KILASJATIM.COM, Surabaya – Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengukuhkan tiga Guru Besar dari bidang Sains Data, Business Intelligence, serta Desain dan Perilaku. Dalam pengukuhan tersebut, para akademisi menyoroti tantangan besar Indonesia, mulai dari lemahnya identitas destinasi wisata hingga risiko penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Wirawan E.D. Radianto, menegaskan bahwa pengukuhan ini menjadi langkah strategis untuk menjawab dinamika zaman. “Pengukuhan tiga Guru Besar hari ini menjadi langkah penting dalam memperkuat peran universitas agar tetap relevan dengan tantangan zaman. Kami ingin memastikan teknologi, data, dan pemahaman manusia berjalan sebagai satu kesatuan untuk menghasilkan solusi nyata,” tegas Prof. Wirawan.
Ia menambahkan, peran Guru Besar tidak berhenti pada riset, tetapi juga harus berdampak langsung bagi masyarakat. “Saya berharap para Guru Besar tidak hanya melahirkan gagasan, tetapi juga mampu membentuk generasi pemimpin masa depan serta menjadi motor penggerak perubahan yang berdampak luas bagi masyarakat,” lanjut Rektor.
Guru Besar bidang Desain dan Perilaku, Prof. Dr. Astrid S.T., M.M., menyoroti persoalan sektor pariwisata Indonesia yang dinilai belum memiliki identitas kuat. “Banyak ruang komersial tradisional kita berkembang, tetapi belum memiliki identitas yang jelas. Akibatnya terlihat serupa dan sulit bersaing sebagai destinasi wisata,” papar Astrid.
Menurutnya, wisata saat ini menuntut pengalaman autentik yang lahir dari interaksi manusia dan budaya lokal. “Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat, tapi pengalaman. Dan pengalaman itu lahir dari interaksi manusia, bukan sekadar desain fisik,” tambah Astrid.
Sementara itu, Guru Besar bidang Sains Data, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata S.T., M.Eng., Sc., mengungkap adanya paradoks dalam pemanfaatan AI di Indonesia. “Sebanyak 92 persen individu sudah menggunakan AI, tetapi adopsi di tingkat organisasi baru sekitar 47 persen. Kita cepat mencoba, tetapi belum sepenuhnya siap mengelola,” ungkap Trianggoro. Ia mengingatkan risiko ketergantungan pada teknologi yang dapat melemahkan kemampuan berpikir manusia. “AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak,” tegas Trianggoro.
Guru Besar bidang Business Intelligence, Prof. Dr. Adi Suryaputra P., S.Kom., M.Kom., menambahkan bahwa risiko AI juga menyentuh aspek pengambilan keputusan.
“Bahaya AI bukan salah hitung, tetapi saat manusia berhenti berpikir dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sistem,” ujar Adi. Ia menekankan bahwa teknologi tidak memiliki pemahaman konteks maupun tanggung jawab. “AI dapat menghitung dan memprediksi, tetapi tidak memahami dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban,” tutup Adi.
Ketiga Guru Besar tersebut sepakat bahwa keseimbangan antara teknologi, data, dan peran manusia menjadi kunci dalam menghadapi tantangan masa depan Indonesia.(tok)
