Tak Lagi Menikmati Elpiji Subsidi, Warga Lumajang Beralih Menggunakan Jargas

oleh -102 Dilihat
Ernawati, pelanggan jaras di Lumajang merasa nyaman dan aman menggunakan gas bumi. (kilasjatim.com/nova)

KILASJATIM. COM, Lumajang – Selama puluhan tahun merasakan dan meniikmati subsidi elpiji tabung melon 3 Kg, kini sebagian warga di Kabupaten Lumajang sudah mandiri dengan beralih menggunakan  gas bumi (jaringan gas) .

Sejak dilakukan pembangunan jawargaoleh PT Peetamjna Gas Negara (PGN) di Kabupaten lumajang 2022, satu tahun kemudian warga  sekitar yang ada di Kecamatan Pronojiwo menikmati layanam tersebut  dari menggunakan subsidi  tabung elpiji 3Kg , beralih ke jargas.

Sebagaimana disampaikan  Ernawati, warga RT 1/RW 8, Desa Melawang, Kecamatan Klakah,  mulai menggunakan gas bumi sejak 2023. Sebelumnya, ia kerap mengalami kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram, terutama ketika stok langka atau pada momen-momen tertentu seperti menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Sebelumnya pakai tabung melon subsidi, namun sering sekali kehabisan gas pas masak. Terutama sata ramadan malam-malam mau menyiapkan sahur ternytaa tabungnya kosong .  Kalau beli juga jaraknya lumayan jauh karena harus ke SPBU yang jaraknya lumayan jauh,” ujar Ernawati di Lumajang, Senin (3/8/2026).

Selain jarak yang menjadi kendala, kelangkaan tabung elpiji  3 kg  di wilayahnya sering mengalami kelangkaan. Pernah seharian baru bisa mendapat dengan cara antri.

Kondisi tersebut berbalik, sejak menggunakan gas bumi, aktivitas memasak menjadi jauh lebih mudah dan tidak harus antri untuk setiap kali kehabisan atau elpiji di rumah habis.

“Saya sudah tidak lagi direpotkan mencari tabung gas ataupun mengangkat tabung elpiji ketika habis. Alhamdulillah, sejak pakai gas bumi manfaatnya banyak. Tinggal tekan kompor langsung menyala,” ujarnya panjang  lebar.

Sehari-harinya Ernawati berjualan lalapan, gorengan, dan minuman dengan biaya  pengeluaran untuk gas juga relatif terjangkau. Tagihan bulanannya bergantung pada intensitas pemakaian, berkisar antara Rp38 ribu hingga Rp56 ribu, bahkan bisa lebih rendah saat penggunaan sedikit.

“Sewaktu saya masih menggunakan elpiji tabung subsidi 3 kg, menghabiskan sekitar Rp 40 rb untuk. pemakaian 2 tabung, satu bulan bisa habiskan 3-4 tabung atau sebesar Rp 100rb. Itupun kalau ada stoknya. Beda dengan sekarang,  saya belinya secara mandiri dengan harga terjangkau dan aman juga  digunakan sehari- hari, ” urainya.

Baca Juga :  Pertama di Asia Tenggara,Fasilitas Nathabumi Milik SIG Sukses Musnahkan 103 Ton Bahan Perusak Ozon

Menurut Ernawati, menggunakan jargas tidak ada kendala, karena sebelummya sudah dilakukan sosialisasi oleh pihak PGN, demikian pula cara pembayarannya bisa lewat transfer, pakai aplikasi atau di minimarket.

“Gampang bayarnya juga saya tidak ada rasa  was was karena aman, kalau ada gangguan tinggal ke layanan pengaduan, ” imbuh Ernawati.

Susiana dan Sultan pelanggan yang ikut menikmati jangas di wilayah Kabupaten Lumajang Jawa Timur. (kilasjatim.com./nova) 

Pengalaman serupa dirasakan Susiana. Ia memasang jargas pada 2023 setelah mendapat tawaran dari ketua RT. Alasannya sama, stok LPG 3 kg sering kosong saat menjelang Lebaran.

“Sekarang pakai gas bumi lebih enak karena tidak ribet, apinya juga lebih besar,” ujar Susiana didampingi saudarbaya, Sultan yang kini juga menjadi pelanggan Jargas .

Sultan tertarik saat saudaranya mendapat tawaran dari ketua RT untuk penyambungan jargas. Alasannya stok elpiji tabung sering kosong dan dirimya berminat pasang sambungan

“Hanya saja dirinya sempat tidak mendapatkan jatah alokasi pemasangan gas bumi di tahun 2023 karena saat itu domisili saya  di luar daerah rencana alokasi pemasangan gas bumi, setelah saya pindah domisili., akhirnya rumah saya terpasang jargas alhamdulillah  banyak kemudahan karena tidak harus beli atau hanti tabung lagi,” ujar Sultan yang mengaku pengeluarnnya untuk bayar jargas hanya sekitar Rp21 ribu sampai Rp27 ribu per bulan.

Terpisah, Area Head PGN Pasuruan, Mochamad Arif, menjelaskan pengembangan jaringan gas di area Pasuruan yang meliputi Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Probolinggo dan Kota Probolinggo serta Kabupaten Lumajang, terakhir dilakukan melalui program APBN pada 2023. Hingga kini belum ada tambahan pembangunan jaringan baru.

Tingginya kesadaran masyarakat beralih ke gas bumi menjadi peluang untuk memperluas pemanfaatan jargas, terutama bagi sektor hotel, restoran, kafe (horeka), dan UMKM.

Baca Juga :  PGN Suplai Gas Bumi 2.100 MMBtu ke PT Abadi Agrosindo Persada, Turunkan Emisi Karbon

“Kesadaran masyarakat untuk menggunakan gas bumi yang tidak disubsidi saat ini cukup tinggi. Apalagi ketika muncul pembatasan elpiji 3 kilogram, kami berharap pemanfaatan jargas bisa semakin berkembang, termasuk untuk sektor horeka dan UMKM,” papar  Arif.

Menurut Arif, PGN kini tidak hanya mendorong pemanfaatan jaringan gas untuk rumah tangga, tetapi juga mulai menjajaki perluasan penggunaan gas bumi di sektor hotel, restoran, kafe (horeka), dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Upaya tersebut telah dibahas bersama Pemerintah Kabupaten Lumajang sebagai langkah memperluas pemanfaatan energi gas bumi di daerah.

Ia mengakui pengembangan jargas untuk sektor horeka di Lumajang masih menghadapi tantangan karena lokasi pelaku usaha belum seluruhnya berada di kawasan yang telah terjangkau jaringan pipa. Meski demikian, PGN optimistis perluasan pemanfaatan gas bumi dapat menjadi solusi bagi pelaku usaha yang selama ini bergantung pada elpiji, terutama ketika terjadi kelangkaan pasokan.

Untuk memudahkan pelanggan, PGN juga menyediakan layanan pencatatan meter secara mandiri melalui aplikasi PGN Mobile maupun layanan WhatsApp resmi yang informasinya tercantum pada stiker pelanggan.

Dengan kemudahan akses, tarif yang kompetitif, serta pasokan yang lebih terjamin dibandingkan elpiji 3 kilogram yang kerap langka, jaringan gas bumi mulai menjadi pilihan masyarakat Lumajang untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga maupun mendukung aktivitas usaha kecil.

Di Kabupaten Lumajang, kuota awal pemasangan jaringan gas rumah tangga mencapai 4.020 Sambungan Rumah Tangga (SR). Saat ini pelanggan aktif yang masih dikelola PGN sebanyak 2.777 sambungan. Berkurangnya jumlah pelanggan tersebut sebagian besar disebabkan keterlambatan pembayaran yang berujung pada pemutusan sambungan.

“Kami sudah melakukan pendataan dan berdiskusi dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang terkait potensi penambahan pelanggan dari sektor horeka dan UMKM. Dari sisi PGN, kami siap apabila ada pelaku usaha yang ingin beralih menggunakan jaringan gas bumi,” pungkasnya. (nov)