Bintang Kecil, Kisah Cak Pendek dan Secangkir Kopi Literasi

oleh -315 Dilihat

KILASJATIM. COM, Malang – Tahun 2010, ia membaca berita tentang genosida 1965, pada sebuah media massa. Momen itu menuntunnya mengembara pada bacaan lebih luas. Dari penjaga rental komputer menuju kedai kopi dan buku.

Buku pertamanya Dalih Pembunuhan Masal, Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, karya Jhon Roosa. Buku yang di download dan dicetak sendiri ketika menjaga persewaan komputer. Dan belum tuntas dibaca hingga kini.

Seiring berjalannya waktu, rental mulai ditinggal pelanggan. Ia pun ganti haluan, membuka warung kopi ditepi jalan. Perlahan, ia mulai mengumpulkan buku dan majalah.

Warung kopinya berada di depan ruko Jl. Bendungan Sutami, tidak jauh dari rumah. Sampai 2017 seorang kawan menghibahkan rak buku berikut bukunya. Setelah lolos seleksi PNS diluar pulau. Sejak itu, warung kopi berikut bukunya dijadikan satu, di rumahnya sekarang, Kedai Kopi dan Buku Bintang Kecil.

Rumah ini menjadi oase bagi pencinta buku, baik dalam dan luar kota Malang. Di rumah itu menyediakan bermacam buku bacaan. Dari buku sastra, politik, seni, budaya, novel remaja, buku anak dan masih banyak lagi.

Selain menyediakan baca ditempat. Sambil menikmati secangkir kopi atau teh hangat. Kedai yang menjadi jujugan mahasiswa ini, kerap menjadi ruang diskusi. Mengulas buku maupun situasi politik terkini

“Kedai ini terbuka untuk siapa saja. Mau sekadar ngopi. Membaca buku atau diskusi. Silahkan. Mau membeli buku juga boleh,” kata Hariyono yang akrab dipanggil Cak Pendek, saat dijumpai di rumah nya, Sabtu (1/8/2026).

Tidak heran jika rumah tersebut menjadi “markas” sejumlah komunitas. Seperti Medan Pembatja, Women Ngalam Bergerak, Jagalan dan masih banyak lagi. Masing-masing forum memiliki koordinator sendiri. Ia hanya menyediakan ruang sebagai tempat bertemunya orang-orang yang memiliki minat yang sama.

Baca Juga :  KIPP Kota Malang 2020 Masuk Tahap Presentasi dan Wawancara

Ia mengisahkan nama Bintang Kecil, dipilih karena bintang memiliki makna besar. Sekali pun terlihat kecil di angkasa tapi tetap terlihat kerlipnya. Begitu pula dengan kedai kopi nya, meski kecil cukup dikenal oleh siapa saja.

“Bintang kecil itu seperti saya, imut,” kelakarnya sambil terkekeh.

Hampir bersamaan dengan lahirnya Bintang Kecil, bersama rekan baiknya, mahasiswi asal ibu kota yang kuliah di PTN, mereka mendirikan Sabtu Membaca, perpustakaan jalanan yang berada di Taman Slamet, Jl. Taman Slamet, Klojen, Kota Malang.

Awal melapak, koleksi bukunya belum sebanyak sekarang. Selain koleksi buku pribadi mereka juga membawa majalah lama. Sebelum menetap di Taman Slamet mereka berpindah-pindah dari Taman Malabar dan Merbabu.

Hingga rekannya harus kembali ke ibu kota. Cak Pendek melanjutkan kegiatan perpustakaan jalanan ini sendiri. Membuka lapaknya sejak pukul 09.00-14.00, bahkan bisa lebih. Hingga kumandang Asyar ia baru mengemasi lapaknya. Tidak tega, mengemasi buku jika masih ada bocah-bocah asik membaca dan bermain puzzle.

Menjaga nafas panjang dalam dunia literasi tidak mudah. Seringkali, anak bungsu dari empat saudara ini dihadapkan pada peminjam buku yang hilang jejak. Alias menghilang dengan menggondol sejumlah buku koleksinya. Seperti buku Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer yang dipinjam seorang mahasiswa.

Ada pula yang meminjam buku lantas mengembalikan dalam bentuk rupiah. Setelah bertahun-tahun tidak ada kabar. Paling menjengkelkan ada yang meminjam se kardus buku dan menghilang sampai hari ini. Sebab itu, ia lebih selektif meminjamkan buku. Pada orang yng baru dikenal.

Agustus ini, ruang literasi Bintang Kecil dan Sabtu Membaca genap berusia sembilan tahun. Dengan sejumlah manfaat dan kendala. Adapun masalah yang dihadapi, selain peminjam buku nakal. Yakni, regenerasi.

Baca Juga :  Kota Malang Raih Penghargaan Pembina Proklim Terbaik Nasional

“Sabtu membaca itu sudah menjadi bagian dari Taman Slamet. Saya berharap ada relawan yang rutin membantu. Ada pembaca rutin yang selalu hadir,” ungkapnya.

Yang disampaikan Cak Pendek, cukup beralasan. Satu hari ketika ia ada urusan, lapak bacanya harus libur, sebab tidak ada yang menggantikan. Pekan berikutnya sejumlah pengunjung menanyakan keberadaanya.

Antusias pengunjung membuatnya makin semangat dan yakin. Jika buku sumber informasi yang dicari, sayangnya tidak semua orang berkesempatan bisa membeli buku. Karenanya laki-laki tamatan SMP Muhammadiyah ini mendedikasikan waktunya untuk dunia literasi.

“Saya ingin semua orang bisa baca buku. Agar tidak seperti saya, dulu ingin baca tidak mampu beli dan tidak tahu pinjam kemana. Sekarang akses membaca sudah banyak, mari kita manfaatkan maksimal,” ajaknya. (TQI)