Hari Anak Nasional 2026, Taufan Ajak Anak Tinggalkan Gawai dan Hidupkan Permainan Tradisional

oleh -392 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Gelak tawa anak-anak memenuhi halaman TK Negeri Pembina Bondowoso, Kamis (23/7/2026). Lompatan di atas kotak engklek, putaran tali, hingga serunya memainkan dakon menjadi pemandangan yang menghidupkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Kabupaten Bondowoso.

Mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” dengan subtema “Ayo Bermain Tanpa Gawai”, kegiatan yang diinisiasi Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Bondowoso bersama Dinas Pendidikan itu menjadi ajakan nyata agar anak-anak kembali akrab dengan permainan tradisional sebagai bagian dari proses belajar dan tumbuh kembang.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto, S.Pd., M.Si., mengatakan permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi sarana pendidikan yang mampu membentuk karakter, kemampuan motorik, hingga kecerdasan sosial anak.

Di tengah semakin tingginya penggunaan gawai pada usia dini, menurutnya anak membutuhkan lebih banyak ruang untuk bergerak, berinteraksi, dan belajar melalui pengalaman langsung.

“Kami ingin anak-anak merasa senang. Sesuai nama kelompok bermainnya, I Am Happy. Anak-anak harus bahagia saat belajar dan bermain,” ujar Taufan.»

Ia menjelaskan, hampir seluruh permainan tradisional memiliki nilai edukatif. Anak tidak hanya bergerak aktif, tetapi juga belajar bekerja sama, berkonsentrasi, memecahkan masalah, serta melatih motorik halus maupun motorik kasar.

Permainan dakon, misalnya, menjadi media belajar berhitung yang menyenangkan. Tanpa disadari, anak-anak belajar mengenal angka dan berhitung melalui aktivitas memasukkan biji-bijian ke setiap lubang permainan.

“Saat bermain dakon, anak sebenarnya sedang belajar menghitung satu, dua, tiga dan seterusnya tanpa merasa sedang belajar. Itulah pembelajaran yang menyenangkan,” katanya.»

Begitu pula permainan engklek yang dinilai efektif melatih keseimbangan tubuh, koordinasi gerak, dan keberanian anak. Aktivitas melompat dengan satu kaki dilakukan secara alami karena dibalut suasana bermain yang penuh kegembiraan.

Baca Juga :  SPIL Tanam 1000 Pohon Mangrove: Langkah Nyata Menuju Pelestarian Lingkungan

“Kalau kita hanya menyuruh anak berdiri dengan satu kaki, mungkin mereka cepat bosan. Tetapi ketika bermain engklek, mereka belajar menjaga keseimbangan sambil menikmati permainannya,” jelasnya.»

Taufan menilai metode belajar melalui permainan tradisional lebih mudah membekas dalam ingatan anak dibanding pembelajaran yang hanya bersifat instruktif. Karena itu, permainan warisan budaya tersebut perlu terus dikenalkan di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Pada kesempatan itu, Taufan juga menyampaikan apresiasi kepada JMSI Bondowoso yang telah menggagas kegiatan edukatif tersebut sebagai bagian dari peringatan Hari Anak Nasional.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada JMSI yang telah menginisiasi kegiatan ini. Mari kita terus mengajak anak-anak memainkan permainan tradisional karena manfaatnya sangat besar bagi tumbuh kembang mereka,” ungkapnya.»

Tak hanya mengajak anak mengurangi ketergantungan terhadap gawai, Taufan juga mengingatkan pentingnya peran media dalam memberikan perlindungan kepada anak melalui pemberitaan yang ramah anak.

Menurutnya, media memiliki tanggung jawab menjaga identitas, privasi, serta kondisi psikologis anak agar hak-hak mereka tetap terlindungi.(wan)