Unusa Dorong Diagnosis TB Berbasis AI dan Genomik

oleh -363 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mendorong pengembangan diagnosis tuberkulosis (TB) yang lebih cepat, presisi, dan mudah diakses melalui pemanfaatan artificial intelligence (AI), biomarker, hingga teknologi genomik.

Gagasan tersebut disampaikan Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K) dalam International Guest Lecture: Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment yang digelar Unusa, Senin (10/8/2026). Forum tersebut membahas perkembangan riset TB, mulai dari deteksi dini, resistansi obat hingga terapi presisi.

Prof. Soedarsono mengatakan, beban TB global masih tinggi. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025, pada 2024 diperkirakan terdapat 10,6 juta kasus TB dengan 1,3 juta kematian. Indonesia menyumbang sekitar 1,08 juta kasus atau sekitar 10 persen kasus TB dunia. “Karena itu, eliminasi TB membutuhkan perubahan paradigma, bukan sekadar inovasi yang bersifat inkremental,” terang Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K), dalam paparannya.

Salah satu arah perubahan adalah menggeser deteksi dari passive case finding menuju skrining proaktif berbasis risiko. AI juga mulai dimanfaatkan untuk menganalisis foto toraks digital sehingga dapat membantu menentukan pasien yang membutuhkan pemeriksaan molekuler lebih lanjut.

Diagnosis TB juga tidak lagi hanya mengandalkan sputum. Riset kini mengembangkan penggunaan urine, darah, tongue swab, aerosol pernapasan, serta biomarker respons tubuh. Pendekatan tersebut dinilai penting bagi pasien yang kesulitan menghasilkan sputum.

Perkembangan riset juga mengarah pada pemanfaatan transcriptomic signatures, proteomik, metabolomik, cytokine panels, dan immune signatures untuk membantu membedakan infeksi, penyakit subklinis, hingga TB aktif sekaligus memprediksi perkembangan penyakit dan respons terapi.

Di sisi pengobatan, Prof. Soedarsono menekankan pentingnya precision medicine. Respons pasien terhadap terapi dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari beban bakteri, resistansi obat, diabetes, HIV, fungsi organ, interaksi obat hingga faktor genetik. “Pasien TB bukanlah kelompok yang homogen. Karena itu, arah riset masa depan adalah memberikan obat yang tepat kepada pasien yang tepat, dengan dosis dan durasi yang tepat,” lanjut Prof. Soedarsono.

Baca Juga :  Kajati Jawa Timur Serukan Pentingnya Konservasi Telaga Ngebel

Untuk menghadapi resistansi obat, pengembangan rapid molecular assays, targeted sequencing, next-generation sequencing, dan whole-genome sequencing membuka peluang identifikasi profil resistansi secara lebih cepat sehingga terapi efektif dapat diberikan lebih dini.

Dalam konteks Unusa, perkembangan tersebut dinilai strategis bagi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Pulmonologi. Forum internasional itu menjadi ruang bagi dosen, dokter, dan residen untuk memperkuat kompetensi sekaligus membuka peluang riset yang relevan dengan persoalan TB di Indonesia.

Prof. Soedarsono menegaskan, keberhasilan inovasi kesehatan tidak cukup diukur dari kecanggihan teknologi. “Ukuran keberhasilan inovasi kesehatan pada akhirnya adalah seberapa besar dampaknya bagi masyarakat. Inovasi harus semakin mudah diakses, akurat, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi pengendalian TB,” pungkas Prof. Soedarsono.(tok)