KILASJATIM.COM, Surabaya – Modus penipuan melalui nomor telepon yang menyasar pengguna ponsel semakin beragam. Pelaku kerap memanfaatkan pesan WhatsApp maupun SMS dengan berbagai cara untuk menekan psikologis korban agar segera mengikuti instruksi yang diberikan.
Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Supangat M.Kom., Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA., mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap pesan mencurigakan yang datang dari nomor tidak dikenal. Menurutnya, banyak kasus penipuan terjadi karena korban terburu-buru merespons pesan tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. “Modus penipuan sekarang semakin kreatif. Pelaku sering membuat situasi seolah-olah darurat agar korban panik dan langsung mengikuti instruksi yang diberikan,” terang Supangat.
Ia menjelaskan, langkah pertama yang perlu dilakukan masyarakat adalah tidak sembarangan mengklik tautan atau mengunduh file yang dikirimkan melalui pesan singkat, terutama jika berbentuk file aplikasi. “Jangan pernah mengunduh file berformat .apk atau mengklik link dari nomor yang tidak dikenal. Itu salah satu cara yang sering digunakan pelaku untuk mengambil alih perangkat atau data korban,” jelasnya.
Selain itu, masyarakat juga disarankan memeriksa identitas nomor yang mencurigakan melalui aplikasi identifikasi nomor seperti GetContact atau Truecaller. Jika nomor tersebut banyak dilaporkan sebagai penipu, sebaiknya segera diblokir.
Supangat juga mengingatkan agar masyarakat melakukan verifikasi langsung apabila menerima pesan dari seseorang yang mengaku sebagai teman atau keluarga dalam kondisi darurat. “Jika ada yang mengaku teman atau keluarga dan meminta bantuan mendesak, sebaiknya matikan telepon lalu hubungi nomor asli mereka atau orang terdekat untuk memastikan kebenarannya,” kata Supangat. Ia menambahkan, masyarakat juga harus menjaga kerahasiaan data pribadi seperti kode OTP, PIN, maupun kata sandi.
Menurutnya, lembaga resmi seperti bank atau platform digital tidak pernah meminta data tersebut melalui pesan singkat. “Pihak resmi tidak pernah meminta kode OTP, PIN, atau password melalui pesan. Jika ada yang meminta data tersebut, hampir bisa dipastikan itu adalah upaya penipuan,” tegas Supangat yang pernah menjabat Direktur Digital Sistem Informasi (DSI) Untag Surabaya ini.
Dengan meningkatnya kasus penipuan digital, Supangat mengimbau masyarakat, apalagi di saat menjelang Hari Raya Idul Fitri, untuk selalu berhati-hati dan tidak mudah percaya terhadap pesan yang meminta data pribadi maupun transaksi mendadak.(tok)
