Urgensi Penyusunan Renkon Bengawan Solo

oleh -678 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Perubahan iklim global semakin meningkat dari tahun ke tahun, termasuk Indonesia. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia menunjukkan suhu rata-rata tahunan Nasional pada 2025 adalah 27,05 derajat Celcius.

Kondisi ini disebabkan oleh pemanasan global. Jika tidak ada efek rumah kaca, perubahan cuaca panas di wilayah tropis seperti Indonesia mungkin tidak berlebihan. Namun, karena ada energi matahari sangat besar dan efek rumah kaca, maka penyerapan ultraviolet ataupun radiasi matahari yang masuk ke bumi menjadi tertahan. Akibatnya, suhu panas tinggi timbul di sekitar area khatulistiwa ini.

Hal tersebut berdampak pada siklus air yang dapat dideteksi melalui perubahan kelembaban, tutupan awan, suhu, angin, hujan, dan penguapan. Bencana yang muncul pun seringkali berupa bencana hidrometeorologi atau yang dipengaruhi cuaca.

Di Indonesia, bencana hidrometeorologi didominasi oleh banjir atau banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, siklon tropis, kebakaran hutan dan lahan, serta kekeringan. Khusus di Provinsi Jawa Timur (Jatim), sudah 2.000 lebih bencana hidrometeorologi terjadi selama 10 tahun terakhir.

Andrie Wijaya, Ketua Tim Kerja Meteorologi BMKG Juanda Surabaya, mengatakan kenaikan suhu di Jatim saat ini mencapai 0,46 derajat Celcius per tahun. Selain itu, kenaikan muka air lautnya tercatat sekitar 1 milimeter per tahun. Proyeksi perubahan pola curah hujan untuk Jatim periode 2017 – 2100 diprediksi sekitar 5 hingga 10 persen.

“Semua itu memperparah dampak banjir rob, terutama jika terjadi bersamaan dengan hujan deras, karena air tidak bisa mengalir ke laut,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Peningkatan bencana hidrometeorologi ini mendorong Pemerintah Provinsi Jatim untuk segera memperbarui Rencana Kontinjensi (Renkon) Banjir Bengawan Solo. Semula Renkon Banjir tersebut sudah disusun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim pada 2018 dan sudah waktunya untuk ditinjau kembali dengan tambahan data-data terbaru.

Baca Juga :  Waspada Bencana Hidrometeorologi, PLN Apel Siaga Gelar Pasukan dan Peralatan

Integrasi Renkon Banjir dan AMPD

Kali ini, Jatim berupaya mengintegrasikan Renkon Banjir Bengawan Solo dengan pendekatan baru yaitu Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) atau secara global disebut Anticipatory Action (AA). Kerangka penyusunan renkon ini akan direalisasikan dalam program SIAP SIAGA, program kemitraan antara pemerintah Indonesia dan Australia, di Jatim.

AMPD merupakan pendekatan pengurangan risiko bencana (PRB) yang menghubungkan peringatan dini dengan aksi konkret yang dilakukan sebelum dampak bencana terjadi. Dengan demikian, peringatan dini tidak berhenti sebagai informasi semata, tetapi berujung pada tindakan nyata.

Dalam konteks Indonesia, AMPD masuk pada dua tahap manajemen bencana yaitu pra dan saat bencana. ‘Pra bencana’ adalah sewaktu peringatan dini dikeluarkan, serta ‘saat bencana’ yaitu waktu masuk tahap Siaga Darurat.

Hadrianus Edi Handoko dari Pokja AMPD menjelaskan, untuk mewujudkan semua itu diperlukan rencana yang sudah disepakati bersama oleh instansi terkait dalam penanganan bencana.

“Kesepakatan itu untuk mengidentifikasi mitra dan kegiatan, informasi peringatan dini yang dapat diandalkan, serta pendanaan yang telah disepakati sebelumnya,” papar Edi.

Yugyasmono, Staf Program Perkumpulan Lingkar dari Yogyakarta, menambahkan integrasi AMPD dalam Renkon Banjir adalah hal baru di Indonesia. Konteks ini lebih diarahkan sebagai bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana.

“Apakah mereka sudah siap dan siaga memastikan adanya perlindungan bagi korban bencana. Mereka lebih responsif dan antisipatif terhadap tanda-tanda atau peringatan dan informasi tentang akan munculnya bahaya,” jelas Yugyasmono pada kegiatan bersama antara Program SIAP SIAGA Jatim dan PMI Jatim di Hotel Santika Pandegiling Surabaya.

Renkon diposisikan sebagai perangkat sistematis dalam pengelolaan dan penanganan keadaan darurat di tingkat daerah. Dalam konsep AMPD, terdapat tiga pilar utama yang saling menopang, yaitu adanya peringatan dini, pelaksanaan aksi dini, dan kepastian alokasi anggaran dalam dokumen Renkon.

Baca Juga :  Pembangunan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Dikebut, Ditarget Rampung Juni 2026

Fokus integrasi AMPD dalam struktur Renkon saat ini disepakati untuk ditekankan secara khusus pada fase Siaga Darurat. Diharapkan, wawasan mendalam ini mampu meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan strategis para fasilitator serta tim penyusun Rencana Kontinjensi.(ara)

No More Posts Available.

No more pages to load.