Tradisi Keboan Aliyan Kembali Digelar, Ribuan Warga dan Wisatawan Saksikan Ritual Syukur Masyarakat Agraris Banyuwangi

oleh -462 Dilihat

KILASJATIM.COM, Banyuwangi – Tradisi Keboan Aliyan kembali digelar di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Minggu (21/6/2026). Ritual adat yang rutin dilaksanakan setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu kembali menarik perhatian ribuan warga dan wisatawan yang memadati lokasi acara. Berbagai rangkaian ritual adat berlangsung khidmat sekaligus unik, menjadikan Keboan Aliyan sebagai salah satu atraksi budaya paling dinantikan di Banyuwangi.

Ciri khas tradisi ini terlihat ketika sejumlah warga mengalami trance atau kerasukan dan berperilaku layaknya kerbau, hewan yang memiliki peran penting dalam kehidupan agraris masyarakat setempat.

Mereka menirukan berbagai gerakan kerbau, mulai dari mendengus, berjalan merangkak, hingga berkubang di lumpur sawah. Dalam kondisi trance, para peserta kemudian mengikuti prosesi arak-arakan keliling desa yang dikenal dengan sebutan Ider Bumi.

Kepala Desa Aliyan Agus Nurbani Yusuf mengatakan Tradisi Keboan bukan sekadar ritual adat tahunan, melainkan juga sarana memperkuat persatuan dan kebersamaan warga desa.

“Tradisi Keboan ini merupakan sarana kami untuk mempererat tali silaturahmi. Dengan adat, masyarakat kami di Aliyan bisa bersatu membangun dan menjaga desa bersama,” ujar Agus.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari melalui selamatan kampung yang dilaksanakan secara serentak di empat penjuru desa. Warga berkumpul untuk menggelar doa bersama serta menyiapkan berbagai sesaji sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah sekaligus permohonan perlindungan dari berbagai marabahaya.

Usai selamatan, prosesi utama dilanjutkan dengan ritual Ider Bumi. Warga yang mengalami trance diarak mengelilingi desa melewati empat penjuru mata angin sambil memperagakan berbagai aktivitas pertanian tradisional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aliyan.

Baca Juga :  SE Fleksibilitas Kerja, ASN di Surabaya 'Tidak Wajib' ke Kantor

Dalam prosesi tersebut, para peserta menggambarkan tahapan bercocok tanam mulai dari membajak sawah, mengairi lahan, hingga menebar benih padi. Gambaran kehidupan petani tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap alam dan sumber penghidupan masyarakat.

Atraksi budaya yang sarat makna itu pun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyaksikan langsung tradisi khas masyarakat agraris Banyuwangi.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi Suratno yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi atas komitmen masyarakat Desa Aliyan dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.

“Melihat sepanjang perjalanan, Desa Aliyan memanfaatkan hasil panen sebagai ornamen menuju tempat acara. Itu menjadi simbol pertanian dan hasil alam yang melimpah. Ini merupakan rasa syukur bahwa Desa Aliyan tetap aman, nyaman, dan tenteram,” kata Suratno.

Menurutnya, pelestarian tradisi seperti Keboan Aliyan tidak hanya penting untuk menjaga identitas budaya daerah, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendukung sektor pariwisata berbasis budaya di Banyuwangi.

Tradisi Keboan Aliyan sendiri telah menjadi agenda budaya tahunan yang selalu masuk dalam kalender wisata Kabupaten Banyuwangi. Keunikan ritual, nilai spiritual, serta keterlibatan aktif masyarakat menjadikan tradisi ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Selain menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tradisi Keboan Aliyan juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya lokal Banyuwangi kepada masyarakat luas sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Osing yang masih terjaga hingga saat ini.(zul)

No More Posts Available.

No more pages to load.