESB, saya harus mengelola data dari beberapa sistem yang berbeda — kasir, stok, laporan penjualan — semuanya terpisah. Setiap hari ada pekerjaan tambahan untuk menggabungkan data itu secara manual, dan tetap saja ada risiko kesalahan. Sejak beralih ke ESB, semua terintegrasi dalam satu ekosistem. Tidak ada lagi double input, tidak ada lagi cek ulang antar sistem. Data kasir langsung terhubung ke stok, laporan langsung tersedia real-time. Untuk bisnis yang punya outlet di lebih dari satu kota seperti Guri Ramen, ini bukan sekadar soal efisiensi waktu — ini soal ketenangan pikiran dan kontrol penuh atas bisnis dari mana saja,” paparnya.
Sinergi Ekosistem: Kolaborasi untuk Ketangguhan Bisnis
Kopdar Racik Bisnis F&B merupakan inisiatif edukasi berkelanjutan dari ESB sebagai bentuk komitmen jangka panjang dalam merangkul komunitas pengusaha kuliner di tanah air.
Dirancang khusus sebagai forum diskusi, sesi mentoring, dan bedah studi kasus bagi para owner, founder, serta decision maker, Surabaya terpilih sebagai satu dari 10 kota penyelenggara.
Guna membantu lebih banyak pelaku usaha F&B ‘naik kelas’ melalui pemanfaatan teknologi tepat guna, program inklusif ini juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas bisnis lokal seperti PKID, TDA, serta asosiasi kuliner di berbagai daerah, dengan didukung penuh oleh para mitra strategis utama:
BCA (Official Payment Partner) – memperkuat fundamental keuangan bisnis melalui ekosistem pembayaran OCEAN by BCA. Integrasi EDC BCA dan QRIS langsung dengan sistem kasir ESB POS memungkinkan setiap transaksi berjalan mulus, aman, dan tercatat akurat untuk keperluan rekonsiliasi keuangan.
IWARE – menyediakan perangkat keras (hardware) terkini yang dirancang khusus untuk mengimbangi kecepatan ekosistem ESB. Dengan infrastruktur yang andal, IWARE memastikan strategi Lean Operations tetap konsisten dari meja kasir hingga ke dapur, tanpa hambatan teknis.
“Surabaya membuktikan bahwa kota yang ekonominya tumbuh cepat butuh pelaku bisnis kuliner yang tumbuh secara sehat juga, bukan sekadar ramai, tetapi rapi. Kami di ESB tidak ingin sekadar jadi penyedia alat kasir, kami ingin jadi partner yang memastikan setiap transaksi hari ini menjadi data yang berguna untuk keputusan bisnis esok hari. Itu komitmen kami untuk pelaku F&B Surabaya, dan kota-kota lain yang akan kami kunjungi berikutnya,” pungkas Gunawan. (nov)
