KILASJATIM.COM, Surabaya – Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Surabaya melakukan kerjasama dengan Persatuan Orang Tua Anak dengan _Down Syndrome_ (POTADS) dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang inklusif dan berorientasi pada kebutuhan pasien khususnya anak penderita down syndrome.
MoU dilakukan Sabtu (11/4/2026) di Lobi Gedung D RSUP Surabaya ini dihadiri oleh ±300 peserta, yang terdiri dari 150 anak dengan _Down Syndrome_ beserta 150 orang tua atau wali.
Hadirnya Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Pambudi semakin mempertegas pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga komunitas masyarakat dalam mewujudkan akses layanan kesehatan yang komprehensif dan merata bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
Sementara itu, Direktur Utama RSUP Surabaya dr. Martha Muliana L. Siahaan mengatakan pertemuan ini merupakan bentuk komitmen nyata RSUP Surabaya dalam meningkatkan engagement dengan pasien maupun keluarganya.
Melalui kegiatan ini, rumah sakit dapat memperoleh masukan secara langsung, membangun ikatan emosional yang lebih kuat, dan mengoptimalkan peran rumah sakit sebagai pusat layanan rujukan yang unggul dan inklusif.
“Orang-orang dengan sindrom atau penyintas down syndrome ini mereka tidak pernah terlihat susah selalu ceria. Coba perhatikan dan dia selalu terbuka dan ramah selalu menerima kita apa adanya. Itu yang saya perhatikan ketika saya berkenalan pertama kali dengan POTADS 2022 di Rumah Sakit Premier Bintaro. Dan selalu seperti itu dimanapun kita bertemu dengan mereka kayaknya hidup ini enteng aja buat mereka,” ujarnya kepada media.
Aksi penampilan anak penderita down syndrome dalam memainkan alat musik angklung. (kilasjatim.com/nova)
dr. Martha menambahkan itu keunikan mereka dan kalaupun mereka sedih mereka cepet berlalunya habis itu dia tertawa lagi. Jadi mengapa RS Kemenkes Surabaya kali ini berkumpul bersama POTADS, yang mana tanggal 21 Maret hari down sindrom sedunia temanya yaitu bersama melawan kesepian.
“Jadi kita gak mau lihat saudara-saudara kita yang down sindrom kesepian. Ada RS Kemenkes Surabaya yang bisa diajak juga sebagai sahabat,” paparnya.
Sementara itu, Suwahyu bidang kemitraan dan pengembangan organisasi POTADS Jatim mengatakan Penandatanganan kerjasama RS Kemenkes Surabaya dengan POTADS terkait pelayanan khususnya penyandang down syndrom. Pelayanan medis maupun yang sifatnya edukasi kesehatan untuk orang tua.
“Down syndrome itu termasuk dalam kelainan genetika sejak anak lahir seperti itu. Memang kebanyakan atau biasanya penyandang syndrome saat lahir itu disertai dengan penyakit bawaan. Seperti kelainan jantung dan kelainan lain sehingga butuh terapi penanganan terapi. Terapi bicara karena biasanya anak dan juga kesulitan berbicara dan kebutuhan untuk layanan kesehatan boleh dibilang seumur hidup,” katanya.
Ditambahkan Suwahyu, ada penyakit tertentu yang biasanya bisa dicover di cover dengan fasilitas BPJS tapi ada beberapa kasus yang memang tidak tidak bisa di cover oleh BPJS. Edukasi kesehatan memang tetap dibutuhkan oleh orang tua karena dalam membesarkan anak itu menemui permasalahan.
“Masih banyak orang tua itu yang yang belum terbuka dan menutup diri tidak hanya yang di daerah di Kota Surabaya pun itu masih banyak orang tua yang menyembunyikan anaknya. Sementara penerimaan masyarakat masih ada yang percaya pada mitos yang tidak benar,” urainya.
Guna melengkapi aspek edukasi dan layanan langsung, RSUP Surabaya mengadakan sesi Health Talk yang membahas informasi medis terkini terkait Down Syndrome. Sebagai nilai tambah yang sangat bermanfaat bagi peserta, RSUP Surabaya juga menghadirkan Pojok Konsultasi terpadu.
Melalui fasilitas ini, para orang tua diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan berkonsultasi secara langsung dengan tim ahli RSUP Surabaya yang terdiri dari Dokter Spesialis Bedah Vaskuler dan Endovaskuler (BVE), Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika (DVE), Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiatri), serta Ahli Gizi.
Melalui sinergi yang berkelanjutan ini, RSUP Surabaya berharap dapat terus mendukung peningkatan kualitas hidup anak dengan Down Syndrome beserta keluarganya, sekaligus memperkuat citra rumah sakit sebagai institusi yang responsif, humanis, dan selalu mengedepankan prinsip patient-centered care.
Selain penandatanganan kesepakatan, acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan istimewa seni angklung yang dibawakan langsung oleh anak-anak dengan Down Syndrome . Penampilan seni ini difasilitasi sebagai sarana ekspresi, peningkatan kepercayaan diri, serta bentuk apresiasi terhadap bakat luar biasa yang mereka miliki. (nov)




