KILASJATIM.COM, Bondowoso – Satu tahun kepemimpinan Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, bersama Wakil Bupati As’ad Yahya Syafi’i, menunjukkan komitmen nyata dalam menurunkan risiko bencana dan memperkuat ketahanan daerah.
Berbagai langkah strategis telah dilakukan untuk mewujudkan Bondowoso yang tanggap, tangkas, dan tangguh. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga pada penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Sepanjang tahun pertama kepemimpinan, Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui BPBD mencatat pembentukan 11 Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai garda terdepan kesiapsiagaan di tingkat desa. Selain itu, telah dibentuk 4 Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) guna menanamkan budaya sadar risiko sejak dini di lingkungan sekolah.
Penguatan kapasitas juga menyasar relawan dan masyarakat. Sebanyak 10 desa mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas relawan kebencanaan, serta 100 orang mengikuti pelatihan Keluarga Tangguh Bencana. Tidak hanya itu, pemasangan 22 unit papan rambu kebencanaan dilakukan untuk memperluas edukasi dan jalur evakuasi di wilayah rawan.
Dalam aspek respons darurat, tercatat 315 kejadian bencana telah ditangani dengan cepat dan terkoordinasi. Pemerintah daerah juga menyalurkan 443 paket bantuan sembako bagi warga terdampak, serta 25 paket material untuk kerusakan ringan dan sedang.
Khusus wilayah terdampak kekeringan, dropping air bersih telah menjangkau 4.824 Kepala Keluarga (KK) sebagai bentuk kehadiran pemerintah di tengah kebutuhan dasar masyarakat.
Hasil dari berbagai intervensi tersebut menunjukkan capaian positif. Indeks Risiko Bencana (IRB) Kabupaten Bondowoso mengalami penurunan dari 106,1 menjadi 104,16. Sementara itu, Indeks Ketahanan Daerah (IKD) meningkat dari 0,62 menjadi 0,63.
Penurunan IRB dipengaruhi oleh penguatan mitigasi hidrometeorologi, perluasan Desa Tangguh Bencana, pemasangan rambu kebencanaan, serta respons cepat dan terkoordinasi saat darurat. Di sisi lain, kenaikan IKD mencerminkan meningkatnya ketahanan sosial, terjaganya stabilitas pangan, penguatan infrastruktur risiko, serta kolaborasi lintas sektor yang semakin solid.
Secara keseluruhan, capaian ini berkontribusi pada terwujudnya visi-misi kepala daerah dalam membangun resiliensi terhadap bencana dan perubahan iklim. Dengan tren positif tersebut, Bondowoso kini semakin siap menghadapi berbagai potensi risiko ke depan.
Semangat “Bondowoso Tanggap, Tangkas, Tangguh” bukan sekadar slogan, melainkan terwujud dalam kerja nyata yang dirasakan masyarakat.
Menanggapi capaian tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menegaskan bahwa hasil yang diraih selama satu tahun ini merupakan buah dari kerja kolaboratif lintas sektor serta dukungan penuh pimpinan daerah.
Menurutnya, pembentukan Desa Tangguh Bencana, peningkatan kapasitas relawan, hingga edukasi kebencanaan di sekolah merupakan investasi jangka panjang dalam membangun budaya sadar risiko di tengah masyarakat. “Kami terus memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan agar setiap potensi bencana dapat diantisipasi lebih dini. Penurunan IRB dan kenaikan IKD ini menjadi indikator bahwa arah kebijakan sudah berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Ia menambahkan, BPBD Bondowoso akan terus memperluas program pengurangan risiko bencana, memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, serta memastikan kehadiran pemerintah dirasakan masyarakat dalam setiap situasi darurat demi mewujudkan Bondowoso yang semakin tangguh.(wan)
