KILASJATIM.COM, Surabaya – Pagi itu, Rizki Danar Ari Saputra (17) melangkahkan kaki ke sebuah kantor cabang BNI di Sidoarjo dengan perasaan campur aduk. Di tangannya tergenggam sejumlah dokumen yang telah dipersiapkan sejak malam sebelumnya. Sebagai seorang mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya, ia memiliki satu misi penting yaitu membuka rekening bank atas namanya sendiri.
Bagi sebagian orang, membuka rekening mungkin terdengar sebagai aktivitas sederhana. Namun bagi Danar, sapaan akrabnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu tonggak awal perjalanan menuju kemandirian. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia harus mengurus seluruh proses perbankan tanpa didampingi orang tua. Danar sendiri berasal dari keluarga sederhana yang sangat menghargai pendidikan. Ia harus mengurus semuanya sendiri lantaran kedua orang tua bekerja. Ada rasa takut atau gugup saat pertama kali berhadapan dengan dunia perbankan.
“Saya sempat bingung harus mulai dari mana. Takut salah mengisi formulir atau ada berkas yang kurang,” kenangnya.
Setibanya di kantor cabang, Danar mengambil nomor antrean dan menunggu giliran dipanggil oleh petugas layanan pelanggan. Ketika duduk di hadapan customer service, ia mendengarkan dengan saksama setiap penjelasan yang diberikan, mulai dari jenis tabungan, fungsi kartu ATM, hingga berbagai layanan transaksi yang dapat digunakan. Hari itu, ia resmi menjadi nasabah Taplus Muda BNI.
Rekening tersebut dibuka untuk memenuhi kebutuhan pembayaran uang pangkal kuliah. Namun tanpa disadari, langkah kecil itu menjadi pintu masuk menuju pemahaman yang lebih luas tentang pengelolaan keuangan.
Langkah Pertama Menuju Kemandirian
Setelah menerima kartu ATM pertamanya, tantangan berikutnya justru dimulai. Danar harus belajar memahami berbagai layanan perbankan yang sebelumnya jarang ia gunakan secara mandiri. Ia mulai mempelajari cara melakukan transfer antar rekening, setor tunai melalui mesin, mengecek saldo, hingga mengisi saldo dompet digital.
Tidak semuanya berjalan mulus. Ada kalanya ia harus bertanya kembali kepada teman atau mencari informasi tambahan mengenai cara menggunakan layanan tertentu. Namun proses belajar tersebut membuatnya semakin memahami pentingnya literasi keuangan di usia muda.
Sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, aktivitas akademik Danar tidak lepas dari kebutuhan transaksi digital. Pembayaran berbagai kebutuhan perkuliahan, pembelian buku, hingga transaksi sehari-hari kini dapat dilakukan dengan lebih mudah. Kehadiran layanan perbankan digital membuatnya tidak perlu lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar. Karena fitur yang ada tersebut, Danar dapat fokus kuliah, mengatur keuangan, dan mengejar cita-cita.
“Yang paling terasa manfaatnya saat harus melakukan top up e-wallet. Prosesnya cepat dan praktis, jadi sangat membantu untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Jejak Menabung Sejak Masa Kanak-Kanak
Sebenarnya, hubungan Danar dengan BNI telah dimulai jauh sebelum ia menjadi mahasiswa. Saat masih kecil, orang tuanya telah membukakan rekening Taplus Anak untuk mengenalkannya pada budaya menabung sejak dini. Melalui tabungan tersebut, ia belajar menyisihkan uang saku dan memahami bahwa setiap rupiah yang disimpan memiliki tujuan di masa depan.
Ketika beranjak dewasa, kebutuhan finansialnya pun berkembang. Ia membutuhkan rekening yang mampu mendukung aktivitas sebagai mahasiswa yang semakin dinamis. Di titik itulah Taplus Muda menjadi kelanjutan dari perjalanan literasi keuangan yang telah dimulai sejak masa kanak-kanak.
Pengalaman Danar menunjukkan bahwa layanan perbankan tidak sekadar menjadi tempat menyimpan uang. Lebih dari itu, bank dapat berperan sebagai mitra yang membantu generasi muda membangun kebiasaan finansial yang sehat dan bertanggung jawab.

Taplus Muda, Teman Generasi Digital
Komitmen tersebut juga tercermin melalui berbagai produk yang dihadirkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. Sebagai bank nasional yang telah tumbuh bersama bangsa selama delapan dekade, BNI menyediakan layanan keuangan bagi berbagai segmen masyarakat, termasuk anak-anak dan generasi muda.
Dalam keterangan resminya, Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo mengatakan melalui Taplus Anak, BNI memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal dunia perbankan sejak dini melalui buku tabungan dan kartu debit. Sementara itu, Taplus Muda memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan transaksi generasi usia 17 hingga 35 tahun yang menginginkan layanan praktis, fleksibel, dan sesuai dengan gaya hidup digital.
“Tidak hanya menghadirkan kemudahan transaksi, tetapi juga menjadi sarana edukasi keuangan digital yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. BNI ingin menghadirkan pengalaman transaksi digital yang seamless, aman, dan nyaman bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Kami percaya, literasi dan inklusi keuangan digital perlu diperkenalkan melalui pengalaman yang dekat dengan keseharian mereka,” ujar Okki.
Literasi Keuangan yang Berdampak bagi Masa Depan
Dengan setoran awal yang ringan mulai dari Rp100.000 serta biaya administrasi yang terjangkau, Taplus Muda menjadi salah satu solusi bagi pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda yang sedang membangun masa depan finansial mereka. Berbagai kemudahan juga tersedia melalui layanan digital seperti wondr by BNI, transaksi tarik dan setor tunai melalui mesin Cash Recycling Machine (CRM) selama 24 jam, serta fitur notifikasi transaksi.
Lebih jauh lagi, upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan generasi muda memiliki dampak yang jauh lebih besar bagi pembangunan nasional. Pemahaman keuangan sejak usia dini diyakini mampu menciptakan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas sistem keuangan, membantu pengentasan kemiskinan, serta mengurangi kesenjangan ekonomi di masyarakat.
Menabung Hari Ini, Mewujudkan Mimpi Esok Hari
Ketika anak muda memahami cara mengelola uang, mereka akan lebih siap merencanakan tujuan keuangan jangka pendek, menengah, maupun panjang. Mereka tidak hanya belajar menabung, tetapi juga belajar membuat keputusan finansial yang bijak demi masa depan.
Bagi Danar, manfaat tersebut kini mulai dirasakan. Rekening yang awalnya dibuka hanya untuk membayar kebutuhan kuliah telah berkembang menjadi alat yang membantunya mengatur keuangan secara lebih terencana. Setiap transaksi yang dilakukan menjadi bagian dari proses belajar menuju kemandirian.
Di usianya yang masih muda, ia menyimpan banyak mimpi yang ingin diwujudkan. Menyelesaikan pendidikan, meraih karier yang baik, hingga memberikan kebanggaan bagi keluarga menjadi beberapa diantaranya. Perjalanan itu tentu masih panjang, tetapi langkah awalnya telah dimulai sejak hari ketika ia memberanikan diri datang sendiri ke kantor cabang BNI. Danar sendiri bercita-cita menjadi pendidik dan penerjemah profesional yang dapat membawa karya Indonesia ke panggung internasional.
Kisah Danar mungkin terlihat sederhana. Namun dari pengalaman seorang mahasiswa membuka rekening pertamanya, tersimpan makna yang lebih besar tentang pentingnya akses keuangan bagi generasi muda Indonesia. Sebab ketika anak-anak bangsa diberi kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan mengelola masa depan finansialnya dengan baik, mereka tidak hanya sedang membangun dirinya sendiri, tetapi juga turut membangun masa depan Indonesia.
Di usia ke-80 tahun, BNI tidak hanya menjadi saksi perjalanan bangsa, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan jutaan generasi muda seperti Danar. Dari langkah kecil membuka rekening pertama, lahirlah keberanian untuk mandiri, bertumbuh dan mewujudkan mimpi. Sebuah perjalanan yang selaras dengan semangat BNI, bangkit, bertumbuh dan memberikan dampak nyata bagi Indonesia. (kar)

