Prabowo Tegaskan Swasembada Pangan Berkelanjutan, NTP Cetak Rekor Tertinggi 34 Tahun.

oleh -433 Dilihat
Presiden Prabowo Subianto berbincang dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat meninjau area pameran dan demplot pertanian pada puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo, Rabu 24 Juni 2026 (Foto: Kementan)

KILASJATIM.COM – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga swasembada pangan nasional secara berkelanjutan di tengah tantangan krisis pangan global. Komitmen tersebut disampaikan Presiden saat menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) XVII Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Gorontalo, Rabu (24/6/2026), yang dihadiri lebih dari 100 ribu petani dan nelayan dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa pangan merupakan persoalan mendasar yang menentukan ketahanan dan kedaulatan suatu negara. Karena itu, pemerintah terus berupaya memperkuat sektor pertanian guna memastikan kebutuhan pangan nasional tetap terjaga.

Menurut Presiden, hasil berbagai kebijakan yang dijalankan mulai menunjukkan hasil positif. Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mulai membantu negara lain melalui surplus produksi pangan yang dimiliki.

“Alhamdulillah sekarang kita sudah mulai ekspor. Kita membantu negara-negara lain,” kata Prabowo.

Presiden mengungkapkan sejumlah negara mulai melirik Indonesia sebagai pemasok komoditas strategis, termasuk pupuk, beras, dan jagung. Bahkan, Perdana Menteri Australia disebut telah menghubunginya secara langsung untuk membahas peluang pembelian pupuk dari Indonesia seiring meningkatnya produksi nasional.

Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa seluruh kebijakan sektor pangan harus tetap berpihak kepada petani. Ia mengingatkan agar kesejahteraan petani menjadi prioritas utama dalam setiap langkah pembangunan pertanian.

“Asal harganya benar. Petani jangan rugi,” tegasnya.

Selain sektor pangan, Presiden juga menyoroti implementasi program biodiesel B50 yang akan mulai diterapkan pada Juli 2026. Program tersebut diyakini mampu memperkuat hilirisasi industri sawit sekaligus mendukung upaya pemerintah mewujudkan kemandirian energi nasional.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan sejumlah capaian positif sektor pertanian nasional. Salah satunya adalah peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai angka 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir.

Baca Juga :  Stok Pangan Aman di Tengah Gejolak Global dan Ancaman El Nino

“Izin Bapak Presiden, NTP mencapai 127. Ini tertinggi dalam 34 tahun terakhir,” ujar Amran.

Selain itu, sektor pertanian mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,74 persen, yang disebut menjadi capaian tertinggi dalam kurun 25 tahun terakhir. Kinerja perdagangan sektor pertanian juga menunjukkan tren positif dengan nilai ekspor meningkat hingga Rp166 triliun, sementara impor berhasil ditekan sekitar Rp41 triliun.

Amran juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menurunkan harga pupuk hingga 20 persen. Menurutnya, langkah tersebut menjadi kebijakan bersejarah yang belum pernah terjadi sejak Indonesia merdeka.

“Kami mengucapkan terima kasih mewakili petani Indonesia. Harga pupuk turun 20 persen,” katanya.

Pemerintah juga terus mendorong program hilirisasi berbagai komoditas strategis seperti kakao, mete, dan tebu yang mencakup lahan seluas 870 ribu hektare. Program tersebut diproyeksikan mampu menciptakan hingga tiga juta lapangan kerja baru pada 2029.

Untuk mendukung program tersebut, pemerintah memberikan bantuan bibit unggul, pengolahan lahan, hingga penanaman secara gratis kepada petani.

Dalam laporannya, Amran juga menyampaikan bahwa harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang sempat mengalami penurunan kini mulai kembali stabil. Kementerian Pertanian bersama Polri terus melakukan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan yang belum menyesuaikan harga TBS guna melindungi kesejahteraan petani sawit.

Sementara itu, Ketua KTNA Nasional Mohammad Yadi Sofyan Noor menyampaikan apresiasi atas perhatian besar Presiden Prabowo terhadap petani dan nelayan. Menurutnya, berbagai program pemerintah telah memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan pelaku sektor pangan nasional.

Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi tersebut, KTNA menganugerahkan Lencana Emas Adibakti Tani Nelayan Maha Utama kepada Presiden Prabowo Subianto. Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen dan peran aktif Presiden dalam memajukan sektor pertanian dan perikanan Indonesia.

Baca Juga :  Subsidi Listrik Diproyeksikan Membengkak hingga Rp90,32 Triliun di Akhir 2025

Melalui berbagai capaian tersebut, pemerintah optimistis Indonesia mampu mempertahankan swasembada pangan sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu negara penopang ketahanan pangan dunia. (ZMG)

No More Posts Available.

No more pages to load.