Suroboyo, Jancuk

oleh -609 Dilihat
Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Oleh
Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura
Pengguna transportasi umum di Surabaya tumbuh hampir 7 juta pengguna selama 3 tahu terakhir
Pengguna transportasi umum di Surabaya tumbuh hampir 7 juta pengguna selama 3 tahu terakhir. (Foto: Diskominfo Surabaya)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Kata ini sangat familier di jalanan Kota Surabaya: Jancuk.

Dulu, saat saya masih merintis karir sebagai wartawan muda, kata itu sangat tabu. Sangat kasar. Tidak boleh ditayangkan dalam sebuah berita. Sebuah umpatan jalanan yang membuat telinga orang tua panas. Kalau ada anak kecil berani mengucapkannya, bisa dipastikan mulutnya akan segera kena tapuk.

Zaman berubah. Makna kata juga ikut berevolusi. Di Surabaya, Jancuk telah bermetamorfosis. Jancuk naik kelas.

Jancuk bukan lagi monopoli kemarahan. Ia telah menjadi simbol keakraban. Simbol kebanggaan. Bahkan, ia menjadi ekspresi kekaguman yang paling jujur. Paling spontan.

Melihat taman kota yang tertata rapi dan berbunga indah, orang Surabaya akan bergumam: Jancuk, apik tenan Suroboyo saiki!

Bertemu kawan lama yang sukses dan berjaket necis di warkop, sapaannya pun: Jancuk, yak opo kabare awakmu, Rek!

Itulah DNA Surabaya. Egaliter. Tidak ada basa-basi. Tidak ada kasta yang menyekat. Jancuk adalah bahasa kebersamaan yang mengikis jarak antara si kaya dan si miskin, antara pejabat dan rakyat.

Hari ini, 31 Mei, Surabaya berulang tahun. Usianya tidak main-main: 733 tahun. Sebuah angka yang luar biasa tua untuk ukuran sejarah sebuah kota. Namun, lihatlah wajahnya. Kota ini sama sekali tidak terlihat menua. Ia justru semakin muda. Semakin berseri. Semakin modern tanpa pernah kehilangan roh aslinya.

Roh asli itu paling mudah ditangkap lewat udara. Coba dengarkan dunia penyiaran di Surabaya. Baik radio maupun televisi lokalnya. Gayanya sangat khas. Ceplas-ceplos. Lugas.

Penyiar dan pendengar tidak berjarak. Mereka berinteraksi seperti teman akrab yang sedang nongkrong sambil menyeruput kopi. Bahasa Suroboyoan yang medok menjadi senjata utama. Di situlah esensi Jancuk terasa. Penyiaran di Surabaya tidak suka gaya feodal. Tidak suka yang berbelit-belit. Langsung ke sasaran. To the point.

Baca Juga :  Pemkot Surabaya dan UPN Veteran Jatim Sinergi Bantu Sertifikasi Halal dan Hak Merek Produk Startup

Semangat egaliter yang sama juga meledak di lapangan hijau. Apalagi kalau kita bicara tentang kebanggaan kota: Persebaya.

Bagi Bonek, Jancuk adalah energi. Kata itu diteriakkan bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk membakar nyali pemain di lapangan. Di tribun Gelora Bung Tomo, kata itu menggema, menyatukan puluhan ribu manusia dari berbagai latar belakang. Direktur perusahaan, mahasiswa, hingga tukang becak berdiri sama tinggi. Bernyanyi lirik yang sama. Satu tribun, satu cinta, satu nyali: Wani! Di sepak bola, Jancuk adalah solidaritas tanpa batas.

Namun, mari kita jujur.

Di balik kemeriahan HUT ke-733 ini, ada kalanya kata “Jancuk” harus kembali ke makna asalnya. Menjadi murni umpatan kekesalan.

Mengapa? Karena kota sebesar dan sehebat ini nyatanya masih punya penyakit kronis. Penyakit sosial yang mengganggu kenyamanan.

Misalnya ini: Jukir liar.

Anda pasti pernah mengalaminya. Anda mampir ke sebuah minimarket. Hanya untuk membeli sebotol air mineral. Tidak sampai dua menit. Begitu Anda keluar dan menghidupkan mesin motor, tiba-tiba terdengar suara gaib. Priiitt!

Seorang pria muncul dari antah berantah. Tangan kirinya memegang peluit, tangan kanannya menengadah ke arah Anda. Padahal, di kaca minimarket tertulis besar-besar: “Bebas Parkir”. Di saat seperti itu, di dalam hati, Anda pasti mengumpat dengan sangat ikhlas: Jancuk!

Satu lagi yang bikin dada sesak: Curanmor.

Ini kejahatan yang sangat menyakiti hati rakyat kecil. Bayangkan. Sepeda motor dibeli dengan keringat. Dicicil berdarah-darah tiap bulan. Diparkir di teras rumah. Sudah dikunci setir, bahkan ditambah gembok di cakramnya. Pagar rumah pun sudah ditutup rapat.

Pagi harinya, saat hendak berangkat kerja, motor itu sudah lenyap. Raib. Meninggalkan ruang kosong di teras dan kesedihan mendalam di hati pemiliknya. Kalau sudah begini, kata Jancuk yang keluar dari mulut korban adalah sebuah jeritan keputusasaan.

Baca Juga :  Fraksi PDIP Surabaya Kawal Wawali Armuji yang Dilaporkan ke Polda Jatim

Di usianya yang ke-733, Surabaya sudah berlari sangat jauh. Jauh meninggalkan kota-kota lain. Infrastrukturnya hebat. Taman-tamannya indah. Pelayanan publiknya cepat.

Kita tentu berharap, ke depan, warga Surabaya hanya akan mengucapkan Jancuk untuk hal-hal yang positif. Untuk kekaguman. Untuk kebanggaan. Untuk keakraban kawan lama.

Bukan lagi Jancuk yang diteriakkan karena dompet terkuras oleh jukir liar yang menjengkelkan. Atau karena motor kesayangan digondol maling.

Selamat ulang tahun ke-733, Suroboyo.
Jancuk, Untuk Surabaya yang makin keren! (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.