Tas Serabut Kelapa Karya Mahasiswa Ubaya Bisa Ditanam dan Tumbuhkan Bunga

oleh -215 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Empat mahasiswa Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya) menghadirkan inovasi tas ramah lingkungan berbahan serabut kelapa yang tidak hanya unik, tetapi juga dapat terurai dan ditanam hingga menumbuhkan bunga.

Mereka adalah Emily Jocelyn, Johan Febriawan, Tutik Masruroh, dan Jibrail Fajar. Produk ini dikembangkan sebagai tugas mata kuliah Sustainability Concept di bawah bimbingan Dr. Christabel Annora Paramita Parung, M.Sc.

Inovasi ini berangkat dari keprihatinan tim terhadap dampak industri mode yang dinilai berkontribusi besar terhadap limbah dan konsumsi energi. Mereka kemudian mencari alternatif bahan pengganti kulit yang lebih ramah lingkungan. “Kami akhirnya sepakat untuk menggunakan serabut kelapa. Selain karena Indonesia merupakan salah satu negara penghasil serabut kelapa terbesar di dunia, harganya juga sangat murah dan bahannya kuat. Motif dan teksturnya juga sangat unik,” ujar Johan.

Dalam prosesnya, tim melakukan berbagai eksperimen untuk menghasilkan material yang kokoh dan fleksibel. Mereka memanfaatkan campuran tepung tapioka dan air yang dimasak sebagai perekat, serta menambahkan gliserin untuk meningkatkan kelenturan.

Untuk memperkuat nilai estetika sekaligus pesan keberlanjutan, tas ini dilengkapi gantungan berisi lima jenis bibit bunga, yakni bunga matahari, celosia, anyelir, forget me not, dan baby’s breath. “Selain bahan baku, kami memastikan bahan perekatnya juga tetap ramah lingkungan. Ketika tas ini sudah rusak dan tidak dapat digunakan, tas dapat ditanam dan diuraikan secara natural oleh alam. Kemudian, bibit-bibit bunganya dapat tumbuh,” lanjut Johan.

Proses pembuatan dilakukan dengan mengoleskan perekat ke serabut kelapa yang telah dibasahi, kemudian dikeringkan secara bertahap hingga membentuk lembaran. Lembaran tersebut selanjutnya dijahit secara manual menjadi tas.
Namun, proses produksi tidak lepas dari tantangan, terutama pada tahap pengeringan yang masih bergantung pada sinar matahari. “Ketika kami mengerjakan tas ini, kebetulan sedang musim hujan. Jadi, proses pengeringannya menjadi jauh lebih lama. Tidak hanya itu, proses menjahit lembaran menjadi tas juga sangat sulit karena masih dilakukan manual dengan jahit tangan,” jelasnya.

Baca Juga :  Prof Yusak Jadi Guru Besar, Kenalkan Softbrain Engineer

Meski belum direncanakan untuk diproduksi secara massal, tim berharap inovasi ini dapat menginspirasi pelaku industri fesyen untuk lebih berani memanfaatkan bahan alternatif yang berkelanjutan. “Kita di Indonesia memiliki banyak sumber daya yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan fesyen yang ramah lingkungan sebenarnya. Tinggal inisiatif dan berani untuk melakukan eksperimen dalam pemanfaatannya,” pungkas Johan.(tok)