KILASJATIM. COM, Surabaya— The People’s Cafe sejak awal dikenal sebagai brand yang dekat dengan keseharian—menghadirkan berbagai makanan dan jajanan lokal yang terasa familiar, dengan pendekatan yang lebih ringan dan mudah dinikmati.
Tidak semua hal baru harus terasa asing. Kadang, yang justru paling terasa adalah sesuatu yang sudah dikenal, namun dihadirkan dengan cara yang berbeda. Ide inilah yang menjadi titik temu antara The People’s Cafe dan Bu Rudy dalam kolaborasi terbarunya, yang menghadirkan tiga menu spesial sebagai bagian dari inisiatif ini yang akan tersedia di seluruh gerai The People’s Cafe mulai 5 Mei 2026.
Seiring waktu, pendekatan ini terus berkembang, mengikuti bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, menikmati makanan hari ini: tetap mencari rasa yang dekat, namun dalam pengalaman yang lebih kasual dan relevan.
Di sisi lain, Bu Rudy membawa perjalanan yang berbeda. Berawal dari usaha rumahan di Surabaya, brand ini tumbuh menjadi salah satu nama yang dikenal luas, tidak hanya karena rasa, tetapi juga karena konsistensi dan hubungan yang terbangun dengan pelanggannya. Kedua pendekatan ini—yang satu dekat dengan keseharian hari ini, yang satu lagi berakar dari perjalanan panjang—akhirnya bertemu dalam satu kolaborasi.
Nuranti Dwiyana Putri – Brand Marketing Manager The People’s Cafe mengatakan kolaborasi lahir dari semangat yang sama antara The People’s Cafe dan Bu Rudy, yakni memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara kepada masyarakat luas. The People’s Cafe yang kini telah memiliki 58 outlet di berbagai kota di Indonesia ingin menjadi ruang yang lebih dekat bagi masyarakat untuk menikmati makanan khas daerah tanpa harus datang langsung ke kota asalnya.
“Di tahun 2026 ini kami memang ingin meng-highlight menu-menu dari berbagai kota di Indonesia, dan kami awali dari Jawa Timur. Kalau bicara ikon kuliner Jawa Timur, tentu salah satunya adalah Bu Rudy,” ujarnya saat ditemui di The People’s Cafe, Jumat (8/5).
Dalam kolaborasi ini, The People’s Cafe menghadirkan sejumlah menu khas yang dipadukan dengan sambal legendaris Bu Rudy, seperti Nasi Cumi Komplit, Nasi Lidah Komplit, dan Nasi Sate Kelapa. Seluruh menu dibanderol mulai Rp38 ribuan sehingga tetap terjangkau bagi berbagai kalangan.
Pengembangannya dilakukan melalui proses yang cukup detail, untuk memastikan setiap elemen tetap terasa seimbang—tidak saling mengalahkan, tetapi justru saling melengkapi dalam satu pengalaman makan yang utuh. Menu kolaborasi ini juga dapat dinikmati di seluruh gerai The People’s Cafe, yang saat ini telah hadir di 63 lokasi di berbagai kota di Indonesia.
“Sekarang generasi muda sudah semakin bangga dengan makanan Indonesia. Mereka tidak malu lagi memperkenalkan kuliner lokal. Itu yang ingin terus kami dorong,” katanya.
Ranti menjelaskan, seluruh menu yang diluncurkan telah melalui proses riset panjang sebelum akhirnya dipasarkan ke publik. Mulai dari survei selera konsumen, pengembangan resep, hingga sesi panel testing yang melibatkan lebih dari 100 orang.
“Kami tidak ingin hanya mengejar menu viral. Yang paling penting adalah makanan ini disukai dan membuat orang ingin kembali lagi. Karena itu riset dan feedback customer sangat penting bagi kami,” jelasnya.
Meski Bu Rudy telah lama menghadirkan hidangan di Surabaya, kolaborasi ini menjadi cara untuk membawa cita rasa yang sudah dikenal tersebut ke audience yang lebih luas, melalui pendekatan yang lebih accessible.
Dengan tetap menjaga konsistensi dari sisi rasa dan kualitas, kolaborasi ini memungkinkan lebih banyak orang untuk menikmati karakter khas Bu Rudy dalam konteks yang berbeda, tanpa kehilangan identitas yang sudah dibangun selama ini.
“Bagi kami, yang terpenting adalah bagaimana rasa yang sudah dikenal bisa tetap dinikmati dengan cara yang konsisten, di mana pun orang mencobanya. Kolaborasi ini menjadi kesempatan untuk membawa cita rasa khas yang sudah kami jaga selama ini ke lebih banyak orang, tanpa mengubah apa yang menjadi karakter utamanya,” ungkap Lanny Siswadi, pemilik Bu Rudy.
Di tengah banyaknya inovasi dan tren baru di industri F&B, menjaga rasa dan identitas kuliner lokal tetap menjadi hal yang penting. Kolaborasi seperti ini menjadi salah satu cara untuk tetap relevan, tanpa meninggalkan akar budaya yang sudah ada. Pada akhirnya, hanya kita yang bisa menjaga dan melestarikan warisan kuliner kita sendiri, terutama di tengah semakin banyaknya pengaruh dan kehadiran brand F&B dari luar.
Konsumen saat ini juga semakin eksploratif, tidak hanya mencari rasa yang enak, tetapi juga cerita di balik sebuah hidangan—mulai dari asal-usul hingga karakter yang dibawanya. Hal ini membuat makanan lokal semakin relevan, terutama ketika dihadirkan dengan pendekatan yang lebih modern dan accessible.
“Bagi kami, yang menarik dari kolaborasi ini adalah bagaimana sesuatu yang sudah dikenal bisa dihadirkan kembali dengan cara yang terasa lebih dekat dengan keseharian sekarang. Tidak mengubah esensinya, tapi menyesuaikan bagaimana orang menikmatinya hari ini,” ujar Cendyarani, President Director ISMAYA Group.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini menjadi bagian dari cara The People’s Cafe melihat perkembangan selera masyarakat, terutama generasi muda yang kini semakin terbuka untuk menikmati makanan lokal dengan cara yang lebih kasual dan relevan dengan gaya hidup mereka. Menurutnya, rasa yang familiar tetap memiliki tempat yang kuat, namun cara penyajiannya perlu terus berkembang agar tetap terasa dekat dan mudah dinikmati dalam berbagai momen.
Bagi The People’s Cafe, comfort food tidak hanya tentang rasa yang sederhana dan familiar, tetapi juga tentang koneksi emosional—makanan yang mengingatkan pada momen, kebiasaan, dan pengalaman yang dekat dengan keseharian. (nov)




