KILASJATIM. COM, Surabaya – National Hospital Surabaya meresmikan layanan baru Hip and Knee Center yakni layanan ortopedi nasional lewat program unggulan Rapid Recovery Knee Surgery, bertempat di Auditorium Ang Kang Hoo Lantai 1, Kamis (21/5).
CEO National Hospital, Ang Hoey Tiong, dalam sambutannya menyampaikan, kehadiran Center of Excellence ini merupakan wujud komitmen rumah sakit dalam mendongkrak kualitas hidup pasien melalui teknologi medis mutakhir.
” Melalui National Hip and Knee, kami menggabungkan teknik bedah ortopedi terkini, teknik minimal invasive (invasif minimal), protokol ERAS (Enhanced Recovery After Surgery), serta teknologi medis modern,” ujar Ang Hoey Tiong di hadapan undangan yang terdiri dari jajaran mitra asuransi, rekanan korporasi, awak media, serta Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) Cabang Jawa Timur periode 2025–2028, dr. Larona Ibradiator.
Ditambahkan, langkah ini diharapkan mampu memberikan kenyamanan ekstra bagi pasien demi hasil yang optimal.
“Kami berharap kehadiran pusat layanan ini menjadi lompatan besar bagi pelayanan ortopedi di Indonesia, khususnya di Surabaya dan Jawa Timur,” jelasnya.
Sementara itu dr. Glen Purnomo, Sp.OT, Consultant Orthopaedic Hip and Knee Surgeon National Hospital usai peresmian menjelaskan, selama ini, operasi penggantian sendi lutut (knee replacement) kerap dihindari karena proses pemulihannya yang lama.
Pasien biasanya harus mendekam di ruang rawat inap selama tiga hingga lima hari, bahkan sampai satu minggu. Namun, lewat program Rapid Recovery Knee Surgery, durasi tersebut dipangkas secara drastis menjadi hitungan jam saja.
“Sekarang, pasien hanya perlu rawat inap semalam setelah operasi. Bahkan, dalam beberapa kasus, pasien bisa langsung pulang di hari yang sama,” ungkap dr. Glen Purnomo, Sp.OT.

Dijelaskan dr. Glen, keajaiban medis ini bisa terwujud berkat kolaborasi tim lintas disiplin yang solid, bukan hanya mengandalkan keahlian dokter bedah (surgeon factor). National Hospital telah membentuk tim khusus yang melibatkan perawat khusus, tim ahli, fisioterapis, hingga dokter spesialis anestesi.
Sebelum naik ke meja operasi, kondisi pasien dioptimalisasi terlebih dahulu. Saat operasi berlangsung, dokter menerapkan teknik minimal invasive dengan pendekatan personalized alignment dan cruciate retaining. Pascaoperasi, manajemen nyeri dikendalikan melalui multimodal analgesia bersama dokter anestesi untuk menekan rasa sakit seminimal mungkin.
“Karena nyerinya bisa ditekan, pasien tidak perlu terpasang kateter dan bisa langsung berdiri serta berjalan dalam hitungan jam setelah operasi. Mayoritas pasien bahkan tidak membutuhkan alat bantu jalan karena keseimbangan mereka sudah kembali,” papar dr. Gllen.
Gaya Hidup Memicu Tren Pengapuran Sendi
Berdasarkan data global, tren penyakit pengapuran sendi (osteoarthritis) terus melonjak. dr. Glen menyebutkan, salah satu pemicu utamanya adalah pergeseran gaya hidup modern yang kurang bergerak (sedentary lifestyle).
“Faktor kegemukan dengan berat badan berlebih dan kurang aktif bergerak, misalnya hanya menonton TV dan tidur. Ini menyebabkan otot melemah sehingga beban bertumpu berat pada sendi lutut,” paparnya.
Meski demikian, dr. Glen mengingatkan bahwa operasi merupakan opsi terakhir. Penanganan pengapuran sendi selalu dimulai dari tahap non-operatif, seperti penurunan berat badan, latihan fisik, dan fisioterapi. Jika diperlukan, tindakan injeksi atau suntikan pada sendi lutut bisa dilakukan.
“Namun, pada kasus yang berat di mana kualitas hidup pasien sudah sangat menurun, opsi terbaiknya adalah knee replacement, baik itu penggantian sebagian (partial) maupun total (total knee replacement),” tambahnya.
Terkait faktor usia, dr. Glen menegaskan bahwa usia bukanlah penentu utama seorang pasien bisa mengikuti program pemulihan kilat ini. Penentu utamanya adalah jumlah penyakit penyerta (komorbid).
Namun diakui dari sekian banyak pasien sengan keluhan penyakit ini lebih banyak di usia 70 tahun ke atas . Dan biasanya dibarengi dengan penyakit lain yang menyertai.
“Makin banyak komorbidnya, kita harus makin selektif. Kuncinya adalah periode optimalisasi sebelum operasi. Jika kondisi komorbidnya berhasil kita kendalikan hingga optimal, maka pasien tersebut tetap menjadi kandidat yang aman untuk menjalani rapid recovery ini,” pungkasnya. (nov)




