KILASJATIM.COM, Malang – Ini tentang Bayu, pemuda yang mengalami kekerasan dan penculikan setahun lalu. Sekitar dua jam ia dijadikan samsak, diinjak, ditendang, ditampar dan ditempeleng, setelahnya dibuang di tepi jalan, tidak jauh dari sebuah warung bakso, Karangploso, Kabupaten Malang. Peristiwa itu terjadi setahun lalu, usai mengikuti aksi, demo menolak Undang-Undang TNI di Gedung DPRD Kota Malang.
Saat itu Ramadhan sepekan menjelang lebaran, tepatnya 23 Maret 2025, ia bersama dua rekannya berjalan di Jl. Pekalongan menuju Kedai Rupa Duta yang ada di ruas jalan yang sama. Kurang dari seratus meter ada mobil jenis kijang parkir di tepi jalan, mesin mobil masih menyala.
Seorang penumpang yang duduk di bangku depan memanggil. Menanyakan di mana letak jalan Bunul. Saat dijelaskan, sang sopir mengaku tidak tahu arah dan meminta Bayu menjelaskan pada penumpang lain yang duduk di bangku tengan. Masih dengan alasan sopir tidak bisa membaca google map, ia diminta melihat layer hape jalan menuju Bunul.
“Saya pun menjelaskan pada penumpang yang duduk di bangku tengah. Ada dua orang. Tanpa saya sangka penumpang dikursi depan keluar dan mendorong saya masuk ke dalam. Setelahnya mobil melaju kencang. Saya masih sempat melihat dua kawan masuk halaman kedai” katanya.
Jarak terpisah antara ia dan temanya tidak sampai semenit. Namun, keduanya tidak menyadari raibnya Bayu bersama mobil yang parkir di tepi jalan. Mereka mengira Bayu membeli rokok di toko ujung jalan tersebut. Sebab ia mengaku kehabisan rokok, sebelum ke kedai.
Selama dalam kendaraan yang melaju, ia di cecar bermacam pertanyaan. Selain identitas, alamat, statusnya mahasiswa atau pengganguran. Keterlibatanya dalam aksi tersebut sebagai apa? Apakah ia peserta aksi bayaran? Atau apapun yang berkaitan dengan demo tersebut.
Adapun empat penumpang mobil tersebut berbadan tegap dan bertubuh kekar. Nada bicaranya kasar, penuh emosi dan umpatan. Selama mengintrogasi berulang-ulang mereka menyumpainya“Ngarai susah, nyusahno wong ae poso-poso. Karepe opo arek mahasiswa iki, jancok,” begitu cerita Bayu, menirukan ucapan penculiknya.
Saat itu, ia membawa tas ransel berisi print out skripsi yang harus direvisi. Sebab sebelum berangkat demo ia melakukan bimbingan skripsi pada dosennya. Sebab itu selama ia pergi tas tersebut turut dipundaknya. Selain itu ada anjuran menggenakan ransel saat turun jalan, sebagai antisipasi pukulan petugas.
Ketika ia ditelungkupkan, badanya diinjak. Membuatnya tidak bisa bergerak. Sedang isi tasnya di keluarkan semua. Termasuk print out skripsi yang tercecer di lantai mobil. Selama itu ia berdoa agar naskah tersebut tidak dibuang atau dirobek-robek. Sebab lembaran tersebut upaya terakhirnya untuk lulus kuliah, karena orang tua dan pihak kampus telah mendesaknya. Orang tuanya mengancam tidak akan memberkkan biaya kuliah jika tahun 2025 kemarin tidak lulus kuliah. Begitu pula pihak kampus, mengancam akan mengeluarkan alias DO, bila tidak lulus di tahun tersebut.
“Kalau sampai ada apa-apa sama skripsiku. Rasanya berani gelut sampai mati. Beneran tak lawan sampai penghabisan,” ceritanya.
Sedang dalam perjalanan ia menyempatkan melihat rute perjalanan. Diantaranya dari Jl. Pekalongan mobil menuju Jl Bandung, menuju Jl. Oro-oro Dowo, belok ke kiri sempat masuk halaman Polresta Malang Kota, kemudian mobil mundur melaju di JL. Jaksa Agung Suprapto, Jl. Kaliurang, Jl. Tawangmangu di Pasar Tawangmangu sempat berhenti. Sebab salah seorang penumpang mengatakan akan mengambil barang di sebuah warung kopi.
“Saya tidak tahu isinya apa, dibungkus kresek hitam, waktu saya mendongak kepala diinjak,” ceritanya. Lantas mobil melanjutkan perjalanan ke Jl. Sarangan, belok kanan menuju arah Belimbing. Selama perjalanan ia berusaha tetap sadar, sesekali melihat tanda-tanda jalan, pohon, lampu dan papan reklame sebagai petunjuk arah. Sebab ia cukup mengenal kota ini, jika terjadi sesuatu ia bisa mengetahui akan ke mana.
Ia sempat melihat Masjid Sabillilah, ia pikir akan dibuang di terminal Arjosari. Saat kepalanya mendongak ia melihat fly over. Tapi mobil melaju lurus. Seketika berkelebat pikiran, jika mobil belok kanan tentu akan dibuang di jalan tol. Jika belok kiri, kiranya ia akan ditinggalkan di daerah Dau atau Batu. selama perjalanan itu ia masih di pukuli dan ditanya berulang-ulang tentang aksi demo sore tadi.
Selama penggeledahan, empat orang tersebut menanyakan kemana hape Bayu di sembunyikan. Karena tidak ada hape disaku dan tasnya.Dengan enteng ia menjawab “Hape saya hilang,” sementara hapenya sengaja diitinggal di kamar kos. Sejak berangkat demo, hatinya tidak enak. Ia hanya membawa sebaris kertas, bertuliskan dua nomor telepon, LBH Malang dan Fery. Kertas tersebut dilipat kecil, disimpan di saku celana terdalam.
Bayu yang teler dan penculik yang lelah. Dengan muka penuh darah ia diduduk kan di lantai mobil. Seorang menawarinya rokok. Tapi ia menolak, sebab mulutnya perih. Yang lain menyodorkan sekotak nasi kemasan berlogo MC D. ia tetap menolak. Dan laki-laki yang lelah menghajarnya, memunguti lembar kertas memasukkan kembali dalam ranselnya.
Di tepi jalanan yang lenggang dan tanah kosong. Mobil berhenti. Tubuh Bayu di dorong keluar berikut ranselnya dilempar. Tidak lupa bebera batang rokok diselipkan di suku celananya. Kontan ia berlari mencari arah terang. Seorang tukang parkir bakso Tutus menolong. Menyiram mukanya dengan air kran.
“Mas, sampean mari digendam a. Sampe koyok ngene. Sopo seng ngendam sampean? Omane samean nandi. Tak telpone keluarga samean, mangan bakso disek a? Teh panas saja kalau begitu” tukang parkir itu mencecarnya. Tapi pemuda berambut cepak itu tidak bisa menjawab, ia masih syok dengan kejadian yang barusaja dialami. Ia hanya menyerahkan lembar kertas, nomor hape kawan LBH dan Fery. Ketika menghubungi LBH Malang, kawan LBH masih di kantor polisi mendampingi sejumlah demonstran yang ditangkap. Sedang Fery masih di Batu sedang mengisi acara musik. Jadilah ia menghubungi Nino yang sedang melakukan evaluasi aksi.
Begitulah cerita Bayu yang menjadi korban penculikan. Namun ia tetap memilih tidak melaporkan kejadian tersebut pada yang berwajib, sebab ia tahu masalahnya akan panjang dan tidak terselesaikan. Ia juga khawatir keselamatan keluarganya, karena beberapa waktu sebelum diculik, beberapa kali ada telpon tidak dikenal menghubungi, ketika diangkat diam tidak ada suara. Selain itu pada saat Bayu hilang beberapa kawan medapat pesan “Hai”, “Sedang apa”, “Lagi di mana” kawan yang mendapat pesan tersebut tidak menanggapi. Mereka menilai Bayu sedang mabuk. Karena setiap mengirim kabar ia menggunakan kata Cok diawal atau di akhir pesan.
Kini ia telah lulus kuliah sambil menyembuhkan trauma. Sesekali turut hadir dalam acara diskusi soal politik, sastra dan musik. Ketika peristiwa penyerangan pada Andrie Yunus, Wakil Koordinasi Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasa (Kontras) ia menyadari betapa belum amanya negeri ini dari aksi teror.(TQI)
