Dari Konsolidasi hingga Ekonomi, PCNU Bondowoso Bidik Perubahan Nyata untuk Warga

oleh -320 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Kepengurusan baru Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso periode 2026–2031 resmi mengambil peran. Sebanyak 46 pengurus dilantik dalam prosesi yang digelar di Pondok Pesantren Darul Falah, Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee, Sabtu (8/8/2026).

Pelantikan tersebut menjadi awal bagi PCNU Bondowoso untuk menata kekuatan organisasi sekaligus memperluas kontribusi di tengah masyarakat. Lima tahun ke depan, konsolidasi internal, penguatan lembaga hingga pemberdayaan ekonomi warga menjadi sejumlah agenda yang mendapat perhatian.

Prosesi pelantikan disaksikan langsung Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Wakil Ketua PBNU Amin Said Husni, Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i, Sekretaris Daerah Kabupaten Bondowoso Fathur Rozi, Kapolres Bondowoso serta Ketua DPRD Bondowoso H. Ahmad Dafir.

Kepengurusan baru dipimpin Ketua Tanfidziyah Dr. H. Moh. Syaeful Bahar, M.Si., bersama Rais Syuriah KH Abdul Qadir Syam.

Kehadiran pimpinan PBNU dalam pelantikan tersebut sekaligus menjadi penanda pentingnya penguatan organisasi di tingkat daerah. PCNU Bondowoso diharapkan mampu bergerak lebih luas, tidak hanya menjalankan agenda internal, tetapi juga hadir menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Gus Yahya menyampaikan optimismenya terhadap kepengurusan baru tersebut. Menurutnya, para pengurus yang dilantik memiliki pengalaman dan rekam jejak pengabdian yang dapat menjadi modal dalam menjalankan organisasi.

“Saya optimis PCNU Bondowoso,” tegas Gus Yahya.

Ia juga menitipkan pesan agar kepengurusan baru mampu membangun konsolidasi semesta. Konsep tersebut diarahkan untuk memperkuat hubungan antara berbagai elemen masyarakat sehingga potensi yang ada dapat disatukan dan bergerak dalam kepentingan bersama.

Bagi PCNU Bondowoso, pesan tersebut menjadi tantangan sekaligus pijakan untuk menyusun program lima tahun ke depan.

Ketua PCNU Bondowoso Dr. H. Moh. Syaeful Bahar mengatakan, program organisasi tetap akan berpijak pada nilai-nilai serta tradisi perjuangan para kiai. Namun, nilai tersebut harus diwujudkan melalui program yang konkret, terarah dan memiliki target yang jelas.

Baca Juga :  Bantuan Kemanusiaan dari Bondowoso Kembali Disalurkan untuk Korban Bencana di Sumatera

Ia menyebut PCNU Bondowoso memiliki modal besar melalui berbagai lembaga yang selama ini bergerak di bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan hingga kebencanaan.

Potensi tersebut, kata Syaeful Bahar, perlu disatukan melalui penguatan internal agar seluruh perangkat organisasi dapat bergerak lebih efektif.

“Yang terpenting hari ini saya kira penguatan di internal,” ujarnya.

Memasuki abad kedua perjalanan NU, ia menilai setiap program tidak bisa lagi berjalan secara sporadis. Perencanaan harus disusun berdasarkan skala prioritas dengan sasaran yang terukur sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Salah satu fokus yang akan didorong adalah pemberdayaan ekonomi warga.

Menurut Syaeful Bahar, Bondowoso memiliki potensi ekonomi yang besar. Potensi tersebut perlu diperkuat melalui berbagai program pemberdayaan dan kolaborasi dengan banyak pihak, termasuk pemerintah daerah.

Ia menegaskan, perhatian terhadap masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab NU di Bondowoso.

“Karena ngurus warga NU itu sama dengan ngurus warga Bondowoso,” tegasnya.

Dukungan terhadap penguatan sinergi juga disampaikan Ketua DPRD Bondowoso H. Ahmad Dafir. Ia menilai NU memiliki posisi penting dalam pembangunan daerah, baik melalui peran sosial kemasyarakatan maupun kontribusinya dalam perjalanan sejarah bangsa.

“NU bukan hanya organisasi kemasyarakatan, tetapi juga organisasi kesejarahan yang punya andil besar dalam lahirnya NKRI,” kata Ahmad Dafir bersama Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i.

Ia berharap hubungan antara NU dan pemerintah daerah terus diperkuat untuk mendukung pembangunan Bondowoso. Sinergi tersebut tidak hanya menyasar pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kemaslahatan masyarakat.

Ahmad Dafir juga mendorong keterlibatan seluruh unsur masyarakat dalam membangun daerah tanpa membedakan latar belakang agama maupun ras.

Pelantikan 46 pengurus PCNU Bondowoso itu berlangsung semarak. Sekitar 1.200 warga jam’iyah NU dari berbagai wilayah turut hadir memberikan dukungan terhadap kepengurusan baru.

Baca Juga :  KTM dan Indramukti Segara Serahkan Bantuan Face Shield Mask untuk Tenaga Medis

Dengan resmi dikukuhkannya jajaran periode 2026–2031, PCNU Bondowoso kini menghadapi pekerjaan besar. Konsolidasi organisasi, penguatan lembaga, pemberdayaan ekonomi dan perluasan sinergi menjadi pekerjaan rumah yang harus diterjemahkan ke dalam program nyata.

Lima tahun ke depan akan menjadi momentum pembuktian bahwa nilai perjuangan para kiai tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi, tetapi juga mampu diwujudkan dalam kerja nyata yang memberi manfaat bagi warga Bondowoso. (wan)