Perubahan Iklim Ancam Keselamatan Jemaah Haji, Suhu Ekstrem Dinilai Kian Berbahaya

oleh -142 Dilihat
Foto Istimewa

KILASJATIM.COM – Perubahan iklim dinilai menimbulkan ancaman yang semakin serius bagi jutaan jemaah haji, menyusul meningkatnya suhu dan kelembapan ekstrem yang mulai melampaui batas toleransi tubuh manusia selama musim haji 2024.

Berdasarkan studi terbaru yang dipresentasikan dalam pertemuan European Geosciences Union (EGU) 2026, pada beberapa jam selama pelaksanaan haji tahun lalu, tingkat stres panas tercatat melebihi ambang toleransi bahkan bagi orang dewasa muda yang sehat.

Penelitian tersebut disusun oleh tim dari Weather and Climate Services, Islamabad, Pakistan, bersama Climate Analytics, Berlin, Jerman. Para peneliti menemukan bahwa pada Juni 2024, kombinasi suhu tinggi dan kelembapan menyebabkan periode sekitar empat jam berturut-turut di mana paparan panas di ruang terbuka berpotensi mematikan tanpa pendinginan atau pertolongan cepat.

Para ilmuwan menegaskan bahwa kondisi cuaca selama ibadah haji diperkirakan akan semakin berbahaya dalam beberapa dekade mendatang.

Ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam setiap tahun menarik jutaan jemaah ke Makkah untuk menjalani rangkaian ibadah yang menuntut aktivitas berjalan kaki panjang di bawah paparan sinar matahari.

Hari Arafah disebut sebagai ritual dengan risiko tertinggi karena para jemaah berada di luar ruangan hampir sepanjang hari dengan fasilitas peneduh yang terbatas.

Meski sejumlah penyesuaian telah dilakukan, seperti pelaksanaan Sa’i di area tertutup dan pembangunan struktur perlindungan permanen di Mina, EGU menilai perubahan tersebut memang meningkatkan keselamatan jemaah, namun sekaligus mengubah nuansa tradisional ibadah haji.

Selama musim haji 2024, sekitar 1.300 kematian dilaporkan terjadi akibat kondisi cuaca ekstrem dan kelelahan panas. Di sisi lain, Pemerintah Arab Saudi berencana menambah jumlah jemaah pada masa mendatang, sehingga menimbulkan kekhawatiran baru terhadap meningkatnya paparan panas ekstrem.

Baca Juga :  Satpolairud Polres Situbondo Himbau Masyarakat Waspada Terhadap Cuaca Ekstrem

Para penulis studi juga mencatat bahwa pola iklim akan memengaruhi musim haji berikutnya. Dalam 20 hingga 30 tahun ke depan, ibadah haji diperkirakan berlangsung pada musim yang relatif lebih sejuk. Namun sekitar tahun 2050, musim haji diproyeksikan kembali jatuh pada periode panas, sehingga risiko cuaca ekstrem diperkirakan meningkat lagi.

Para ilmuwan pun menyerukan langkah adaptasi yang mendesak disertai mitigasi perubahan iklim secara global.

“Mitigasi sangat penting tidak hanya untuk melindungi para jemaah, tetapi juga untuk melestarikan esensi dan praktik tradisional ibadah haji itu sendiri,” tulis para peneliti, dikutip Senin (11/5/2026).

Mereka menambahkan bahwa meski langkah adaptasi mampu menekan sebagian risiko, upaya tersebut tidak akan sepenuhnya menghilangkan ancaman apabila pemanasan global terus berlanjut.

Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan mulai memengaruhi pelaksanaan ibadah keagamaan dan pertemuan massal di berbagai belahan dunia. (PRO)

No More Posts Available.

No more pages to load.