KILASJATIM.COM, Surabaya – Universitas Kristen Petra (UK Petra) menjalankan program penguatan tata kelola dan digitalisasi bagi kelompok petani kopi di Malang melalui hibah sebesar AUD 25.000 dari Australia–Indonesia Institute (AII), Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan daya tawar petani kopi lokal di pasar yang lebih luas. Program yang berlangsung sejak 25 April 2025 hingga 28 Februari 2026 tersebut menyasar komunitas petani PATUWEN, yang terdiri dari tiga kelompok tani kopi dan satu kelompok tani beras di wilayah Malang.
Ketua Tim Hibah, Prof. Dr. Dra. Juniarti, M.Si., Ak., mengatakan para petani kopi lokal masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam pengelolaan usaha dan akses pasar. “Tantangan serius masih sering dihadapi para petani kopi, terutama dalam tata kelola usaha, perhitungan biaya produksi, pencatatan keuangan, serta akses pasar yang lebih luas. Produk kopi mereka sering kali berkualitas tinggi, tetapi dijual dengan harga yang belum mencerminkan nilai sebenarnya,” terang Prof. Juniarti.
Menurutnya, melalui program ini tim dosen UK Petra memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kemampuan manajerial dan pemasaran para petani. Pelatihan tersebut mencakup perhitungan biaya produksi, pelaporan keuangan digital, pemanfaatan blockchain dan e-commerce, hingga pengembangan konten pemasaran kreatif.
Program ini juga melibatkan Hariyo Priambudi Setyo Pratomo, S.T., M.Phil., Yohan Gunawan Henuk, S.E., M.M., serta Hendri Kwistianus, S.E., M.M., CMA. Para dosen tersebut memberikan pendampingan yang berfokus pada keberlanjutan usaha petani dalam jangka panjang.
Prof. Juniarti menjelaskan bahwa kelompok tani yang tergabung dalam komunitas PATUWEN berada di bawah naungan GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan). Selama ini mereka memiliki potensi produksi yang baik, namun masih terbatas dalam akses pembelajaran terkait tata kelola usaha dan pemasaran. “Melalui hibah ini kami ingin memberikan pelatihan agar para petani mampu meningkatkan kualitas pengelolaan usaha dan memperluas akses pasar mereka,” katanya.
Salah satu peserta pelatihan, Hadi Prastyowanto dari Kelompok Tani Berkah Tani Nyawiji Desa Sumberdem, mengaku program tersebut sangat membantu para petani dalam memahami pengelolaan usaha kopi secara menyeluruh. “Kami merasa sangat terbantu, khususnya dalam memahami pengelolaan kopi dari hulu ke hilir, mulai dari perawatan lahan hingga pascapanen. Pelatihan manajemen keuangan juga memudahkan kami dalam pembukuan kelompok,” ujar Hadi.
Ia juga menilai pelatihan pemasaran digital memberikan keterampilan baru bagi petani untuk memperkenalkan produk mereka secara lebih luas. “Pelatihan media sosial membekali kami keterampilan membuat konten kreatif untuk mengenalkan produk dan kearifan desa kami ke pasar yang lebih luas,” kata Hadi.
Puncak program ini ditandai dengan penyelenggaraan pameran AURUM TERRA: Pameran Kelompok Tani Kopi dan Tani Beras Sehat pada 14–15 Maret 2026 di V-Junction lantai 3, Ciputra World Surabaya. Pameran tersebut menghadirkan kelompok petani kopi, petani beras sehat, serta kelompok usaha binaan GKJW untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka peluang penjualan bagi produk lokal. “Pameran ini menghadirkan kelompok petani kopi, kelompok tani padi beras sehat, dan kelompok usaha binaan GKJW. Tujuannya memperkenalkan produk kopi dan beras sehat sekaligus membuka peluang pasar bagi produk-produk lokal berkualitas,” jelas Prof. Juniarti.
Selain pameran, kegiatan ini juga dilengkapi dengan workshop tentang teknik pengolahan kopi pascapanen serta pemahaman terhadap selera pasar. Prof. Juniarti berharap program ini dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat posisi petani kopi lokal dalam rantai nilai industri kopi nasional. “Ini bukan sekadar meningkatkan aspek teknis, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menciptakan kemandirian dan memperkuat daya tawar petani dalam industri kopi Indonesia,” pungkas Prof. Juniarti.(tok)
