KILASJATIM.COM, Surabaya — Orang tua sedianya harus mewaspadai jika menemukan atau mendapati ukuram penis anaknya lebih kecil (mikropenis) dibandingkan ukuran penis pad anak lain seusianya.
Mikropenis merupakan kondisi medis ketika ukuran penis lebih kecil dibandingkan ukuran normal untuk usia anak, meskipun bentuk dan struktur anatomi penis tetap normal. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian karena dapat menjadi tanda adanya gangguan hormonal, kelainan genetik, atau gangguan perkembangan seksual yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Secara medis, diagnosis mikropenis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan pengamatan visual. Dokter harus melakukan pengukuran stretched penile length (SPL), yaitu panjang penis yang diukur dalam keadaan diregangkan secara perlahan. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan nilai rujukan sesuai usia anak. Pada bayi baru lahir cukup bulan, ukuran penis yang berada jauh di bawah rentang normal dapat mengarah pada diagnosis mikropenis dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Menurut dr. Achmad Yuniari Heryana, Sp.A, dokter spesialis anak di National Hospital, penyebab mikropenis paling sering berkaitan dengan gangguan hormon yang berperan dalam pertumbuhan organ reproduksi laki-laki sejak masa janin.
“Pertumbuhan penis dipengaruhi oleh hormon androgen, terutama testosteron, sejak awal kehamilan. Apabila produksi hormon tersebut kurang, atau tubuh janin tidak merespons hormon dengan baik, maka pertumbuhan penis dapat terhambat sehingga terjadi mikropenis,” jelas dr. Achmad Yuniari.
Selain gangguan produksi hormon androgen, mikropenis juga dapat disebabkan oleh gangguan pada hipotalamus dan kelenjar hipofisis di otak, kelainan genetik tertentu, gangguan pembentukan hormon testosteron, maupun gangguan perkembangan seksual atau Disorders of Sex Development (DSD).
Pada sebagian kasus, mikropenis dapat ditemukan bersamaan dengan kelainan lain seperti hipospadia (lubang kencing tidak berada di ujung penis) atau testis yang tidak turun ke kantung zakar (kriptorkismus). Kondisi tersebut memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis anak, terutama konsultan endokrinologi anak.
Deteksi dini menjadi sangat penting karena beberapa penyebab mikropenis dapat ditangani dengan terapi hormonal pada usia yang tepat. Masa bayi, terutama dalam beberapa bulan pertama kehidupan, merupakan periode yang penting untuk evaluasi dan penanganan karena respons terhadap terapi umumnya lebih baik.
“Masyarakat perlu memahami bahwa mikropenis bukan sekadar persoalan ukuran. Kondisi ini dapat menjadi petunjuk adanya gangguan hormonal atau kelainan perkembangan yang mendasarinya. Semakin dini terdeteksi, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang optimal dan mendukung kualitas hidup anak di masa depan,” tambah dr. Achmad.
Dr. Achmad juga menjelaskan bahwa mikropenis tidak selalu menyebabkan gangguan kesuburan di kemudian hari. Kemampuan reproduksi sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh sangat penting untuk menentukan diagnosis dan tata laksana yang tepat.
National Hospital mengimbau para orang tua untuk rutin memantau tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan organ reproduksi, serta segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak apabila terdapat kekhawatiran mengenai ukuran penis, posisi testis, maupun perkembangan seksual anak secara umum. (nov)
