KILASJATIM.COM, Surabaya – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dan Universitas Surabaya (Ubaya) memperkuat kolaborasi untuk mempercepat hilirisasi hasil riset sekaligus mendorong pembentukan unit uji klinis di Jawa Timur guna mendukung pengembangan industri farmasi nasional.
Dalam kuliah umum dan penandatanganan nota kesepahaman di Ubaya, Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah melalui konsep Academic, Business, and Government (ABG). “Melalui konsep ABG, kami yakin transfer teknologi dan pengembangan produk-produk inovatif bisa dipercepat sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” terang Prof. Taruna.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dari hasil riset perguruan tinggi dan kekayaan biodiversitas yang dapat dikembangkan menjadi produk kesehatan.
Untuk mempercepat pemanfaatannya, BPOM menyiapkan berbagai terobosan, termasuk skema conditional approval atau persetujuan bersyarat bagi produk inovatif yang sangat dibutuhkan masyarakat. “Beberapa produk inovatif sangat dibutuhkan pasien. Dengan skema conditional approval, produk bisa lebih cepat dimanfaatkan masyarakat tanpa mengabaikan aspek keamanan dan efektivitas,” katanya.
Sementara itu, Rektor Universitas Surabaya, Prof. Ir. Benny Lianto, M.B.A., Ph.D., mengungkapkan Jawa Timur masih belum memiliki fasilitas uji klinis yang memadai untuk pengembangan obat baru. Akibatnya, industri farmasi di daerah ini masih bergantung pada fasilitas di Jakarta dan Jawa Barat. “Ubaya sudah berinisiatif mengembangkan unit uji klinis agar industri farmasi di Jawa Timur tidak perlu lagi melakukan pengujian ke luar daerah,” ujar Prof. Benny.
Ia berharap kolaborasi antara BPOM, perguruan tinggi, dan industri dapat memperkuat ekosistem riset kesehatan di Jawa Timur, termasuk membuka peluang dukungan pendanaan riset di bidang pangan dan obat.
Saat ini BPOM mencatat sekitar 1.700 produk hasil riset sedang berada dalam berbagai tahap pengembangan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 134 produk menunjukkan kemajuan signifikan, termasuk untuk terapi kanker, penyakit kritis, dan penyakit langka. Kolaborasi BPOM dan Ubaya diharapkan dapat mempercepat lahirnya inovasi yang aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat.(tok)
