KILASJATIM.COM, Banyuwangi – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai tradisi Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, menjadi simbol kuatnya budaya gotong royong masyarakat Osing. Hal itu disampaikan Ipuk saat menghadiri tradisi makan tumpeng bersama ribuan warga dan wisatawan domestik maupun mancanegara di sepanjang jalan desa setempat, Jumat malam, 22 Mei 2026.
Menurut Ipuk, tradisi tersebut mencerminkan nilai gotong royong masyarakat Osing yang hingga kini masih terjaga dengan baik di tengah perkembangan zaman.
“Ini adalah bagian kekuatan lokal yang akan terus kita promosikan. Budaya gotong royong seperti ini tidak dimiliki semua daerah. Ini merupakan kelebihan Desa Kemiren yang harus terus dilestarikan,” ujar Ipuk.
Ipuk juga mengapresiasi komitmen masyarakat Osing Kemiren yang terus menjaga warisan budaya leluhur. Keterlibatan warga yang secara sukarela menyiapkan ribuan tumpeng dinilai menjadi bukti kuatnya solidaritas sosial masyarakat desa.
Tradisi Tumpeng Sewu merupakan ritual turun-temurun masyarakat Osing sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Tradisi tersebut rutin digelar setiap tahun menjelang Hari Raya Iduladha.
Dalam pelaksanaannya, warga menyajikan ribuan tumpeng lengkap dengan lauk khas Osing berupa pecel pitik. Menu tradisional tersebut merupakan olahan ayam kampung panggang yang dipadukan dengan parutan kelapa dan bumbu khas Osing, serta menjadi sajian wajib dalam tradisi Tumpeng Sewu.
Tak hanya warga lokal, wisatawan yang hadir juga ikut menikmati suasana kebersamaan selama acara berlangsung. Salah satunya Adam, wisatawan asal Republik Ceko yang mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Kemiren.
“Beruntung saya bisa menjadi bagian dari tradisi ini. Makanannya enak, cocok di lidah. Masyarakatnya juga sopan dan ramah. Saya senang bisa ke sini,” ujar Adam.
Sebelum prosesi makan bersama dimulai, warga terlebih dahulu menggelar ritual Ider Bumi dengan mengarak barong mengelilingi desa. Barong diberangkatkan dari dua arah berbeda, yakni timur dan barat, lalu bertemu di depan Balai Desa Kemiren.
Warga kemudian melaksanakan doa bersama untuk memohon keselamatan serta dijauhkan dari bencana dan penyakit. Rangkaian tradisi juga diisi ritual Mepe Kasur dan Mocoan Lontar Yusuf yang berlangsung semalam suntuk.
Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin mengatakan tradisi tersebut menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan selama setahun terakhir.
“Ini merupakan wujud syukur kami kepada Allah atas limpahan rezeki selama satu tahun, sekaligus doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindarkan dari bala,” ujar Arifin.
Konsistensi masyarakat dalam melestarikan budaya membuat Desa Kemiren meraih berbagai penghargaan nasional hingga internasional. Pada 2025, Desa Kemiren meraih The 5th ASEAN Homestay Award dalam ajang ASEAN Tourism Award di Malaysia.
Selain itu, Desa Kemiren juga masuk jaringan desa wisata terbaik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan meraih juara II Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 kategori Kelembagaan dan SDM dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.(zul)




