KILASJATIM.COM, Surabaya – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai merintis program penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Tangguh Bencana. Langkah tersebut diawali melalui Focus Group Discussion (FGD) Kajian UMKM Tangguh yang digelar di Ruang Siaga Kantor BPBD Jawa Timur, Surabaya, Rabu (1/7/2026).
FGD ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Program SIAP SIAGA, organisasi perangkat daerah, akademisi, komunitas, hingga pelaku UMKM dari berbagai daerah di Jawa Timur. Direktur Kesiapsiagaan Pangarso Suryotomo mengikuti kegiatan secara daring, sementara Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto hadir langsung bersama Koordinator Program SIAP SIAGA Jawa Timur Mambaus Su’ud.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan, penguatan ketangguhan UMKM menjadi bagian penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Menurutnya, penanganan bencana tidak hanya berorientasi pada respons saat bencana terjadi, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan.
“Karena itu diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan solusi, mulai dari penguatan mitigasi risiko, diversifikasi usaha, pemanfaatan teknologi digital, hingga perluasan akses pemasaran bagi pelaku UMKM,” ujarnya.
Melalui forum tersebut, para peserta merumuskan berbagai strategi agar UMKM di Jawa Timur memiliki kemampuan bertahan, beradaptasi, serta pulih lebih cepat ketika terdampak bencana.
BPBD Jatim menilai sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan rawan bencana.
Berdasarkan hasil identifikasi awal, dampak bencana terhadap UMKM terbagi menjadi dua kategori, yakni dampak langsung dan tidak langsung. Dampak langsung meliputi kerusakan aset, infrastruktur, serta terganggunya operasional usaha. Sementara dampak tidak langsung mencakup terputusnya rantai pasok, hilangnya pendapatan, persoalan pembiayaan seperti cicilan modal, hingga tekanan psikologis yang dialami pelaku usaha.
BPBD Jatim berharap lahirnya program UMKM Tangguh Bencana dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sehingga pelaku usaha mampu bangkit lebih cepat pascabencana dan mendukung terwujudnya Jawa Timur yang semakin tangguh menghadapi berbagai potensi bencana.(FRI)
