Gen Z Enggan Jadi Manajer, Perusahaan Hadapi Management Gap

oleh -234 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Fenomena Generasi Z yang mulai menghindari jabatan manajerial bukan sekadar tren media sosial. Sejumlah riset global mencatat gejala ini sebagai tantangan serius bagi keberlanjutan kepemimpinan perusahaan.

Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. Elsye Tandelilin, menyebut fenomena tersebut dikenal dalam literatur manajemen sebagai The Management Gap atau Conscious Uncoupling from Management. “Bagi Gen Z, menduduki jabatan manajerial bukan lagi dianggap prestasi, melainkan beban yang tidak seimbang dengan imbalan yang diterima,” jelas Elsye.

Di ruang-ruang kantor, perubahan cara pandang ini mulai terasa. Posisi manajer yang dahulu diperebutkan kini justru dihindari sebagian talenta muda. Mereka menilai tanggung jawab administratif dan tekanan target tidak selalu sepadan dengan kenaikan kompensasi.

Menurut Elsye, dalam jangka pendek kondisi ini bisa memicu kekosongan kepemimpinan, terutama di level middle manager. Angka pengunduran diri berpotensi meningkat dan mengganggu stabilitas operasional. “Lebih jauh, perusahaan bisa menghadapi krisis suksesi kepemimpinan di level atas jika tidak ada kaderisasi yang kuat,” paparnya.

Dampaknya tidak hanya pada struktur organisasi, tetapi juga finansial. Perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk rekrutmen eksternal dan pelatihan. Tanpa kehadiran manajer sebagai jembatan antara visi strategis dan eksekusi teknis, inovasi organisasi pun berisiko menurun. “Ketiadaan jembatan ini dapat menurunkan daya inovasi karena tidak ada penghubung yang efektif antara strategi dan implementasi,” ujarnya.

Tekanan juga dirasakan manajer senior yang masih bertahan. Ketergantungan berlebihan kepada mereka dapat memicu kelelahan kerja atau burnout. Jika berlangsung lama, fondasi manajerial perusahaan menjadi rapuh.

Menghadapi realitas ini, Elsye merekomendasikan pendekatan Individual Contributor atau IC. Melalui skema ini, karyawan tetap dapat berkembang dan memperoleh kompensasi berbasis kinerja tanpa harus masuk jalur manajerial. “Jangan memaksa karyawan yang kompeten menerima kenaikan jabatan hanya demi kenaikan gaji. Bangun sistem kompensasi berbasis kontribusi dan prestasi,” tegasnya.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2.918.000 per Gram, Buyback Rp2.706.000 4

Ia juga menyarankan otomatisasi pekerjaan administratif dengan dukungan teknologi, mengingat Gen Z cenderung menghindari tugas-tugas yang bersifat birokratis. Transformasi, lanjutnya, harus dimulai dari level top management. Kepemimpinan yang empatik dan terbuka menjadi kunci. “Gen Z tidak hanya ingin diperintah, tetapi juga didengar. Mereka lebih termotivasi ketika pendapatnya dianggap relevan dan diterima pimpinan,” pungkas Elsye.

Di tengah perubahan lanskap tenaga kerja, perusahaan dituntut beradaptasi. Jika tidak, management gap bukan lagi sekadar istilah akademik, melainkan risiko nyata bagi masa depan organisasi.(tok)