KILASJATIM.COM, Tuban – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen Jawa Timur untuk menjadi provinsi terdepan dalam pelestarian ekosistem mangrove. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang memimpin konservasi mangrove di tingkat dunia.
Komitmen itu disampaikan Khofifah saat membuka Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026 di Pantai Panduri, Tuban.
Festival yang telah memasuki penyelenggaraan satu dekade itu diisi dengan berbagai kegiatan edukatif dan pelestarian lingkungan. Selain pameran konservasi mangrove, acara juga menghadirkan pertunjukan seni budaya, fashion show batik organik berbahan pewarna alami mangrove, hingga aksi penanaman vegetasi pesisir bersama musisi sekaligus pegiat lingkungan Kaka Slank, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, dan ratusan peserta.
Dalam sambutannya, Khofifah mengungkapkan Indonesia memiliki sekitar 3,45 juta hektare kawasan mangrove atau sekitar 23 persen dari total mangrove dunia. Potensi tersebut, menurutnya, harus menjadi modal bagi Indonesia untuk melahirkan berbagai inovasi dan kebijakan konservasi yang dapat menjadi rujukan dunia.
“Indonesia memiliki mangrove terbesar di dunia. Karena itu, Jawa Timur siap menjadi leading province yang mendukung Indonesia menjadi leading country dalam pelestarian mangrove,” ujar Khofifah dalam keterangan resminya, Kamis (30/7/2026).
Di tingkat daerah, Jawa Timur mencatat perkembangan signifikan dalam rehabilitasi kawasan mangrove. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 3438 Tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional, luas mangrove di Jawa Timur meningkat dari 27.221 hektare pada 2021 menjadi 31.067 hektare pada 2025 atau bertambah sekitar 3.846 hektare.
Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan kawasan mangrove terluas di Pulau Jawa dengan kontribusi mencapai 47,85 persen dari total luasan mangrove di pulau tersebut.
Khofifah mengatakan peningkatan itu merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan, hingga masyarakat pesisir melalui berbagai program rehabilitasi dan Gerakan Mangrove Lestari.
Ia menegaskan keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong rehabilitasi berbasis karakteristik ekologi. Selain mangrove, di lokasi tertentu juga ditanam vegetasi asosiasi seperti cemara udang dan pandan laut agar manfaat ekologinya lebih optimal,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga meresmikan Pantai Panduri sebagai destinasi wisata edukasi mangrove. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti bersama jajaran Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Kabupaten Tuban, dan Dinas Kehutanan Jawa Timur.
Sebagai simbol komitmen menjaga lingkungan, para tamu undangan melakukan penanaman 700 bibit cemara udang dan pandan laut serta melepasliarkan 100 ekor burung perkutut.
Festival juga menjadi ajang pemberian penghargaan kepada 21 individu, pemerintah daerah, perusahaan, dan pegiat lingkungan yang dinilai berkontribusi dalam pelestarian mangrove di Jawa Timur.
Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky menilai festival tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir terhadap pentingnya mangrove sebagai pelindung pantai sekaligus penopang ekonomi nelayan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan Dyah Murtiningsih mengapresiasi konsistensi Jawa Timur. Hingga 2026, rehabilitasi mangrove di provinsi ini telah mencapai 1.643 hektare melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.(Den/Fri)
