KILASJATIM.COM, Surabaya – Program revitalisasi pasar tradisional yang tengah disiapkan Pemerintah Kota Surabaya dinilai perlu disertai kajian komprehensif terkait perubahan perilaku konsumen dan pola perdagangan masyarakat. Ketua DPRD Kota Surabaya Syaifuddin Zuhri mengingatkan bahwa pembangunan fisik semata belum tentu mampu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di pasar rakyat.
Menurut Syaifuddin, tantangan yang dihadapi pasar tradisional saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu. Selain bersaing dengan pusat perbelanjaan modern, pasar rakyat juga harus beradaptasi dengan perubahan kebiasaan masyarakat yang semakin mengutamakan kemudahan, kecepatan, dan layanan berbasis digital.
“Yang harus dipikirkan adalah apakah revitalisasi pasar benar-benar akan menjawab pergerakan ekonomi masyarakat saat ini. Karena perilaku konsumen sudah berubah,” ujar Kaji Ipuk sapaan akrabnya pada pekan ini.
Ia menjelaskan, masyarakat kini cenderung memilih lokasi belanja yang dekat dengan tempat tinggal atau memanfaatkan layanan pemesanan melalui aplikasi digital. Kondisi tersebut membuat pasar tradisional tidak lagi menjadi tujuan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, menurutnya, setiap program revitalisasi harus memiliki tujuan yang jelas dan mampu menciptakan daya tarik baru bagi konsumen. Pasar tidak cukup hanya dibangun lebih bersih atau modern secara fisik, tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
“Kalau hanya membangun fisik yang bagus tetapi tidak tahu siapa konsumennya dan apa yang menjadi kebutuhan mereka, maka hasilnya belum tentu sesuai harapan,” katanya.
Pria yang juga menjabat sekretaris DPC PDIP Surabaya ini menilai pemetaan dan kajian mendalam perlu dilakukan sebelum proyek revitalisasi dilaksanakan. Pemerintah harus memahami karakteristik masing-masing pasar, potensi ekonomi wilayah sekitar, hingga pola konsumsi masyarakat yang menjadi target utama.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa pasar tradisional tetap memiliki peran strategis dalam menopang ekonomi kerakyatan. Pasar rakyat menjadi ruang usaha bagi pelaku UMKM sekaligus menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang relatif terjangkau bagi masyarakat.
Selain revitalisasi, Syaifuddin juga menyoroti keberadaan pasar tumpah dan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di lokasi tidak semestinya. Menurutnya, fenomena tersebut perlu ditata agar tidak mengganggu keberlangsungan pedagang yang berjualan di dalam pasar.
Lebih lanjut, ia mendorong agar revitalisasi pasar turut mengakomodasi perkembangan teknologi. Integrasi layanan digital dinilai penting agar pasar tradisional mampu bersaing dengan model perdagangan modern yang semakin mudah diakses masyarakat.
“Teknologi harus menjadi bagian dari pengembangan pasar tradisional. Jangan sampai pasar hanya mempertahankan bentuk lama, sementara perilaku masyarakat sudah berubah jauh,” ujarnya.
Syaifuddin berharap revitalisasi pasar di Surabaya dapat menjadi momentum membangun ekosistem perdagangan yang lebih modern, tertib, dan kompetitif. Namun, seluruh proses tersebut harus didasarkan pada kajian yang matang agar anggaran yang dikeluarkan mampu memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. (Den)




