Direksi Borong BBCA Saat Harga Turun, Sinyal Kuat Menuju Rp10.000?

oleh -1142 Dilihat

KILASJATIM.COM, Jakarta – Di pasar saham, terdapat satu pedoman investasi yang kerap dijadikan acuan: ketika para petinggi perusahaan mulai agresif membeli sahamnya sendiri, hal itu sering kali menjadi sinyal kuat bahwa prospek ke depan dinilai cerah. Fenomena ini tengah terlihat pada saham PT Bank Central Asia Tbk di tengah fluktuasi pasar awal tahun 2026.

Alih-alih bersikap defensif, jajaran direksi dan manajemen BCA justru melakukan aksi pembelian saham dalam jumlah besar. Langkah ini dinilai sebagai strategi “buy on weakness”, yakni membeli saham berkualitas saat harganya sedang terdiskon.

Pada kuartal I 2026, sejumlah petinggi BCA tercatat menggelontorkan dana miliaran rupiah dari kantong pribadi untuk menambah kepemilikan saham. Di antaranya Hendra Lembong yang membeli saham hingga Rp7,93 miliar, Wakil Presiden Direktur John Kosasih sebesar Rp4,37 miliar, serta Vera Eve Lim senilai Rp3,84 miliar.

Selain itu, Direktur Santoso turut melakukan transaksi Rp3,46 miliar, Managing Director Frenkie Candra Kusuma mengakumulasi saham senilai Rp2,87 miliar sejak Maret 2025, serta Direktur Lianawaty Suwono yang memborong 300.000 saham senilai Rp2,1 miliar di akhir Januari 2026, saat kondisi pasar sedang bergejolak.

Aksi kolektif ini menjadi indikator bahwa pihak internal yang paling memahami kondisi fundamental perusahaan memiliki keyakinan tinggi terhadap kinerja jangka panjang BCA.

Di sisi lain, dari perspektif valuasi, saham BBCA dinilai berada pada level yang relatif murah. Pengamat pasar modal Rendy Yefta menyebutkan bahwa saat ini BBCA diperdagangkan di kisaran Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 15 kali.

Sebagai perbandingan, saham Bank Jago Tbk diperdagangkan di level PER sekitar 64 kali. Artinya, investor harus membayar valuasi lebih dari empat kali lipat untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan ARTO dibandingkan BBCA.

Baca Juga :  OJK Luncurkan Roadmap untuk Pengembangan Perbankan Indonesia

Padahal, dari sisi fundamental, BCA telah terbukti konsisten mencetak laba besar hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun, dengan jaringan kuat dan dominasi dana murah (CASA) yang tinggi. Kondisi ini dinilai membuat BBCA memiliki kemampuan pertumbuhan laba yang lebih stabil dan terukur.

Perbedaan mencolok antara valuasi dan kinerja inilah yang oleh pelaku pasar disebut sebagai fenomena “salah harga”, di mana saham dengan fundamental kuat justru dihargai relatif rendah.

Kombinasi antara aksi akumulasi manajemen dan valuasi yang rendah membuka peluang bagi saham BBCA untuk mengalami rebound dalam waktu mendatang. Jika valuasinya kembali ke kisaran historis PER 18–20 kali, maka harga saham berpotensi mengalami kenaikan signifikan.

Level harga Rp10.000 per saham dinilai sebagai target yang realistis dalam beberapa bulan ke depan, mengingat rekor harga tertinggi (all-time high) saham ini sebelumnya hampir menyentuh Rp11.000 per lembar.

Dengan fundamental yang kuat serta risiko relatif rendah, saham BBCA dinilai masih memiliki ruang kenaikan yang menarik bagi investor.

Kesempatan membeli saham perbankan terbesar di Indonesia dengan valuasi “diskon” dinilai tidak datang setiap saat. Aksi nyata dari manajemen melalui pembelian saham menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar dalam membaca arah pergerakan saham ke depan.

Kini, keputusan berada di tangan investor, apakah akan masuk saat pasar masih ragu, atau menunggu hingga harga kembali naik ke level yang lebih tinggi.(ara)