Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) berulang tahun pada 19 April 2026. Usianya memasuki 96 tahun. Namun di usia hampir satu abad itu, satu pertanyaan masih menggantung di awang-awang: kapankah tim nasional Garuda menembus Piala Dunia?
Satu-satunya catatan sejarah Indonesia di Piala Dunia adalah pada 1938 di Prancis. Saat kemerdekaan belum diproklamasikan. Tim yang berangkat pun atas nama Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU), sebuah federasi bentukan pemerintah kolonial Belanda.
Setelah itu, Piala Dunia sebatas nostalgia saja, dan kita hanya puas dengan kenangan-kenangan ”nyaris lolos” dan kisah-kisah ”jika saja”. Salah satunya ”jika saja” Presiden Soekarno mengizinkan timnas berlaga melawan Israel, banyak yang percaya Indonesia akan lolos Piala Dunia 1958.
Suatu pandangan yang tergesa-gesa, karena belum tentu juga Indonesia akan bisa mengalahkan Israel. Selain itu, masih ada pertandingan terakhir menghadapi Wales di babak kualifikasi antar konfederasi benua.
Catatan prestasi tim nasional di tingkat Asia dan Asia Tenggara juga tidak terlalu mentereng. Indonesia tidak pernah juara Piala AFC Asia dan Piala AFF. Untuk perhelatan SEA Games pun, Indonesia hanya tiga kali merebut medali emas. Bandingkan dengan Thailand yang telah merebut medali emas sepak bola hingga 16 kali.
Tak heran kemudian selama bertahun-tahun orang tidak terlalu bersemangat membicarakan tim nasional senior. Peluang besar terakhir untuk lolos ke Piala Dunia 2026 dengan kekuatan timnas yang berisi pemain-pemain naturalisasi juga akhirnya kandas.
Sebenarnya, harapan bukannya tidak ada. Tim Indonesia di kelompok usia justru menunjukkan tajinya. Tahun 1979, Indonesia ikut serta dalam Piala Dunia U20 di Jepang. Dalam tiga pertandingan di Grup B, Indonesia dihajar Argentina 0-5, Polandia 0-6, dan Yugoslavia 0-5. Dari segi hasil, jelas tim Garuda Muda gagal total. Namun tampil di Piala Dunia tentulah membanggakan.
Empat dasawarsa kemudian, tepatnya pada 2023, Indonesia kembali tampil di Piala Dunia, kali ini U17 dengan status tuan rumah. Dalam kesempatan itu, Indonesia berada di Grup A dan gagal lolos ke babak selanjutnya setelah bermain imbang 1-1 masing-masing dengan Ekuador dan Panama, serta kalah 1-3 dari Maroko.
Dua tahun kemudian, Indonesia lolos ke Piala Dunia U17 di Qatar. Indonesia kembali gagal lolos dari fase grup. Namun saat itu setelah kalah 1-3 dari Zambia dan 0-4 dari Brasil, Indonesia mencatatkan sejarah kemenangan pertama di ajang Piala Dunia, dengan mengalahkan Honduras 2-1.
Di level regional Asia Tenggara, saat tim nasional senior gagal meraih Piala AFF, tim kelompok usia justru mencatatkan hasil positif. Selain memenangi Piala AFF U16 pada 2018 dan 2022, Indonesia juga merebut Piala AFF U19 pada 2013 dan 2024 serta Piala AFF U22 pada 2019.
Soekarno Cup dan Pentingnya Pembinaan Usia Muda
Rangkaian keberhasilan Indonesia di turnamen kelompok usia menyadarkan banyak orang tentang pentingnya ruang kompetisi bagi pemain-pemain muda. PSSI menyediakan kompetisi kelompok usia Piala Suratin U13, U15, dan U17, dan EPA (Elite Pro Academy) untuk U14, U16, U18, dan U20.
Namun kompetisi tersebut belum bisa menjaring seluruh pemain muda potensial di Indonesia, terutama di pelosok-pelosok. Gaya pelatih Indra Sjafrie yang keliling kampung-kampung untuk mencari pemain yang memperkuat tim sepak bola U19 menunjukkan betapa besarnya potensi pemain muda yang tak terpantau sistem kompetisi formal federasi.
Maka tak heran jika kemudian banyak pihak yang berminat menggelar kompetisi sepak bola kelompok usia, seperti perusahaan media Kompas yang menggelar Liga Kompas Gramedia (LKG) U-14 sejak 2010 dengan melibatkan sekolah-sekolah sepak bola. Kompetisi ini telah menghasilkan banyak pemain yang menembus liga resmi federasi dan tim nasional.
Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan juga rutin menggelar Soekarno Cup. Setelah digelar di Jakarta (2023) dan Bali (2025), kini giliran Jawa Timur akan menjadi saksi perhelatan turnamen U17 tersebut pada Juli-Agustus 2026. Tahun ini, Soekarno Cup diproyeksikan diikuti 16 tim dari berbagai regional/provinsi di Indonesia; melibatkan sekitar 400 talenta muda.
Kini, di 16 regional/provinsi tersebut sedang semarak persiapan pembentukan tim. Ada provinsi yang menggelar roadshow seleksi keliling mencari talenta-talenta muda terbaik di wilayahnya. Di Jawa Timur, misalnya, seleksi terbuka digelar di 5 regional (Banyuwangi, Blitar, Malang, Bangkalan, dan Surabaya) yang diikuti total 1.600 pemain muda. Di Jawa Barat, seleksi Soekarno Cup digelar di berbagai regional, seperti Bandung Raya, Bogor Raya, Bekasi Raya, Cirebon Raya, dan kawasan Priangan.
Soekarno Cup ingin membuka ruang dan peluang bagi siapa pun untuk bermain dan berkembang melalui sepak bola. Turnamen ini didedikasikan untuk memperkuat ekosistem pembinaan sepak bola usia muda. Anak-anak muda kita butuh panggung untuk menguji diri dan timnya, dan di sinilah Soekarno Cup hadir, menjadi alternatif yang saling dukung dengan laga-laga usia muda lainnya, seperti Piala Soeratin dan EPA.
Itulah sejatinya sepak bola akar rumput, dalam tradisi sepak bola Inggris disebut “grass roots football”, yang harus terus disentuh. Melalui pembentukan tim Soekarno Cup dari 16 regional/provinsi ini, PDI Perjuangan menegaskan komitmen untuk terus memperkuat ekosistem pembinaan talenta muda sepak bola dengan pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan. Maka Soekarno Cup adalah laboratorium pembinaan talenta muda.
Dan kita berharap, dari laboratorium itu, akan lahir para pesepakbola yang akan mengguncang persepakbolaan nasional, bahkan dunia.
Soekarno Cup menjadi iktikad baik bersama untuk menciptakan ruang kesempatan bagi pembinaan talenta muda di Indonesia. Semua didasarkan keyakinan bahwa pembinaan pemain muda tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan federasi, namun juga tanggung jawab elemen masyarakat yang peduli. Setidaknya kita berharap, lewat Soekarno Cup, ada rintisan jalan lain yang bisa ditapaki para talenta muda untuk menuju panggung yang lebih besar, hingga kelak mengenakan jersey Timnas Garuda. (*)
