KILASJATIM.COM, Surabaya – Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mengembangkan program edukasi kesiapsiagaan bencana bagi anak usia dini melalui Kidama Project yang digelar pada 17–18 Juni 2026. Program ini merupakan hasil kolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya dan Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya, dengan mengadaptasi standar mitigasi bencana dari Jepang.
Program tersebut menjadi tindak lanjut kerja sama internasional yang dibangun melalui Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) Untag Surabaya sebagai penerima Hibah Japan Foundation 2025. Model pembelajaran yang dikembangkan disesuaikan dengan kondisi Indonesia untuk menanamkan budaya sadar bencana sejak dini.
Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya sekaligus Ketua Kidama Project, Dr. Ir. Ar. R.A. Retno Hastijanti, M.T., IPU., IAI., APEC.Eng., menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana harus dibangun melalui pendidikan yang berkelanjutan. “Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut dapat diterapkan di masyarakat. Melalui Kidama Project, kami ingin menanamkan kesadaran risiko bencana sekaligus membentuk karakter tangguh, disiplin, dan peduli terhadap keselamatan bersama sejak usia dini,” terang Retno.
Menurut Retno, metode pembelajaran dalam program ini mengadopsi praktik terbaik dari Jepang yang dikemas melalui simulasi dan pengalaman langsung agar mudah dipahami anak-anak. “Kami mengadaptasi praktik terbaik dari Jepang dan menyesuaikannya dengan karakter anak-anak di Indonesia. Anak-anak tidak hanya mengetahui prosedur keselamatan, tetapi juga memahami alasan di balik tindakan yang harus dilakukan saat keadaan darurat,” lanjut Retno.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dikenalkan pada berbagai potensi bencana seperti gempa bumi, cuaca ekstrem, dan kebakaran. Anak-anak juga mempraktikkan prosedur keselamatan Drop, Cover, and Hold On yang menjadi standar penanganan saat gempa bumi.
Keunikan Kidama Project terletak pada penerapan metode Montessori yang memungkinkan peserta belajar melalui pengalaman konkret dan simulasi situasi nyata. Selain melibatkan BPBD Kota Surabaya, program ini juga didukung mahasiswa Fakultas Teknik Untag Surabaya dari berbagai program studi.
Direktur Pendidikan SAIM Surabaya, Aziz Badiansyah, M.Pd., mengapresiasi program tersebut karena tidak hanya menambah pengetahuan siswa, tetapi juga membangun karakter mereka. “Kami melihat program ini bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk keberanian dan kepedulian siswa. Harapannya, apa yang mereka pelajari dapat dibagikan kembali kepada keluarga dan lingkungan sekitar,” tutur Azis.
Melalui Kidama Project, Untag Surabaya berupaya memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana sejak usia dini. Program ini direncanakan terus diperluas ke jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama agar semakin banyak generasi muda yang siap menghadapi risiko bencana.(tok)
