KILASJATIM. COM, Surabaya– Budaya nongkrong dan tren bekerja dari kafe (work from cafe) turut membentuk pola konsumsi baru. Sebanyak 56 persen responden mengaku lebih sering mengonsumsi makanan dan minuman olahan di kafe, kedai maupun warung, sementara minuman yang paling banyak dikonsumsi adalah teh dan kopi.
Temuan ini dari hasil riset yang dilakukan Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul (Yagitu) yang melibatkan 437 responden di Jawa Timur dan disampaikan dalam forum group discusion (FGD) yang mengusung tema Pola Hidup Sehat dan Perilaku Konsumsi Masyarakat Jawa Timur di Surabaya, Selasa (30/6).
Sekretaris Yagitu, Nuryadi, mengatakan penelitian tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi kesehatan generasi muda di tengah perubahan pola kerja dan gaya hidup yang semakin dinamis.
“Anak muda adalah sumber daya pembangunan. Kita berbicara Generasi Emas 2045 tidak akan bisa terwujud tanpa kondisi anak muda yang sehat. Karena semuanya berawal dari kesehatan, baru kecerdasan dan aspek lainnya bisa mengikuti,” ujarnya saat memaparkan hasil riset.
Menurut Nuryadi, riset menunjukkan masyarakat sebenarnya telah memahami pentingnya pola hidup sehat. Namun, terdapat kesenjangan antara pengetahuan dengan praktik sehari-hari.
“Gap terbesar ada pada niat dan eksekusi. Mereka tahu pentingnya hidup sehat, tetapi terkendala konsistensi, keterbatasan waktu, biaya, serta lingkungan sosial yang belum mendukung,” katanya.
Ditambahkan, enomena ini sebenarnya baik dari sisi ekonomi karena mendorong tumbuhnya usaha. Namun, di sisi lain juga melihat tempat-tempat tersebut menjadi lokasi konsumsi gula yang cukup tinggi. Tantangannya bagaimana ekonomi tetap tumbuh, tetapi masyarakat juga tetap sehat.
Hasil penelitian juga menemukan budaya nongkrong dan tren bekerja dari kafe (work from cafe) turut membentuk pola konsumsi baru. Sebanyak 56 persen responden mengaku lebih sering mengonsumsi makanan dan minuman olahan di kafe, kedai maupun warung, sementara minuman yang paling banyak dikonsumsi adalah teh dan kopi.
Penelitian tersebut juga mengungkap 41,2 persen responden mengonsumsi makanan dan minuman manis karena menikmati rasanya, 23,1 persen sebagai penambah energi, dan 14,9 persen karena faktor budaya serta kebiasaan.
Melalui FGD tersebut Yagitu berharap hasil penelitian tidak berhenti sebagai kajian akademis, tetapi menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan yang mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup sehat tanpa mengabaikan pertumbuhan ekonomi daerah.
Sementara itu, harapan terbesar masyarakat kepada pemerintah adalah memperkuat edukasi dan kampanye hidup sehat (33 persen), memperbanyak fasilitas olahraga publik (20,8 persen), serta mempermudah akses terhadap pangan sehat.
Sekretaris Yagitu, Nuryadi saat memaparkan hasil riset yang digelar Yagitu dalma acara FGD di Surabaya, Selasa (30/6/2026). (kilasjatim.com/nova)
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang membuka FGD tersebut menegaskan pentingnya penyusunan kebijakan kesehatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar tidak hanya bersifat teknokratis.
“Kita ingin riset ini bukan menjadi produk yang hanya disusun secara teknokratik, tetapi juga memperhatikan realitas di lapangan. Karena itu kita libatkan pelaku usaha, komunitas, akademisi, hingga masyarakat agar kebijakan yang lahir benar-benar implementatif,” kata Emil yang menilai tantangan terbesar saat ini adalah mencari keseimbangan antara menjaga produktivitas ekonomi dengan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Kita harus mencari titik temu antara pertumbuhan ekonomi melalui dunia usaha dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Tidak ada solusi yang bisa sekadar disalin dari negara lain karena kita juga harus memperhatikan kearifan lokal,” jelasnya.
Menurut Emil, penyakit tidak menular akibat gaya hidup kini menjadi tantangan besar setelah pandemi Covid-19 berlalu.
“Persoalannya bukan hanya apa yang dikonsumsi, tetapi juga gaya hidup. Sedentary lifestyle, kurang bergerak, hingga kebiasaan menggunakan gawai menjadi faktor yang ikut meningkatkan risiko penyakit tidak menular,” tegas Emil.
Sementara itu, Koordinator Litbang Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Jawa Timur, Wiwik Winarsih, mengapresiasi penelitian Yagitu karena mampu memotret kesenjangan antara pemahaman masyarakat dengan praktik hidup sehat.
“Saya yakin hasil penelitian ini bisa menjadi bahan edukasi bagi masyarakat sehingga mereka tahu di titik mana harus mulai memperbaiki pola hidupnya,” ujarnya.
Ia mengingatkan prevalensi obesitas, diabetes, hipertensi hingga penyakit ginjal kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda.
“Kita menghadapi beban ganda, mulai stunting, obesitas hingga kekurangan zat gizi mikro. Karena itu penanganannya harus dilakukan secara bersama-sama,” tegasnya.
Menurut Wiwik, pemerintah sebenarnya telah memiliki pedoman gizi seimbang yang menggantikan konsep empat sehat lima sempurna. Namun, tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat yang sudah terbentuk sejak lama, termasuk tingginya konsumsi makanan dan minuman berpemanis.
Sementara itu, akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Irfan, menilai edukasi kesehatan harus bergeser dari pendekatan normatif menjadi perubahan perilaku yang sederhana dan mudah diterapkan.
“Masyarakat sebenarnya sudah tahu gula berlebihan itu tidak baik. Yang mereka butuhkan adalah panduan praktis, misalnya memilih minuman less sugar, mengganti satu minuman manis setiap hari dengan air putih, atau membiasakan membaca label kandungan gula,” katanya.
Ia juga mendorong intervensi tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi menyasar ruang konsumsi masyarakat seperti kafe, warung, minimarket, kantin, hingga tempat kerja.
“Warung, kedai, minimarket dan kafe adalah ruang strategis untuk membangun perilaku hidup sehat. Misalnya menyediakan pilihan menu rendah gula sebagai menu utama atau memberikan insentif bagi pelaku usaha yang menyediakan produk lebih sehat,” pungkasnya. (nov)




