Integrasi Ekonomi dan Budaya Jadi Jalan Kebangkitan

oleh -456 Dilihat

KILASJATIM.COM, Cianjur – Isu integrasi ekonomi berbasis gotong royong dan penguatan kebudayaan lokal menjadi sorotan utama dalam acara Hari Kebangkitan Nasional dan Refleksi Mei Reformasi yang diselenggarakan oleh Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran di Cianjur, Rabu, 20 Mei 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh para pegiat kebudayaan, pemuda lintas komunitas, pegiat seni dan masyarakat adat, serta berbagai kalangan dan suku, mulai dari Aceh, Bali, Makassar, dan Bandung, termasuk generasi milenial dan Gen Z, yang menjadi aktor utama dalam merawat semangat kebangkitan di era kekinian.

Acara tersebut juga mendapat dukungan dari Direktur Eksekutif Intelligence and National Security Studies (INSS), Stepi Anriani, yang diwakili oleh Sanik selaku Sekretaris Intelligence and National Security Studies (INSS), sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan nilai kebangsaan, persatuan, dan pelestarian budaya di tengah tantangan global yang terus berkembang.

“Indonesia punya banyak contoh kearifan lokal tentang gotong royong untuk solidaritas masyarakat. Nilai-nilai tersebut masih relevan di tengah tantangan global yang semakin berat karena kondisi geopolitik dan ekonomi global,” kata Tedi Subarkah, Kasepuhan Tjakra Poetra Padjadjaran.

Tedi mengatakan, integrasi ekonomi dipandang tidak semata sebagai upaya memperluas jaringan pasar, tetapi juga sebagai strategi memperkuat daya tahan komunitas lokal. Selain Tedi, para pembicara lainnya menekankan bahwa model ekonomi berbasis kolaborasi antar pelaku usaha kecil, koperasi, dan jaringan sosial menjadi fondasi penting untuk menghadapi tekanan global yang semakin dinamis.

“Jika kita berbicara tentang kebangkitan, tanah Pasundan punya banyak contoh kuat. Silih asih, silih asah, silih asuh. Cianjur punya tiga pilar budaya: ngaos, mamaos, dan maenpo,” kata Sekretaris Dinas Kebudayaan Cianjur Offan Soffarudin yang hadir dalam acara tersebut.

Baca Juga :  Perkuat Sektor Perumahan, SIG dan Asatu Realty Bangun Hunian di Cianjur

“Kita boleh maju secara teknologi tapi kebudayaan tidak bisa kita tinggal,” ujar M Alwan Rasyid Putra Robiansyah selaku ketua pelaksana sekaligus perwakilan kaum muda yang juga ikut hadir dalam acara.

Tedi dan Alwan sepakat, nilai-nilai tersebut harus terus dikembangkan dan dipraktikkan. Tantangan saat ini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan provokasi yang berpotensi memecah belah. “Kebangkitan itu bukan menunggu orang lain, tapi diri kita sendiri harus unggul dan berkreasi tanpa melupakan jati diri,” kata Tedi.

Selain forum diskusi, acara juga diisi dengan berbagai kegiatan yang merefleksikan semangat kebangsaan dan kebudayaan. Penampilan kesenian tradisional dan penampilan dari Perguruan Silat Kanca Satya menjadi pembuka yang menghidupkan identitas lokal, disusul orasi-orasi tentang makna kebangsaan yang menggugah kesadaran kolektif peserta.

Suasana semakin dinamis melalui musikalisasi puisi yang mengangkat tema perjuangan dan refleksi reformasi. Kegiatan juga dilengkapi dengan aksi bakti sosial sebagai wujud nyata gotong royong di tengah masyarakat.

Sebagai penutup, para peserta mendeklarasikan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk anarkisme dan menjaga persatuan. Deklarasi ini menjadi simbol bahwa kebangkitan generasi muda tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Tjakra Poetra Padjadjaran menegaskan bahwa kebangkitan bangsa harus berakar pada kekuatan lokal. Mulai dari ekonomi berbasis komunitas, nilai gotong royong, hingga kebudayaan sekaligus diperkuat oleh peran aktif generasi muda dalam menjaga persatuan di tengah tantangan global.(ara)

No More Posts Available.

No more pages to load.