Eka, Sopir Bus Perempuan yang Menaklukkan Jalanan Surabaya

oleh -98 Dilihat
Oleh
Redaksi
Editor
Kartini jaman now, Eka sopir bus Suroboyo yang tak mau kalah dengan kaum Adam di masa kini.

KILASJATIM.COM, Surabaya – Jam masih menunjukkan pukul 03.00 WIB saat sebagian besar warga Surabaya terlelap. Namun bagi Eka Hardiyanti Suteja (35), hari sudah dimulai. Dalam gelap dini hari, ia bersiap menjalani rutinitas sebagai sopir Suroboyo Bus—profesi yang hingga kini masih didominasi laki-laki.

Sebelum pukul 04.00 WIB, Eka sudah meninggalkan rumah. Ia menuju titik awal operasional, bersiap membawa bus menyusuri jalanan Kota Pahlawan. Sekitar pukul 05.30 WIB, mesin bus mulai menyala, menandai dimulainya perjalanan panjang hari itu.

Di balik kemudi kendaraan besar itu, Eka bukan sekadar mengantar penumpang dari satu halte ke halte lain. Ia membawa cerita tentang keberanian, pilihan hidup, dan semangat perempuan yang terus bergerak melampaui batas.

Perjalanan Eka menuju profesi ini tidak instan. Ia memulai karier sebagai sopir taksi, pekerjaan yang sudah lebih dulu mengasah keterampilannya di jalan. Saat kesempatan menjadi pengemudi bus terbuka untuk perempuan, ia memutuskan mencoba.

“Awalnya hanya ingin mencoba. Ternyata diterima,” ujarnya singkat.

Bukan mobil atau minibus yang dikemudikan tiap hari tetapi big bus yang setiap hari berkeliling mengantarkan warga Surabaya dengan Suroboyo Bus

Namun, duduk di balik kemudi bus jelas berbeda. Ukuran kendaraan yang jauh lebih besar, manuver di jalanan padat, hingga tanggung jawab membawa puluhan penumpang menjadi tantangan tersendiri. Masa adaptasi pun tak mudah.

Ia harus melewati serangkaian tes dan masa pendampingan sebelum akhirnya benar-benar dipercaya mengemudi sendiri. Dari situlah kepercayaan diri mulai tumbuh.

Kini, hampir enam tahun sejak bergabung pada 2020, rasa canggung itu berganti menjadi kenyamanan. Baginya, mengemudi bus bukan lagi sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari keseharian yang ia nikmati.

“Rasanya seperti jalan-jalan, tapi dibayar,” katanya, tersenyum.

Di balik rutinitas panjang di jalan, Eka tetap menjalankan perannya sebagai ibu. Ia memiliki seorang anak yang tetap menjadi prioritas. Di sela waktu pagi yang terbatas, ia menyempatkan diri mengurus dan mengantar anak sebelum berangkat kerja.

Baca Juga :  Lomba Karya Tulis Jurnalistik Berhadiah Umroh Ala Dinas ESDM Jatim

Bagi Eka, membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan bukan hal mudah, tetapi menjadi tanggung jawab yang dijalani dengan kesadaran penuh.

Keberadaannya di balik kemudi bus kerap mengundang perhatian. Tidak sedikit penumpang yang terkejut, bahkan awalnya ragu melihat perempuan mengemudikan bus besar. Namun seiring waktu, respons itu berubah menjadi dukungan.

“Sekarang justru banyak yang menyemangati. Ada yang kasih jempol, ada juga yang bilang ingin ikut,” ujarnya.

Interaksi dengan penumpang juga memberi warna tersendiri. Ada yang sekadar menyapa, ada pula yang kemudian menjadi akrab. Hubungan yang terjalin di perjalanan membuat suasana kerja terasa lebih hangat.

Di Surabaya, jumlah sopir bus perempuan masih sangat terbatas. Eka menjadi salah satu dari sedikit perempuan yang memilih jalur ini. Namun keterbatasan itu tidak membuatnya merasa sendiri, justru menjadi motivasi.
Ia ingin membuka jalan—bahwa perempuan juga mampu berada di ruang-ruang yang selama ini dianggap bukan tempatnya.

Bagi Eka, semangat R.A. Kartini bukan sekadar simbol peringatan tahunan. Ia meyakini nilai itu hidup dalam keberanian mengambil peluang dan terus berkembang.

“Perempuan harus berani mencoba dan terus maju,” ucapnya.

Momentum Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang, ia terlihat sederhana—seperti seorang ibu yang bangun dini hari, menyalakan mesin bus, lalu menyusuri kota sambil membawa harapan.

Di balik kemudi itu, Eka tidak hanya mengantar penumpang menuju tujuan. Ia juga sedang menegaskan satu hal: bahwa jalan bagi perempuan selalu terbuka, selama ada keberanian untuk melangkah.(cit)