Industri Percetakan dan Kemasan Tertekan Dampak Geopolitik, Pelaku Usaha Cari Solusi Efisiensi di Forum GPPE 2026

oleh -484 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam sebulan terakhir mulai berdampak signifikan terhadap sektor industri di Indonesia. Salah satu yang terdampak adalah industri percetakan dan kemasan nasional yang kini menghadapi tekanan ganda.

Selain lonjakan harga bahan baku akibat gangguan rantai pasok global, industri juga dibanjiri produk impor murah yang semakin menekan daya saing pelaku usaha dalam negeri. Kondisi ini mendorong pelaku industri untuk mencari strategi efisiensi agar tetap bertahan di tengah ketidakpastian pasar.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui forum bisnis Roadshow Global Printing & Packaging Expo (GPPE) 2026 yang digelar di Surabaya. Kegiatan ini mempertemukan pemasok mesin dan bahan baku dengan para pembeli dalam skema business-to-business (B2B) yang lebih terarah.

Direktur PT Pelita Promo Internusa, Sofianto Widjaja, mengatakan forum ini dirancang untuk mempercepat pengambilan keputusan di tengah tekanan industri yang semakin ketat.

“Industri tidak punya banyak waktu. Mereka butuh solusi cepat untuk efisiensi biaya dan menjaga daya saing,” ujarnya di sela kegiatan, Senin (6/4/2026).

Sofianto menegaskan, meski situasi geopolitik global masih bergejolak, pihaknya tetap melanjutkan penyelenggaraan GPPE 2026 dan Label & Carton Box Expo 2026 yang akan digelar pada 6–9 Mei 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2 Jakarta.

Ia menyebut, target pengunjung mencapai 20 ribu orang dengan sekitar 200 peserta pameran yang akan mengisi tiga hall utama. “Tidak ada peserta yang membatalkan, semuanya masih sesuai rencana,” katanya.

Menurutnya, roadshow ini berperan sebagai jembatan antara kebutuhan industri dengan solusi teknologi yang ditawarkan pemasok. “Kami ingin mempertemukan pengambil keputusan dengan mitra yang mampu menjawab kebutuhan mereka secara cepat dan terukur,” tambahnya.

Baca Juga :  Adira Finance Catat Pertumbuhan Laba Bersih Tahun 2022 Sebesar 32 Persen

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Industri Tinta Cetak Seluruh Indonesia, Daniel Kenny, secara terbuka menyebut kondisi industri saat ini berada dalam fase “waswas”.

Ia mengungkapkan, dalam dua tahun terakhir pelaku industri harus menghadapi lonjakan harga bahan baku hingga 200 persen, sementara di sisi lain produk impor—terutama dari China—membanjiri pasar dengan harga jauh lebih murah.

“Ketimpangan regulasi juga memperparah situasi. Produk lokal harus memenuhi banyak ketentuan, sementara barang impor relatif lebih longgar. Ini membuat persaingan menjadi tidak sehat,” tegasnya.

Tekanan industri semakin kompleks dengan fluktuasi nilai tukar serta gangguan rantai pasok global yang menyebabkan harga bahan utama seperti resin dan film menjadi tidak stabil. Kondisi ini membuat keberlanjutan produksi berada dalam ketidakpastian.

Dampaknya juga dirasakan sektor hilir, khususnya industri makanan dan minuman yang menjadi pengguna utama kemasan. Penurunan daya beli masyarakat dan terganggunya pasokan bahan baku turut menekan permintaan kemasan.

“Kalau kemasan terganggu, distribusi produk ke konsumen ikut tersendat. Ini efek berantai terhadap perekonomian,” ujar Daniel.

Ia menambahkan, meski forum seperti GPPE membuka peluang kolaborasi dan akses teknologi, langkah tersebut dinilai belum cukup tanpa dukungan kebijakan pemerintah. Pengendalian impor serta stabilisasi pasokan bahan baku menjadi faktor krusial untuk menjaga keberlangsungan industri dalam negeri.

“Industri lokal saat ini benar-benar dalam kondisi tidak pasti. Hari ini bisa produksi, besok belum tentu karena bahan baku tidak tersedia,” katanya.

Pelaku industri berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi pasar domestik. Tanpa intervensi yang tepat, industri percetakan dan kemasan nasional berisiko kehilangan daya saing di pasar sendiri, bahkan sebelum mampu bersaing di tingkat global.(pur)

Baca Juga :  Potensi Bandara Doho untuk Pemberangkatan Haji, Jatim Tunggu Keputusan

No More Posts Available.

No more pages to load.