Dari Kawah Candradimuka Jadi “Kolam Pancing”

oleh -128 Dilihat
Oleh
Kusnan
Seniman Surabaya menilai rencana pemkot menertibakan bangunan Balai Pemuda dinilai tak sesuai dengan nilai seni oleh seniman surabaya

KILASJATIM.COM, Surabaya – Polemik Dewan Kesenian Surabaya (DKS) kembali mendapat sorotan. Seniman senior Surabaya, Kusnan, melontarkan kritik keras terhadap kondisi DKS yang dinilai telah kehilangan ruh sebagai ruang pembinaan dan lahirnya karya-karya seni.

Kusnan mengingat kembali masa awal pembentukan Dewan Kesenian Kota Surabaya (DKKS) pada 10 Juni 2022. Saat itu, ia termasuk pihak yang menentang pembentukan lembaga tersebut karena khawatir memicu perpecahan di kalangan seniman.

“Bergandeng dengan pemerintah itu harus, tapi bukan menjadi boneka,” ujar Kusnan.

Kala itu, ia meminta agar kepemimpinan berjalan hingga selesai, lalu dilanjutkan melalui musyawarah untuk memilih ketua baru. Menurutnya, langkah tersebut lebih dewasa dan mampu menjaga independensi para pelaku seni.

Kini, kritik Kusnan tak lagi diarahkan kepada Pemerintah Kota Surabaya, melainkan kepada tubuh DKS sendiri. Ia membandingkan kondisi DKS era 1980-an dengan situasi saat ini.

Menurutnya, DKS dahulu menjadi “kawah candradimuka” bagi lahirnya seniman dan sastrawan besar Surabaya. Meski sekretariatnya sederhana dan berada di sudut kota, banyak karya besar lahir dari tempat tersebut.

“Dulu sekretariatnya kecil seperti kamar kos buruh pabrik, tapi melahirkan banyak karya dan tokoh besar,” katanya.

Sebaliknya, Kusnan menilai DKS saat ini justru kehilangan fungsi utamanya meski memiliki gedung yang lebih representatif di kawasan Balai Pemuda.

“Sekarang terlihat megah, tapi bagi saya hanya rumah tua. Bukan lagi rumah produksi seniman atau kawah candradimuka, tapi seperti kolam pancing berair keruh. Siapa pun yang punya kepentingan bisa memancing di sana,” ujarnya.

Kusnan juga menyoroti belum adanya musyawarah pemilihan ketua DKS baru setelah masa kepengurusan berakhir pada Desember 2024. Ia menilai kondisi tersebut memperlihatkan buruknya tata kelola organisasi.

Baca Juga :  Surabaya Dorong Kampung Pancasila Jadi Basis Kerukunan dan Keamanan Warga

Menurut dia, seharusnya DKS bersama Dinas Kebudayaan segera menggelar musyawarah seniman untuk menentukan kepemimpinan baru.

“Era kepemimpinan Chrisman awalnya saya kira bisa lebih dekat dengan seniman kampung dan tradisional. Tapi ternyata tetap memecah seniman,” katanya.

Pernyataan Kusnan muncul di tengah memanasnya situasi internal DKS, termasuk penyegelan kantor DKS oleh Satpol PP yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan sejumlah media elektronik. Dalam beberapa kesempatan, Chrisman juga terlihat menggalang dukungan bersama sejumlah seniman, mahasiswa, dan aktivis.

Meski melontarkan kritik tajam, Kusnan berharap polemik yang terjadi tidak semakin memperuncing konflik antarseniman. Ia meminta semua pihak mengedepankan kebesaran hati dan kejernihan berpikir dalam mencari solusi.

“Kudu gede atine, kudu dowo pikirane. Kadang yang dipikir berbeda dengan kenyataan,” kelakar Kusnan.(cit)

No More Posts Available.

No more pages to load.