Saat Kampus Diukur Industri, Ke Mana Arah Pendidikan?

oleh -96 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Ruang-ruang kelas di perguruan tinggi tak lagi sekadar tempat bertukar gagasan. Di balik papan tulis dan layar presentasi, ada arah besar yang tengah diperdebatkan: untuk apa sebenarnya pendidikan tinggi diselenggarakan?

Rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri memantik diskusi luas. Di satu sisi, kebijakan ini dinilai sebagai langkah realistis menghadapi tuntutan pasar kerja. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa kampus perlahan kehilangan ruhnya sebagai ruang pembentuk manusia seutuhnya.

Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Dr. Radius Setiyawan, M.A., melihat kebijakan ini bukan fenomena baru. Ia menilai arah tersebut merupakan kelanjutan dari paradigma lama yang telah mengakar sejak puluhan tahun lalu. “Sejak Orde Baru, kita sudah mengenal diksi pembangunan, modernisasi, hingga konsep link and match dengan industri,” terang Radius, Selasa (28/4/2026).

Istilah link and match sendiri merujuk pada keterhubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri, sekaligus kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja. Dalam praktiknya, konsep ini membuat kurikulum, metode pembelajaran, hingga orientasi kampus semakin mendekat pada kebutuhan industri.

Namun bagi Radius, pendekatan tersebut menyisakan pertanyaan mendasar tentang arah pendidikan. “Secara kritis, konsep link and match berpotensi melahirkan manusia yang kurang kritis, hanya berorientasi material, dan hanya difokuskan sebagai tenaga kerja di sektor industri,” tegas Radius.

Ia melihat narasi pendidikan di Indonesia tidak banyak berubah sejak era Orde Baru. Gagasan seperti mengejar ketertinggalan, modernisasi, dan pembangunan masih menjadi landasan utama, seolah menjadi satu-satunya jalan menuju kemajuan. “Terjadi semacam demitologisasi pembangunan yang justru melahirkan mitos baru tentang keharusan mengejar ketertinggalan,” ujarnya.

Baca Juga :  Keren! Banyuwangi Punya Pusat Pencegahan Polusi Plastik (Living Lab) Pertama di Indonesia

Narasi tersebut, menurut Radius, kerap mendorong masyarakat meninggalkan nilai-nilai lama demi mengejar standar modernitas yang identik dengan pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Dalam konteks ini, pendidikan pun diarahkan mengikuti logika yang sama. “Praktiknya menyerupai ruang pasar bebas, di mana arah pendidikan diserahkan pada kebutuhan industri,” tambah Radius.

Radius menilai, peran negara dalam pendidikan kini lebih banyak hadir melalui regulasi yang secara halus membentuk perilaku individu. Mahasiswa didorong untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar, bahkan sebelum mereka benar-benar masuk ke dunia kerja. “Individu menginternalisasi prinsip-prinsip pasar dan mengontrol dirinya sendiri. Siswa dikendalikan melalui norma sosial yang mendorong kompetisi berorientasi industri,” jelas Radius

Di titik ini, pendidikan tidak lagi sekadar proses pencarian ilmu, melainkan juga arena kompetisi untuk bertahan dalam sistem ekonomi. Radius melihat kecenderungan ini sebagai bentuk marketisasi dan komersialisasi pendidikan yang semakin kuat. “Pendidikan didorong untuk mengikuti kepentingan industri. Ini merupakan bentuk determinasi terhadap berbagai sektor, termasuk pendidikan,” pungkas Radius.

Di tengah arus kebijakan dan tuntutan zaman, pertanyaan lama kembali mengemuka: apakah pendidikan hanya bertugas mencetak tenaga kerja, atau tetap menjadi ruang membentuk manusia yang kritis dan merdeka berpikir?.(tok)