KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Tren positif ditunjukkan oleh sektor kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Sidoarjo. Sepanjang tahun 2025, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di wilayah ini mencatatkan penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kendati menunjukkan perbaikan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo menegaskan tetap melakukan pengawasan ketat dan penanganan serius terhadap sisa kasus yang masih ditemukan di lapangan.
Evaluasi Faktor Risiko dari Usia hingga Stroke Kehamilan
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengapresiasi penurunan angka tersebut sebagai buah dari berbagai program peningkatan layanan kesehatan. Namun, pihaknya memastikan evaluasi tetap berjalan secara komprehensif.
“Ada beberapa kasus yang masih kami dalami, termasuk faktor risiko seperti usia ibu dan kondisi kesehatan selama kehamilan. Ini menjadi bahan evaluasi penting bagi kami,” ujar dr. Lakhsmie, Sabtu (16/5/2026).
Ia membeberkan bahwa faktor penyebab fatalitas pada ibu hamil dan bayi sangatlah beragam. Selain masalah klasik seperti kehamilan di usia yang terlalu muda, komplikasi medis berat yang jarang diduga seperti serangan stroke saat masa kehamilan kini juga menjadi salah satu risiko krusial yang diwaspadai.
Oleh karena itu, dr. Lakhsmie menilai penguatan deteksi dini (early detection) dan pendampingan berkelanjutan bagi ibu hamil menjadi instrumen paling krusial. Setiap ibu hamil wajib dipastikan mendapatkan akses pemeriksaan rutin secara berkala serta edukasi gizi dan kesehatan yang memadai.
Di samping intervensi secara medis di puskesmas maupun rumah sakit, Dinkes Sidoarjo juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis komunitas. Peran aktif dari para kader kesehatan, tokoh perempuan, dan penggerak di tingkat desa dinilai menjadi kunci utama keberhasilan program.
Pemimpin perempuan dan kader di desa memiliki posisi strategis untuk menyosialisasikan pentingnya kesehatan reproduksi, sekaligus menjadi pendamping terdekat yang memantau kondisi harian ibu hamil di lingkungannya masing-masing.
“Perempuan harus terus diberdayakan di semua aspek karena mereka adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan keluarga,” tegas dr. Lakhsmie.
Melalui komitmen ini, Dinas Kesehatan Sidoarjo memastikan akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor. Sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga kader posyandu akan terus dipacu guna menjamin setiap ibu hamil di Sidoarjo mendapatkan perhatian dan layanan kesehatan yang optimal.(TAM)

