Dusun Balian Banyuwangi, Harmoni Toleransi dan Budaya yang Tetap Lestari

oleh -717 Dilihat

KILASJATIM.COM, Banyuwangi – Aroma dupa samar tercium saat memasuki Dusun Patoman Tengah, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi. Deretan rumah dengan ornamen khas Bali berdiri rapi di kanan-kiri jalan. Gapura dan pura tampak menyatu dengan kehidupan warga yang berjalan tenang dan penuh keakraban.

Masyarakat Banyuwangi mengenal kawasan tersebut sebagai Dusun Balian. Julukan itu melekat karena mayoritas penduduknya merupakan umat Hindu. Namun, lebih dari sekadar kampung bernuansa Bali, dusun ini menjadi potret harmoni keberagaman yang masih terjaga kuat di Banyuwangi.

Di dusun tersebut, perbedaan keyakinan bukan menjadi sekat. Warga hidup berdampingan dan saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan. Saat umat Hindu menggelar upacara adat maupun persembahyangan, warga dari keyakinan lain turut membantu menyiapkan kebutuhan acara. Begitu pula sebaliknya.

“Kalau ada kegiatan pasti saling bantu. Sudah biasa seperti keluarga sendiri,” ujar Kepala Dusun Patoman Tengah, I Gede Yuda Permana, Senin (11/5/2026).

Tak heran jika Dusun Patoman kerap disebut sebagai Kampung Pancasila. Nilai toleransi tumbuh alami dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Suasana budaya juga terasa begitu kuat di dusun tersebut. Di tengah permukiman berdiri sebuah pura desa yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang belajar budaya bagi anak-anak dan remaja.

Menjelang sore, suara gamelan kerap terdengar dari area pura. Anak-anak tampak berlatih tari tradisional dengan penuh semangat, sementara para remaja belajar memainkan alat musik tradisional Bali.

Bagi warga Dusun Balian, menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi cara merawat identitas di tengah perubahan zaman.

Di balik kehidupan yang kental dengan budaya, denyut ekonomi kreatif masyarakat juga terus bergerak. Salah satunya terlihat dari usaha seni ukir milik Kayan Suartana.

Baca Juga :  AHY: Kredit Program Perumahan Jadi Motor Penggerak Ekonomi Rakyat di Jawa Timur

Pria yang aktif sebagai seniman tari dan musik tradisional itu mulai merintis usaha ukiran sejak tahun 2000. Di tangannya, kayu dan pasir pantai disulap menjadi ornamen rumah hingga patung artistik bernilai jual tinggi.

Karya-karyanya kini dipasarkan hingga Bali, Nganjuk, dan Jawa Tengah. Dedikasinya dalam melestarikan budaya melalui seni bahkan membuatnya menerima penghargaan tali kasih dari mantan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pada 2015.

Tidak hanya seni, warga Dusun Balian juga mulai mengembangkan sektor pertanian bernilai ekonomi tinggi melalui budidaya Cabe Jawa atau Cabe Puyang. Di lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi, Made Ardana merawat sekitar seribu pohon Cabe Jawa yang merambat rapi di sela pepohonan penyangga.

“Perawatannya lebih mudah dibanding cabai biasa. Setelah dipanen tinggal direbus lalu dijemur sekitar tiga hari,” ujar Made.

Meski terlihat sederhana, komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi. Setelah dikeringkan, Cabe Jawa dijual sekitar Rp85 ribu per kilogram dan dipasarkan hingga luar negeri seperti Jepang dan China untuk kebutuhan industri kosmetik.

Dusun Balian hari ini bukan hanya tentang kampung Hindu di Banyuwangi. Dusun ini menjadi ruang hidup tempat budaya, toleransi, dan kreativitas tumbuh berdampingan.

Di tengah derasnya modernisasi, warga di dusun kecil tersebut tetap menjaga warisan leluhur sambil terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.(zul)

No More Posts Available.

No more pages to load.