Museum Marsinah Diresmikan, Prabowo: Jadi Pengingat Perjuangan Kaum Buruh

oleh -102 Dilihat
Oleh
Redaksi
Editor
Foto: Istimewa

KILASJATIM.COM, Surabaya – Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5/2026). Peresmian itu disebut sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan kaum buruh sekaligus mengenang sosok Marsinah, aktivis buruh asal Jawa Timur yang kini menyandang gelar Pahlawan Nasional.

Dalam sambutannya, Prabowo menyebut museum buruh seperti Museum Marsinah sebagai peristiwa langka. Ia menilai museum tersebut menjadi simbol perjuangan masyarakat kecil yang selama ini memperjuangkan hak dan keadilan.

“Museum ini didirikan sebagai simbol perjuangan mereka yang berada di pihak lemah, orang-orang miskin dan tidak punya kekuasaan,” kata Prabowo saat peresmian.

Presiden kemudian menandatangani prasasti dan menekan tombol peresmian museum yang dibangun di kampung halaman Marsinah tersebut.

Prabowo tiba sekitar pukul 09.00 WIB dengan didampingi sejumlah pejabat, di antaranya Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, hingga Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea.

Kedatangan Prabowo disambut ribuan buruh yang memadati kawasan Stadion Anjuk Ladang hingga jalur menuju Desa Nglundo. Sejumlah buruh juga melakukan long march menuju lokasi acara.

Di dalam museum, Prabowo sempat melihat berbagai koleksi yang berkaitan dengan perjalanan hidup Marsinah, mulai dari kamar pribadi, pakaian terakhir yang dikenakan, profil perjuangan, hingga diorama kasus yang menimpa aktivis buruh tersebut.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan tragedi yang dialami Marsinah seharusnya tidak terjadi di negara yang berdasar pada Pancasila.

“Peristiwa Marsinah yang dibunuh secara keji karena memperjuangkan buruh pabrik sesungguhnya tidak perlu terjadi,” ujarnya.

Marsinah dikenal sebagai buruh PT Catur Putra Surya di Porong, Sidoarjo, yang aktif memperjuangkan kenaikan upah pekerja pada 1993. Saat itu, ia bersama rekan-rekannya menuntut kenaikan upah harian dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 sesuai aturan pemerintah daerah.

Baca Juga :  Di Hadapan Delegasi OIC-CA 2023, Wagub Emil Kenalkan Turots Hingga Batik Jawa Timur

Pada 3 Mei 1993, Marsinah memimpin aksi mogok kerja. Setelah tuntutan pekerja disepakati perusahaan, Marsinah dilaporkan hilang. Lima hari kemudian, tepatnya 8 Mei 1993, ia ditemukan meninggal dunia di kawasan hutan Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk.

Kasus kematian Marsinah menjadi salah satu simbol perjuangan hak asasi manusia dan buruh di Indonesia. Pemerintah kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah pada 10 November 2025 bertepatan dengan Hari Pahlawan.

Selain museum, pemerintah juga meresmikan rumah singgah di area belakang kompleks museum. Fasilitas itu nantinya dapat dimanfaatkan para buruh setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB.(cit)

No More Posts Available.

No more pages to load.