Pedagang Pun Terkejut, Dampak Perang Sampai ke Kresek dan Pasar

oleh -560 Dilihat

KILASJATIM.COM, Malang – Kenaikan harga plastik menjadi bahan perbincangan pedagang di pasar. Sebagian besar mengaku tidak percaya jika perubahan harga tersebut berkaitan erat dengan perang Israel-AS  lawan Iran. Serta penutupan selat Hormuz, jalur perdagangan internasional yang berada di wilayah perairan Iran.

“Kalau yang naik harga bahan bakar, bensin dan solar itu masuk akal. Lha kok plastik, kresek juga. Kok bisa yang perang jauh di sana harga barang di sini ikut naik semua,” kata  Erni pedagang pracangan di Pasar Tawangmangu, Sabtu (11/4/2026).

Ia menyampaikan jika harga kresek dan plastik yang biasa digunakan untuk mengemas naik 100 persen. Harga kresek ukuran kecil per paknya biasa djual Rp.3 ribu sekarang naik menjadi Rp. 6 ribu. Perubahan harga jual karena penyesuaian dari harga pengambilan barang dari toko grosir. Sebelumnya harga per pak kresek kecil Rp. 2.400 ia menjual Rp. 3 ribu pada sesama pedagang dan Rp.3.500 pada pembeli umumnya. Kini harga pengambilan barang di toko grosir sudah Rp. 4.680 per pak.

Awalnya ia tidak mengetahui adanya perubahan harga, sebab stok di gudangnya cukup banyak. Sebelum bulan Ramadha ia menyimpan kresek dan plastik berlipat dari hari biasa. Namun penjualan pada bulan Ramahan ini tidak seramai tahun sebelumnya. Karena  itu ketika ada kenaikan harga kresek ia mengira hanya desas desus, tidak mungkin harganya melonjak semahal itu. Ia baru percaya setelah sesama pedagang memborong kresek di tokonya akhir Maret  lalu.

Meski terlambat mengetahu perubahan harga tersebut, ia mengaku tidak menyesal sebab masih untung jika dihitung dengan harga pengambilan waktu itu. Yang ia fikirkan, kedepannya setelah semua harga naik, apakah penjualan produk plastik akan seramai sebelumnya, mengingat kenaikan harga ini akan menjadi rentetan panjang pada pelaku usaha lain yang menggunakan pembungkus kresek dan plastik.

Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp17.475 per Dolar AS, Pasar Masih Dibayangi Ketegangan Global

“Saya juga tidak menyangkan bahan baku plastik ini dari luar negeri. Saya kira hanya plastik,  pasti buatan dalam negeri. Ternyata bahannya impor. Dan perang Iran sama israel, saya juga tidak menyangka dampaknya sampai kemari, ke pasar ini. Kalau dipikir apa hubungane perang dan pasar, dulu waktu saya kecil juga ada perang Irak-Iran. Tapi dampaknya tidak terasa seperti sekarang,” ungkapnya sambil menggelengkan kepala.

Bukan hanya produk plastik, harga kertas bungkus pun mengalami kenaikan. Untuk kertas bungkus merk Bintang Merah yang harganya paling murah diantara merk lain. Harga grosirnya sekarang Rp. 25 ribu per pak. Sebelumnya harganya hanya Rp. 17 ribu. Dengan harga jual kembali Rp. 20 ribu.

Kenaikan harga ini, cukup membuat pedagang kue dan masakan merasa keberatan. Namun tetap membelikresek sebagai pembungkus kue. Seperti kata Khotijah, penjual kue basah. Mengaku berat dengan adanya kenaikan harga ini. Tapi tidak bisa berbuat banyak. Untuk  menaikkan harga tidak mungkin, apalagi membebankan kresek pada pembeli seperti yang dilakukan toko ritel modern juga tidak mungkin.

“Ya bagaimana lagi, tidak membeli kresek tidak mungkin. Jadi keuntungan kita yang makin berkurang. Menaikkan harga jual kue juga berat, sebab penjualan tidak seramai dulu. Sekarang banyak saingan. Ya sudalah kita ikuti saja,” katanya pasrah.

Hal serupa dikeluhkan Rirma, pedagang sayur yang menggunakan kresek sebagai pembungkus merasa keberatan. Tetapi tidak ada pilihan untuk beralih menggunakan alat pembungkus lain.

“Naiknya seratus persen, tapi bagaimana lagi, kalau tidak dibungkus kresek ya sulit. Dibungkus koran, sekarang jarang orang baca koran dan harga koran bekas juga mahal. Yang jual di sini tidak ada,” kata Risma penjual sayur dan cabe.

Baca Juga :  Pedagang Pasar Baru Gresik Resah Akibat Maraknya PKL, DPRD Gresik Siap Menampung Aspirasi

Ketika ditanya apakah ia tahu penyebab kenaikan harga kresek. Ia menjawab karena perang. Itu diketahui dari anaknya yang membuka berita di hape, selain informasi dari sesama pedagang. Namun, ia masih heran jika kenaikan harga itu disebabkan karena perang antar negara yang jaraknya jauh dengan Indonesia.

“Wong atase kresek mundak karena perang. Iya kalau BBM, asalnya dari Arab sana. Tapi, ya harga minya goreng juga naik semua. Padahal negara kita menghasilkan sawit. Saya jadi bertanya sawit itu untuk apa? Kok minyak masih mahal,” ujarnya.

Sementara harga minyak goreng dipasaran turut mengejarharga kresek, untuk harga minyak umumnya Rp. 42 ribu per dua liter. Untuk beberapa brand minyak yang memiliki nama seperti Sunco, Filma dan masih banyak lagi harganya sudah diatas Rp. 45 ribu per dua liter. (TQI)

No More Posts Available.

No more pages to load.