BMKG: El Nino 2026 Menguat, Kemarau Diprediksi Lebih Panjang

oleh -617 Dilihat
Oleh
Redaksi
Editor
BMKG Peringatkan El Nino Kuat, Jawa Berpotensi Kemarau Lebih Kering. (Foto: Ilustrasi/dok kilasjatim.com)

KILASJATIM.COM, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino 2026 telah memasuki kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Kondisi tersebut diperkirakan memicu musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan hasil pemantauan terbaru menunjukkan indeks ENSO telah mencapai +1,59, yang menandakan El Nino berada pada kategori kuat berdasarkan data Mei hingga Juli 2026.

“Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, El Nino saat ini berada pada kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat,” ujar Teuku dalam Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Menurut Teuku, BMKG sebenarnya telah mengingatkan potensi El Nino sejak pertengahan Maret 2026 saat fenomena tersebut masih diproyeksikan berada pada kategori moderat. Selanjutnya, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menetapkan El Nino mulai aktif pada 2 Juni 2026.

BMKG memperkirakan dampak paling terasa terjadi pada Agustus hingga September 2026, ketika curah hujan di sejumlah daerah berada pada kategori rendah hingga sangat rendah. Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan di berbagai wilayah.

Meski demikian, Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober 2026 sehingga pengaruh El Nino terhadap curah hujan akan berangsur melemah.

Fenomena El Nino diperkirakan berlangsung sekitar 9 hingga 12 bulan, atau hingga Mei 2027. Namun, BMKG menegaskan hal itu bukan berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.

“Begitu musim hujan mulai terjadi, pengaruh El Nino di Indonesia tidak lagi signifikan,” kata Teuku.

BMKG mencatat dampak El Nino tidak merata di seluruh Indonesia. Wilayah di selatan garis khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sumatera bagian selatan, diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Baca Juga :  Pemkot Surabaya Usulkan Tambahan Tenaga Pengajar Melalui Seleksi PPPK ke Pemerintah Pusat

Sebaliknya, kawasan pantai barat Sumatera dan Kalimantan bagian utara diprediksi tidak mengalami penurunan curah hujan yang signifikan karena memiliki pola hujan yang berbeda.

Selain meningkatkan risiko kekeringan, El Nino juga berpotensi berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, energi, kesehatan, perikanan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Untuk mengantisipasi dampaknya, BMKG bersama sejumlah kementerian dan lembaga telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, di antaranya operasi modifikasi cuaca guna menjaga ketersediaan air di bendungan serta mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan. (cit)