PCNU Pamekasan Dorong NU Adaptif Hadapi Transformasi Digital dan Penguatan Ekonomi Umat

oleh -457 Dilihat

KILASJATIM.COM, Pamekasan – Menjelang pelantikan PCNU Pamekasan pada 16 Mei 2026 di PP Matsaratul Huda Panempan dengan tema “Bersama dalam Khidmah, Berdaya dalam Ekonomi”, refleksi mengenai peran Nahdlatul Ulama dinilai semakin relevan sebagai paradigma sosial yang terus bergerak di antara tradisi dan transformasi zaman.

Wakil Katib PCNU Pamekasan, Achmad Muhlis, menegaskan NU bukan sekadar simbol organisasi keagamaan, tetapi juga cara berpikir dan membangun peradaban berbasis nilai Islam moderat dan kemaslahatan sosial.

“NU pada hakikatnya bukan sekadar simbol kultural atau ekspresi ritual keagamaan, melainkan cara berpikir, cara merawat masyarakat, dan cara membangun peradaban yang berakar pada nilai-nilai Islam moderat, humanis, dan berbasis kemaslahatan sosial,” ujar Achmad Muhlis, Sabtu (16/5/2026).

Menurut Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam tersebut, masyarakat modern kini menghadapi perubahan cepat akibat transformasi digital, globalisasi budaya, dan perubahan pola relasi sosial. Kondisi itu, kata dia, menjadi tantangan besar bagi NU untuk tetap menjaga ruh tradisi tanpa tertinggal perkembangan zaman.

Ia menjelaskan, sejak awal NU lahir dari kesadaran bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial masyarakat. Dakwah, menurutnya, bukan sekadar menyampaikan ajaran agama, tetapi juga membangun kehidupan yang lebih manusiawi.

“NU tumbuh bukan di ruang elit yang eksklusif, tetapi di tengah masyarakat akar rumput melalui pesantren, majelis taklim, mushalla kampung, dan ruang-ruang sosial masyarakat tradisional,” terang Ketua Senat UIN Madura itu.

Achmad Muhlis yang juga Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning menilai kekuatan utama NU terletak pada kemampuannya membangun solidaritas sosial berbasis budaya dan spiritualitas.

Tradisi seperti tahlilan, maulid, istighasah, khatmil Qur’an, hingga gotong royong sosial dinilai bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga mekanisme sosial yang menjaga kohesi masyarakat dari fragmentasi budaya dan individualisme modern.

Baca Juga :  Pasca Kasus Mutilasi, Surabaya Perketat Pengawasan Kos dan Kontrakan

Ia mengutip pandangan Emile Durkheim yang menyebut agama sebagai sumber solidaritas kolektif yang membangun kesadaran bersama.

Namun demikian, Achmad Muhlis mengingatkan perubahan besar akibat transformasi digital telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, hingga memahami agama. Otoritas keilmuan kini tidak lagi hanya berada di ruang pesantren atau lembaga formal, tetapi juga bersaing dengan arus informasi media sosial yang cepat dan instan.

“Transformasi digital dalam perspektif NU tidak boleh dipahami sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah ruang digital yang sering kehilangan etika,” ujarnya.

Menurutnya, media sosial saat ini kerap dipenuhi ujaran kebencian, polarisasi identitas, hingga narasi keagamaan yang keras. Karena itu, NU dinilai memiliki tanggung jawab moral menghadirkan dakwah yang menyejukkan, moderat, dan berbasis kasih sayang.

Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan berbasis “kurikulum cinta” sebagai paradigma pendidikan yang memanusiakan manusia dengan menempatkan empati, penghormatan martabat individu, dan kasih sayang sebagai inti pembelajaran.

“Dalam tradisi pesantren dan NU, pendidikan sejatinya selalu dibangun di atas relasi cinta antara guru dan murid. Santri tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga belajar adab, kesabaran, keteladanan, dan keberkahan hubungan sosial,” katanya.

Achmad Muhlis menilai pendidikan yang hanya menekankan hukuman, kompetisi berlebihan, dan tekanan akademik berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual namun rapuh secara mental.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kepemimpinan profetik yang berlandaskan nilai shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah dalam membangun organisasi dan gerakan sosial NU di masa depan.

“Masyarakat modern saat ini sedang mengalami krisis keteladanan. Karena itu, kepemimpinan profetik menjadi alternatif penting untuk mengembalikan makna kepemimpinan sebagai pelayanan, pengabdian, dan tanggung jawab moral,” ujarnya.

Baca Juga :  Sukses Transformasi Digital Secara Masiv, Bank Jatim Raih Tiga Penghargaan

Tema pelantikan “Bersama dalam Khidmah, Berdaya dalam Ekonomi” juga dinilai menunjukkan kesadaran bahwa dakwah dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemberdayaan ekonomi umat.

Menurutnya, penguatan ekonomi berbasis komunitas menjadi bagian penting gerakan sosial NU untuk membangun kemandirian masyarakat melalui kewirausahaan digital, ekonomi kreatif pesantren, dan jaringan ekonomi berbasis komunitas.

“NU memiliki tanggung jawab besar untuk tetap menjadi penjaga nilai moderasi, kemanusiaan, dan spiritualitas, sekaligus menjadi motor transformasi sosial yang adaptif dan visioner,” pungkasnya.(iru)

No More Posts Available.

No more pages to load.