KILASJATIM.COM, Surabaya – Kabar menggembirakan datang dari Nasional Hospital Surabaya yag kali ini menghadirkan tindakan psikosurgery, sebuah prosedur bedah saraf presisi yang ditujukan bagi pasien dengan gangguan mental berat.
Langkah baru ini diwujudkan dari hasil kolaborasi dengan menggandeng West China Hospital of Sichuan University dalam layanan kesehatan. Kolaborasi ini menjadi tonggak penting, khususnya dalam pengembangan layanan neuropsikiatri di Indonesia.
Direktur Nasional Hospital, Hendera Henderi menegaskan bahwa kolaborasi internasional ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit untuk menghadirkan layanan medis berstandar global.
“Perkembangan teknologi kesehatan di China sangat pesat. Kami tidak ingin tertinggal. Dengan dukungan fasilitas yang sudah kami miliki, kini saatnya meningkatkan layanan agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental dalam satu dekade terakhir, yang menuntut inovasi dalam penanganannya.
“Gangguan mental terus meningkat. Melalui kerja sama ini, kami ingin menghadirkan solusi yang lebih komprehensif dan memberikan harapan baru bagi pasien serta keluarganya,” tambahnya.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari penguatan layanan di National Hospital Neuroscience Center, sekaligus membuka peluang pengembangan lebih luas di bidang bedah saraf fungsional di Indonesia.
Dengan pendekatan berbasis teknologi dan kerja sama multidisiplin, psikosurgeri diharapkan mampu menjadi alternatif terapi yang efektif bagi pasien dengan gangguan mental berat yang selama ini sulit ditangani melalui metode konvensional.
Salah satu prosedur yang diterapkan adalah stereotactic capsulotomy, teknik bedah saraf yang menargetkan area tertentu di otak yang berperan dalam pengaturan emosi dan perilaku.
Dokter spesialis bedah saraf dari Nasional Hospital, dr. Heri Subianto menjelaskan bahwa tindakan ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui proses seleksi ketat berbasis pendekatan multidisiplin.
“Pasien harus melalui evaluasi menyeluruh oleh tim, termasuk psikiater. Tidak semua kasus bisa langsung dilakukan tindakan. Ini adalah upaya terakhir ketika terapi obat dan pendekatan lain tidak lagi efektif,” ujarnya Kamis (23/4).
Menurut dr. Heri, psikosurgery dapat menjadi solusi bagi pasien dengan kondisi seperti depresi berat, obsessive compulsive disorder (OCD), hingga perilaku agresif yang sulit dikendalikan, termasuk pada pasien dengan gangguan jiwa berat.
“Kasus yang kami tangani sebelumnya adalah pasien dengan perilaku agresif yang tidak bisa dikontrol meski sudah mendapat terapi. Kondisi ini tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga lingkungan sekitarnya,” jelasnya.
Prosedur ini dilakukan dengan bantuan teknologi pencitraan canggih seperti MRI untuk menentukan titik intervensi secara presisi di otak. Meski relatif singkat, sekitar satu jam, tindakan ini tetap membutuhkan koordinasi intensif lintas disiplin.
“Peran kami di bedah saraf tidak bisa berdiri sendiri. Setelah tindakan, pasien tetap harus dipantau dan menjalani terapi lanjutan oleh tim psikiatri,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, dokter Wei Wang dari West China Hospital of Sichuan University mengungkapkan bahwa pengalaman menangani pasien psikosurgeri di China cukup luas, dengan rentang usia yang beragam.
“Kami terus mengembangkan pengetahuan dan berharap kerja sama ini dapat memperluas layanan serupa di negara-negara Asia, termasuk Indonesia,” pungkasnya. (nov)



