Edukasi TBC Digencarkan, RSUD Koesnadi Bondowoso Ajak Masyarakat Tak Takut Berobat

oleh -584 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Upaya menekan angka kasus Tuberkulosis (TBC) terus digencarkan di berbagai daerah. Salah satunya dilakukan RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso melalui talkshow interaktif bersama Radio Mahardika pada Kamis (16/4/2026).

Kegiatan yang dipandu penyiar Mike Rachmawati ini menghadirkan dokter spesialis paru dr. Yus Priyatna A., Sp. P. FISR sebagai narasumber. Talkshow digelar dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit menular tersebut.

Dalam pemaparannya, dr. Yus menegaskan bahwa TBC merupakan penyakit infeksi akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan dapat menular melalui udara.

“TBC bukan penyakit turunan atau hal mistis. Ini penyakit infeksi yang bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan teratur,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penularan terjadi saat penderita batuk, bersin, atau berbicara tanpa menutup mulut, sehingga percikan dahak yang mengandung kuman terhirup oleh orang lain. Risiko penularan meningkat pada individu dengan daya tahan tubuh rendah.

Gejala utama TBC ditandai dengan batuk berdahak selama dua minggu atau lebih. Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai gejala lain seperti demam berkepanjangan, batuk darah, nyeri dada, keringat malam, hingga penurunan berat badan.

“Masyarakat yang mengalami gejala tersebut sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” katanya.

Berdasarkan data World Health Organization, TBC masih menjadi salah satu dari 10 penyebab kematian tertinggi di dunia. Indonesia sendiri termasuk negara dengan beban kasus tinggi, dengan ratusan ribu kasus baru setiap tahun.

Menurut dr. Yus, kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kepadatan penduduk, lingkungan, hingga keterlambatan deteksi dan pengobatan.

Diagnosis TBC dilakukan melalui pemeriksaan dahak sebanyak dua kali, serta didukung pemeriksaan rontgen dada jika diperlukan. Sementara itu, pengobatan berlangsung dalam dua tahap, yakni tahap intensif selama 2–3 bulan dan tahap lanjutan selama 4–5 bulan.

Baca Juga :  Misi Dagang Jatim dan Papua Barat Daya Capai Transaksi Fantastis Rp506 Miliar Lebih

Ia menekankan pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Pasalnya, penghentian obat sebelum waktunya dapat menyebabkan Tuberkulosis Resisten Obat (TB-RO) yang lebih sulit disembuhkan.

Selain pengobatan, pencegahan juga menjadi kunci pengendalian TBC. Masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti menutup mulut saat batuk, menggunakan masker, tidak meludah sembarangan, mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta menjaga ventilasi rumah.

Sebagai bentuk komitmen pelayanan, RSUD Koesnadi Bondowoso menyediakan layanan penanganan TBC secara komprehensif yang dapat diakses masyarakat melalui BPJS maupun layanan umum.

Menariknya, sebelum mengisi talkshow, dr. Yus memilih bersepeda dari rumah sakit menuju studio radio sebagai bentuk ajakan sederhana kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa TBC bukan penyakit yang harus ditakuti, melainkan penyakit yang dapat disembuhkan jika ditangani dengan benar.

“Dengan deteksi dini dan pengobatan teratur, kita bisa mengendalikan TBC bersama,” pungkasnya.(wan)